Selasa, 12 Desember 2017

Sabda Bina Diri (hari ke 144) Selasa, 28 November, Imamat 11:13-19

JAGA KESEHATAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Berlian yang jatuh ke dalam lumpur tidak akan pernah berubah warna atau nilainya. Mengapa? Karena ia tetap berharga!


Jijik.


Bacaan kita menjelaskan tentang: “Yang harus kamu jijikkan dari burung-burung (ay. 13)”. Jenis burung tertentu dilarang untuk dimakan dengan disebutkan namanya, tetapi tidak disebutkan alasan pelarangan tersebut. Tidak setiap jenis burung yang disebutkan dapat diketahui dengan pasti. Ini tentang cara untuk mempertahankan dan memulihkan keadaan suci menurut aturan agama Israel kuno. Peraturan itu menyangkut soal makan daging segala jenis burung (ay. 14-19) Sekalipun salah satu hasil penting dari semua peraturan ini mungkin adalah terpeliharanya kesehatan, hal tersebut tidak sama dengan menyatakan bahwa satu-satunya motivasinya adalah pemeliharaan kesehatan. Jadi hukum-hukum ini tidak dapat diuraikan berdasarkan nalar.


Di dalam semua bangsa dan agama kuno terdapat suatu perbedaan yang biasanya khas antara kesucian dan kenajisan dari makhluk, benda atau situasi tertentu. Ada yang di suatu tempat dianggap layak, di lain tempat dianggap tidak layak. Tidak ada alasan yang dikemukakan untuk pengadaan peraturan tersebut dan tampaknya tidak diperlukan alasan. Tidak banyak pembatasan yang dikemukakan di sini masih berlaku sampai sekarang, namun tetap semua peraturan tersebut layak dibaca dengan penuh perhatian serta dapat dikenali sebagai peraturan yang membantu terpeliharanya kesehatan jasmaniah Israel dan pada saat bersamaan memisahkan Israel sebagai bangsa yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain di sekitar mereka.


Halal haram.


Tidak jelas mengapa ada binatang yang halal dan binatang yang haram. Beberapa penjelasan telah diusulkan. Pertama, binatangbinatang haram adalah binatang yang memiliki cara hidup yang tidak konsisten dengan alam (misalnya: jenis binatang amfibi seperti katak yang tinggal di dua dunia, yakni air dan darat). Kedua, sebagian binatang haram juga membahayakan sehingga tidak baik untuk kesehatan manusia (misalnya: babi). Semua bangkai binatang haram akan menajiskan seseorang bila tersentuh.


Masalah haram dan halal ini berkaitan erat dengan menjaga diri murni dan tahir di hadapan Tuhan. Menjaga diri dari ketidakmurnian hidup dan berbagai hal yang tidak sehat adalah tanggung jawab setiap anak Tuhan. Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, ada berbagai gaya hidup yang tidak sesuai dengan natur gambar Allah, misalnya: pria yang berpakaian atau berdandan seperti wanita. Ada banyak makanan yang tidak sehat (jajanan modern) yang merusak tubuh kita sebagai bait Roh Kudus. Untuk itu, kita bertanggung jawab untuk menjaga diri agar tubuh dan hidup kita dapat dipakai sepenuhnya oleh Tuhan bagi kemuliaan-Nya.


DARI AIR KITA BELAJAR KETENANGAN.
DARI BATU KITA BELAJAR KETEGARAN.
DARI TANAH KITA BELAJAR KEHIDUPAN.
DARI KUPU-KUPU KITA BELAJAR MERUBAH DIRI MENJADI YANG INDAH.
DARI PADI KITA BELAJAR RENDAH HATI.
DARI MAKANAN KITA BELAJAR MENJAGA KESEHATAN.


#Salam_WOW


NOTE:
Renungan ini ditulis bersumber dari buku karangan saya dibawah ini. Tidak dijual bebas. Sila dimiliki, Saya kirimkan.
Hubungi: 0818 0888 2611 (WA/SMS)




Sabda Bina Diri (hari ke 143) Jumat, 24 November, Nehemia 13: 10-14

HAK HAMBA-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Tak pernah ada yang jatuh miskin karena banyak memberi.

Orang Lewi itu.

Ada frasa pada ayat 10: “Masing-masing lari ke ladangnya”. Maksud frasa ini adalah, sekalipun sudah bersumpah, orang-orang Lewi (dan mungkin juga banyak imam) telah dirampas hak mereka yang sah untuk memperoleh sokongan. Oleh karena itu, mereka harus meninggalkan tugas-tugas mereka di Bait Tuhan agar dapat mencari nafkah dengan cara bekerja di ladang. 

Sementara itu, frasa “Aku menyesali para penguasa” (ay. 11),  Adalah tugas dari para penguasa untuk mengawasi agar perpuluhan yang dipersembahkan oleh umat, dan jenis persembahan lainnya, disalurkan secara tetap ke Bait Tuhan. Pada ayat yang sama, maksud anak kalimat: “Kukumpulkan orang-orang Lewi itu dan kukembalikan pada tempatnya” adalah, orang-orang Lewi dikumpulkan dari desa-desa mereka dan ditempatkan kembali untuk melaksanakan tugas-tugas mereka yang sebenarnya.

Jadilah seperti Nehemia.

Latar belakang bacaan kita sebenarnya, setelah menjadi gubernur di Yudea selama 12 tahun, Nehemia kembali ke Susan. Ketika ia tidak berada di Yerusalem, bangsa Israel sedikit demi sedikit melanggar perjanjian yang mereka buat untuk melakukan semua hukum Taurat dengan sungguh-sungguh. Ketika Nehemia kembali ke Yerusalem untuk menjadi gubernur yang kedua kalinya, ia mendapati ibadah di Bait Suci tidak diadakan lagi. Para orang Lewi yang biasanya melayani di Bait Tuhan kembali bekerja di ladang untuk mendapatkan nafkah, sebab mereka tidak lagi menerima persembahan untuk mendukung kehidupan mereka.

Nehemia tidak dapat tinggal diam melihat dosa kembali menggerogoti bangsanya. Tindakan Nehemia yang penuh kemarahan merupakan manifestasi sikap Nehemia yang merindukan reformasi yang sungguh terjadi dalam kehidupan bangsanya dan ia tidak dapat berkompromi dengan dosa. Tindakan Nehemia ini mengingatkan kita akan tindakan Yesus di Bait Tuhan.

Karenanya, renungkan pesan dari bacaan kita hari ini: “Kehadiran pemimpin rohani yang berwibawa, peka terhadap dosa sekecil apa pun, berani menentang dan menghancurkan dosa, tidak kompromi terhadap dosa, berkomitmen penuh bagi pembangunan moral dan spiritual umat Tuhan, sungguh diperlukan. Berdoalah agar Tuhan memberikan kepada gereja saudara, seorang pemimpin rohani seperti Nehemia.

BATU KARANG TERKIKIS OLEH DERUAN OMBAK.
CINTA ANAK MANUSIA TERKIKIS OLEH WAKTU.
CINTA TUHAN MENGIKIS WAKTU DAN MENAHAN DERU OMBAK.






SAAT TEDUH (hari ke 142) Jumat, 17 November, Ezra 5:6-17

PENYERTAAN-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jangan hanya mengharap kemudahan di setiap hidup kita,
tapi harapkan penyertaan Tuhan di setiap kesulitan hidup kita.


Surat itu.


Bacaan kita dengan benderang menjelaskan tentang Tatnai, seorang pejabat Persia. Ia menulis surat kepada Raja Darius yang melaporkan tantangan yang diutarakannya kepada orang Yahudi serta jawaban yang mereka berikan. Tatnai meminta keputusan yang sesuai dengan ketetapan yang telah dikeluarkan oleh Raja Koresy. Surat tersebut membahas sekitar Bait Allah (ay. 8). Surat tersebut juga mengutip jawaban orang-orang Yahudi kepada Tatnai yang isinya adalah sejarah Bait Allah mereka sejak selesai dibangun pada tahun 960 sM hingga penghancurannya pada tahun 586 sM serta ketetapan yang dikeluarkan oleh Koresy untuk membangunnya kembali pada tahun 538 sM.


Sementara itu, pada ayat 16, tertulis Sesbazar meletakkan dasar rumah Allah. Ini adalah nama lain dari Zerubabel, sebab menurut pasal 3 ayat 8-10, Zerubabellah yang membangun dasar Bait Allah tersebut. Kalimat “Sejak waktu itu sampai sekarang dikerjakanlah pembangunannya”, pada ayat 8, adalah istilah Yahudi yang dipakai tidak meniadakan kemungkinan adanya penyelaan dalam pembangunan. Masalahnya adalah, tidak pernah ada perintah resmi untuk menghentikan pekerjaan pembangunan kembali tersebut sejak zaman Koresy hingga saat tersebut. Bahkan andaikata ketetapan Koresy yang asli ditemukan, dan isinya menguntungkan orang Yahudi (ay. 17). Tatnai mungkin mengharapkan bahwa Darius mengubah ketetapan tersebut, selaku pendiri dari Dinasti yang baru.


Tuhan Beserta.


Dikekinian, selayaknya kita menyadari, bahwa bacaan kita hendak berkata tentang Firman Tuhan dan perlindungan-Nya. Di tengah perlawanan banyak pihak terhadap rencana umat untuk membangun rumah Tuhan, Tuhan berfirman, bahwa apa pun perlawanan yang dihadapi, pembangunan itu harus diteruskan. Ketika para pejabat pemerintah setempat tetap melakukan usaha perlawanan, Allah memperhatikan mereka, sehingga rencana umat untuk meneruskan pembangunan rumah Tuhan tetap terlaksana karena perlindungan Allah. Konsekuensi ketaatan umat kepada Allah dan firman-Nya adalah perlindungan Allah. Orang beriman meyakini hal ini dengan melihat bahwa janji penyertaan Tuhan tidak pernah berkesudahan dalam berita Alkitab - "Aku akan menyertai engkau". Karena itu tidak ada alasan bagi orang beriman yang telah menyaksikan, menikmati, dan terlibat dalam karya besar Allah untuk meragukan Dia serta kekuasaan-Nya atas kita.


Keyakinan bahwa Tuhan yang Mahakuasa menyertai dan melindungi kita seharusnya menjadikan kita berani dan tidak gentar untuk bersaksi demi nama-Nya. Pada surat yang dikirim Tatnai kepada raja Darius, kita melihat bahwa perkataan orang Yahudi bukan hanya merupakan pembelaan diri atas tindakan mereka, tetapi juga merupakan kesaksian tentang karya Tuhan di tengah-tengah umat Israel. Mereka meninggikan nama Tuhan sebagai Allah semesta langit dan bumi, dan menyebut diri mereka sendiri sebagai hamba-hamba-Nya (ay. 11). Mereka tidak malu mengakui dosa nenek moyang mereka yang membangkitkan murka Allah dan mengakibatkan pembuangan mereka (ay. 12). Mereka menyebut Bait Suci sebagai rumah Allah. Pengakuan-pengakuan ini disertai dengan kebenaran perkara mereka merupakan kesaksian yang benar dan indah.


Oleh dan karena itu, renungkanlah hal ini: Penyertaan Tuhan telah dinyatakan melalui kedatangan Yesus Kristus. Dialah "Immanuel", yang berarti 'Allah menyertai kita'. Apakah kita sungguh menghayati Firman Tuhan ini? Bagaimana dengan kesaksian hidup kita?


BANYAK MENGELUH MENGHAMBAT BERKAT,
BANYAK BERSYUKUR MENDATANGKAN BERKAT.


#Salam_WOW


Sabda Bina Diri (hari ke 141) Rabu, 15 November, Ezra 4:6-16

FITNAH BAGI ORANG TAK JUJUR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kejujuran memang menyakitkan, tetapi tidak mematikan. Kebohongan memang menyenangkan, tetapi tidak menyembuhkan.

Tuduhan Palsu.

Bacaan kita hari ini menggambarkan betapa baru saja dasar Bait Allah diletakkan, pada saat yang bersamaan orang Israel mulai menghadapi kesulitan. Kesulitan pertama adalah godaan untuk mengkompromikan iman mereka. Ketika berhasil mengatasi masalah ini, perlawanan yang terus terang mulai dilancarkan, dan perlawanan tersebut berlanjut terus sejak zaman Koresy hingga masa pemerintahan Artahsasta. Bagian bacaan kita adalah jaman pemerintahan Ahasyweros.

Sekelompok orang melakukan fitnah. Mereka membuat ‘surat tuduhan’ (ay. 6). Di dalam bahasa Ibrani akar kata untuk tuduhan sama dengan akar kata untuk Iblis, "Sang penuduh". Musuh-musuh orang Yahudi ini menyatakan betapa mereka sangat memperhatikan kesejahteraan raja Persia. Laporan yang mereka sampaikan tentang perkembangan pembangunan kembali tembok Yerusalem (ay. 12) jelas terlalu dilebih-lebihkan, dipandang dari sudut ayat 13. Jelas ini laporan palsu.

Pada tahun 537 SM, suatu sisa dari 12 suku kembali dari pembuangan di Babilon dengan maksud membangun kembali bait Allah di Yerusalem. Pada waktu itulah ”orang Samaria”, yang sudah ada di negeri tersebut ketika orang Israel tiba dan yang digambarkan sebagai ”lawan-lawan Yehuda dan Benyamin”, mendatangi Zerubabel serta para tua-tua, dengan mengatakan, ”Biarlah kami ikut membangun bersama kamu; karena, sama seperti kamu, kami mencari Allahmu dan kepadanya kami mempersembahkan korban sejak zaman Esar-hadon, raja Asiria, yang membawa kami ke sini.” Akan tetapi, pengakuan bahwa mereka mengabdi kepada Allah ini ternyata hanya di bibir saja, karena ketika Zerubabel menolak tawaran mereka, orang-orang Samaria itu berupaya sebisa-bisanya untuk menghalangi pembangunan bait tersebut. Setelah segala upaya terpadu mereka melalui pelecehan dan intimidasi gagal, mereka kemudian menulis sepucuk surat berisi tuduhan palsu yang dikirimkan kepada kaisar Persia dan berhasil mendapatkan surat keputusan pemerintah sehingga pembangunan tersebut terhenti selama beberapa tahun.

Menolak untuk berkompromi.

Mengizinkan orang Samaria yang setengah kafir untuk berpartisipasi dalam pembangunan kembali Bait Allah, tidak hanya mengingkari identitas mereka, tetapi juga keunikan Yehuda sebagai umat pilihan Allah. Kristen modern harus mengaku bahwa hanya Yesuslah Juruselamat dunia. Penolakan untuk berkompromi dapat menimbulkan berbagai tantangan; sekalipun demikian seorang Kristen modern haruslah tetap memiliki identitas sebagai umat pilihan dan sekali-kali tidak kompromi dengan pendapat bahwa semua jalan menuju ke sorga.

Dalam dunia kerja maupun dalam pelayanan, di kekinian, kitapun kerap melakukan hal ini. Dalam rangka mencapai tujuan kita, segala cara kita lakukan, termasuk memfitnah. Berkata dusta dan memberi tuduhan palsu menjadi bagian dari gaya hidup kita. Sebagai anak-anak Tuhan, apalagi pelayan-Nya, diperlukan karakter Jujur. Bersikaplah begini: Lurus hati; tidak berbohong  tidak curang,  tulus; ikhlas; Menampilkan ketulusan dan Integritas dalam semua tindakannya. Dalam hal ini, perlakuan manipulatif, tidak akan menimbulkan kepercayaan.

Renungkanlah hal ini: “Berbagai dokumen memaparkan serangkaian percobaan yang dilakukan untuk menghalangi usaha orang-orang Yehuda dalam pembangunan kembali Bait Allah.  Jangan berharap bahwa menjalani kehidupan Kristen yang berkomitmen adalah pekerjaan mudah. Kita akan menjumpai berbagai perlawanan, namun demikian kita akan dapat mengalahkannya jika tetap setia”.

SALAH SATU SEBAB SESEORANG SULIT MENERIMA SEBUAH KEJUJURAN ADALAH KENYATAAN BAHWA KEBOHONGANLAH YANG INGIN DIA DENGARKAN.

#Salam_WOW



Sabda Bina Diri (hari ke 140) Selasa, 14 November, Ezra 3:10-13

TAK BERKESUDAHAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Bersyukurlah atas setiap masalahmu.
Sebab dibalik masalahmu,
berkat Tuhan tercurah tak berkesudahan.
.
Bersukacita sampai menangis.

Pada ayat 10 bacaan kita, dilukiskan: Tampillah para imam membawa nafiri, dan orang-orang Lewi membawa ceracap. Cara yang sama dengan yang diadakan pada saat Tabut Perjanjian dibawa memasuki Yerusalem pada zaman Daud. Secara berbalas-balasan mereka menyanyi (ay. 11), atau secara anti-fonal. Mazmur yang dinyanyikan dalam kesempatan ini menunjukkan bahwa mereka sedang bersukacita besar. Dan seluruh umat bersorak-sorak dengan nyaring. Sukacita mereka meluap-luap, sebab semua doa dan harapan mereka selama puluhan tahun ' masa pembuangan kini digenapi di depan mata mereka.


Dalam pada itu, ayat 12 dan 13 menggambarkan hal yang sama: “Tetapi banyak menangis dengan suara nyaring sedang banyak orang bersorak-sorai dengan suara nyaring karena kegirangan”. Lima puluh tahun telah berlalu sejak Bait Allah yang pertama dihancurkan, dan banyak orang lebih tua yang pernah melihat Bait Allah yang lama itu menangis karena perbedaan mencolok dalam hal ukuran dan kemegahan rancangannya. Dan betapa berbedanya pula rumah Allah ini dengan Bait Allah Kerajaan Seribu Tahun yang telah dinubuatkan oleh Yehezkiel, sangat disadari oleh orang Yahudi zaman itu. Pada saat Bait Allah yang kedua diperbaharui pada 520 sM, tetap ada sejumlah orang tua ini yang menangis lagi.


Ungkapan syukur.


Walaupun ingatan akan Tuhan dan kesetiaan manusia pasang surut, kasih setia Tuhan tak pernah berubah. Itulah kebenaran yang diakui seluruh umat Israel dengan menyanyikan nyanyian pujian dan syukur untuk merayakan pembangunan dasar rumah Tuhan (11). Dalam penderitaan dan dukacita yang telah mereka alami selama 70 tahun, membuat mereka sulit mempercayai bahwa situasi mereka dapat pulih lagi. Bukankah Tuhan yang membuang mereka dari tanah perjanjian itu? Namun saat ini mereka menyadari bahwa kasih setia-Nya tetap sama. Perasaan kita pun cenderung pasang-surut tergantung situasi. Apa yang dapat kita pelajari dari firman ini agar tidak diombang-ambingkan pada saat ditimpa kesulitan?


Peletakan fondasi Bait Allah dirayakan bangsa Yehuda yang pulang. "Seluruh umat bersorak-sorai dengan suara nyaring" merefleksikan gegap gempita yang biasa dilakukan, untuk menyatakan kesedihan atau sukacita di negara Timur Tengah. Generasi tua menangis karena mengingat kemegahan Bait Allah yang sama. Sedangkan generasi muda begitu bergembira melihat prospek yang ada di depan mereka. Marilah kita tanamkan sikap menatap ke depan, mengharapkan apa yang akan Allah lakukan di hari mendatang, janganlah tenggelam dalam masa lalu betapa pun gemilangnya.


Saudara seorang pemimpin? Bacaan kita mengajarkan, bahwa: Seorang Pemimpin Gereja hendaknya memiliki Karakter Bersyukur dalam dirinya. Karakter Bersyukur adalah: Bersikap pengucapan syukur, berterima kasih, memimpin dalam penuh pujian kepada Tuhan. Seluruh kehidupan kepemimpinannya adalah bentuk pengucapan syukur semata. Karena sebagai anak Tuhan yang diberi tugas memimpin, Ia adalah orang yang sudah diurapi dan memegang kendali kepemimpinan Gereja, selayaknya memimpin dengan ‘BERSYUKUR’.


RAHMAT TUHAN YANG SELALU BARU SETIAP HARI HARUS MEMBUAT KITA TERUS BELAJAR SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MENGERTI APA YANG TUHAN MAU BAGI HIDUP KITA.


#Salam_WOW

NOTE:
Renungan ini ditulis bersumber dari buku karangan saya dibawah ini. Tidak dijual bebas. Sila pesan. Saya kirimkan. 
Kontak: 0818 0888 2611 (WA/SMS)





Sabtu, 04 November 2017

Sabda Bina Diri, (hari ke 130) Minggu, 5 November, Hagai 1:1-11


RUMAH PRIBADI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Tanda penyertaan Tuhan dalam hidup kita
adalah hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Bait Allah yang terabaikan.

Bacaan kita hari ini melukiskan Tuhan berfirman dengan perantaraan Hagai (ay. 1). Bangsa Israel mengatakan, belum tiba waktunya membangun rumah Tuhan. Ini adalah alasan yang disampaikan oleh bangsa ini supaya tidak membangun kembali Bait Allah (ay, 2). Menurut cara berpikir mereka, waktunya belum tepat. Sebenarnya, akar kesulitannya ada pada mereka, bukan pada keadaan di luar atau faktor waktu. Alasannya sudah jelas, mereka bukan menyatakan bahwa pekerjaan itu tidak boleh dilaksanakan, melainkan bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk melaksanakannya.

Tetapi pada ayat 3-4, tertulis, Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu? Hagai bertanya kepada para pemuka apakah waktunya tidak menguntungkan hanya jika menyangkut hal-hal mengenai Allah. Aktivitas mereka dalam urusan pribadi (seperti membangun rumah) memberi kesan yang sama sekali berbeda. Alangkah berlawanan Bait Allah yang terpencil dan tersia-siakan bersebelahan dengan tempat tinggal pribadi yang penuh hiasan dari orang-orang buangan yang sudah kembali! Pertanyaan sang nabi, yang disampaikan dengan bagus sekali, menunjukkan secara gamblang sikap acuh tak acuh, sifat egois, dan ketidaktaatan bangsa itu. Rumah-rumahmu yang dipapani (ay. 4), Ini adalah rumah yang diberi hiasan papan, diperlengkapi secara menyeluruh. Pembingkaian dinding dengan kayu aras bisa ditemukan di istana-istana raja. Karena kayu-kayu mahal tidak biasa ada di Yehuda, maka penggunaan kayu-kayu tersebut merupakan pertanda kemewahan.

Panitia pembangunan rumah pribadi.

Belajar dari bacaan kita, begitupun kita hari ini, ada banyak pejabat gereja yang berkonsentrasi penuh membangun rumah pribadinya dengan alasan akan pensiun, sementara pembangunan Gereja menjadi tertunda atau sama sekali tak tersentuh. Bahkan, pembangunan rumah pribadi dibantu dengan pembentukan panitia khusus. Akibatnya, pembangunan Gereja terabaikan.

Orang Yehuda yang pertama kali tiba di Yerusalem segera berupaya membangun kembali rumah Allah. Mereka berhasil meletakkan fondasi, namun halangan, masalah, dan kesulitan tak kunjung habis. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa saatnya tidak tepat untuk membangun rumah Allah. Mereka tidak lagi beriman bahwa mereka harus menyelesaikan pembangunan, sehingga mereka tidak lagi memprioritaskan pembangunan rumah Allah.

Apakah dengan memprioritaskan Allah secara otomatis hidup Kristen berkelimpahan? Inilah prinsip Yehuda. Memang, keadaan mereka disebabkan karena mereka mengesampingkan Allah. Namun kehidupan Kristen bukanlah prinsip matematika yang selalu dapat diketahui hasilnya dengan pasti. Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Dia berhak memberi dan menahan berkat. Jika kita mengesampingkan Dia dan gagal memberikan prioritas yang menjadi milik-Nya, berarti kita telah meninggalkan suatu sumber yang sangat vital bagi kehidupan dan keberhasilan kita.

Membangun rumah pribadi tidak salah. Tak bermasalah. Sah-sah saja. Tetapi karena hal itu, lalu pembangunan rohani maupun fisik Gereja terabaikan, itu yang menjadi masalah
Bagi pejabat Gereja yang sibuk membangun rumah bagi dirinya sendiri, renungkanlah hal ini: “Dibutuhkan ketetapan hati untuk memilih dan menempatkan prioritas dalam kehidupan Kristen. Prioritas itu sudah ada, yaitu Allah, Sang Sumber berkat. Tetapkanlah hati untuk setia memprioritaskan Allah dalam segala keberadaan kita”.

JADI, DALAM MENGHADAPI SEGALA HAL, TUJUKAN HARAPAN PADA TUHAN KARNA SUMBER PERTOLONGAN DATANG DARI TUHAN.

#Salam_WOW

Note:
Sumber renungan ini adalah buku karangan saya dibawah ini.
Tidak dijual bebas. Bisa pesan pada saya. Terima kasih.


Kamis, 02 November 2017

Sabda Bina Diri (hari ke 138) Minggu, 12 November, Ezra 2:59-63


ZONA NYAMAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Hidup adalah perjuangan yang penuh resiko dan tidak boleh berhenti.
Semakin berjuang semakin banyak lagi yang harus di bayar mahal.

Dipulihkan untuk memulihkan.

Kitab Ezra mencatat pemulihan orang Yahudi setelah 70 tahun pembuangan dengan membawa mereka kembali ke tanah air mereka. Pemulihan kaum sisa buangan, terjadi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (538 SM) 50.000 orang kembali di bawah pimpinan Zerubabel dan; pada tahap kedua (457 SM) lebih dari 1.700 orang laki-laki (tambah wanita dan anak-anak, berjumlah 5.000-10.000 orang Yahudi) berangkat pulang di bawah pimpinan Ezra; dan pada tahap ketiga (444 SM) Nehemia memimpin kelompok lain lagi. Perhatikan bahwa rombongan pertama pada tahun 538 kembali ke Yerusalem sekitar 70 tahun setelah pengangkutan pertama ke dalam pembuangan. Sekitar dua tahun setelah kerajaan Babel dikalahkan dan diganti kerajaan Persia (539 SM), dimulailah pengembalian orang Yahudi ke tanah air mereka. Kitab Ezra mencatat tahap pertama dan kedua dari pemulihan itu, yang melibatkan tiga raja Persia: Koresy, Darius, dan Artahsasta.

Sementara itu, bacaan kita menyebutkan: “Adanya tiga keluarga rakyat biasa (ay. 59-60) dan tiga keluarga imam (ay. 61-62) yang tidak jelas asal-usulnya sehingga secara resmi mereka tidak diikutsertakan sekalipun diizinkan untuk ikut pulang bersama dengan orang-orang Yahudi lainnya di dalam perjalanan itu. Dalam pada itu, penyebutan ‘Kepala daerah’, pada ayat 63, mengacu kepada gubernur, yaitu Zerubabel.  Urim dan Tumim pada ayat yang sama, disebutkan sebagai bagian dari jubah resmi seorang imam besar. Urim dan Tumim dipakai dengan cara tertentu untuk mengetahui kehendak Allah. Harapan sungguh-sungguh Zerubabel (dan juga harapan semua orang Yahudi yang saleh) agar keadaan yang menyedihkan tersebut tidak berlanjut secara berkepanjangan, tentu tidak terpenuhi, dan persoalan enam keluarga ini tidak terpecahkan.

Kenikmatan, kemapanan dan kenyamanan.

Orang Yahudi mau tetap tinggal di Babilonia karena mereka sudah berhasil dalam perdagangan dan usaha mereka. Dengan kata lain, "buat apa kembali ke Yerusalem, negeri yang membutuhkan waktu lama untuk dibangun kembali, bila sudah memiliki kehidupan yang mapan di negeri orang?" Karena itu hanya orang-orang yang digerakkan hatinya oleh Allah yang berkomitmen untuk kembali. Mungkin yang tinggal, menganggap keputusan yang mereka ambil adalah tepat, karena faktor kenyamanan; tetapi nama mereka tidak dicantumkan dalam firman Allah. Sebaliknya, mereka yang kembali ke Yerusalem mendapatkan berkat yang tidak dapat dinilai dengan uang dan harta, yaitu nama mereka tercantum dalam firman Allah dan menyaksikan pembangunan kembali Bait Allah. Manakah yang kita pilih?

Mengapa mereka memilih untuk tetap tinggal di Babilonia? Kenikmatan dan kemapanan sering menutup hati dan mata terhadap pimpinan Tuhan. Biarlah hati kita selalu terbuka terhadap pimpinan Tuhan, sehingga apabila Ia memanggil dan menggerakkan hati untuk melakukan pekerjaan dan kehendak-Nya, maka dengan penuh kerelaan kita meresponinya.

Gereja kita baru saja usai pesta gerejawi (baca: organisasi), Pilpres. Ini bukan pemilihan presiden. Ini adalah pemilihan presbiter. Ada banyak kekecewaan, ada banyak sungut dan gerutu. Kenapa saya sudah lebih empat periode, kok masih tetap Diaken? Mengapa saya sudah Penatua kok bisa ‘turun’ menjadi Diaken. Bahkan ada Presbiter yang sudah waktunya berhenti, tapi masih minta perpanjangan waktu. Jawabnya sama seperti orang Yahudi yang sudah nyaman tinggal di Babilonia. Mereka yang sudah nyaman disuatu titik akan tidak mau meninggalkan titik nyaman itu. Atau karena tidak nyaman di titik Diaken ingin nyaman di titik Penatua.

Memang, ibarat bahtera, pelayanan kita terasa nyaman bila berada di dermaga.  Tapi bukan untuk itu maksud bahtera dibuat. Bahtera pelayanan kita haruslah menjelajah, berpetualang sepanjang perjalanan. Jangan nyaman di dermaga. Tempuhlah resiko, agar kelak pelayanan kita  mewariskan warna warni  indah.

Renungkan pesan ini: Bukalah hati dan persilakan Tuhan menggenapkan rencana-Nya 
melalui kita. Apapun jabatan gerejawi kita. Bahkan, sekalipun tanpa jabatan itu.

DALAM TIAP KELELAHAN, DIA BERIKAN SANDARAN. 
DALAM TIAP KELEMAHAN, DIA BERIKAN KEKUATAN. 
DALAM TIAP KESULITAN, DIA BERIKAN PENGHARAPAN. 
DALAM TIAP DOA, PASTI ADA JAWABAN.

#Salam_WOW
 


Note:
Sumber renungan ini adalah Buku saya dibawah ini:
Tidak dijual bebas. Pesan langsung ke saya.

Terima kasih.