Jumat, 23 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 217) Sabtu, 24 Maret 2018, Mazmur 136:23-26

MEMUJI KARYA BESAR-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Terima kasih Tuhan, kasih setia-Mu
yang melampaui segala perkara
Telah memelihara hidup ini.


Pemelihara Agung
Bacaan kita gamblang menyatakan dirayakannya kasih setia Allah dalam penebusan gereja-Nya (ay. 23-24). Dalam banyak penebusan yang dilakukan bagi gereja bangsa Yahudi dari tangan para penindas mereka,yaitu ketika mereka ada pada masa-masa perhambaan dan dalam keadaan yang begitu hina, Allah mengingat mereka dan membangkitkan para juru selamat, para hakim, dan pada akhirnya Daud.

Dalam pada itu, pemeliharaan yang dilakukan-Nya bagi segala makhluk ciptaan (ay. 25), Allah memberikan roti kepada segala makhluk. Inilah contoh kasih setia pemeliharaan Allah, yaitu Dia selalu mencukupkan makanan di mana pun Ia menciptakan kehidupan. Dia adalah pengelola rumah tangga yang begitu cakap memelihara keluarga yang begitu besar.

Dalam segala kemuliaan dan pemberian-Nya, pemazmur bersyukur kepada Allah semesta langit. Hal ini menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang mulia, dan kemuliaan kasih setia-Nya haruslah dijadikan inti dari pujian kita (ay. 26). Kekayaan kemuliaan-Nya dinyatakan dalam benda-benda belas kasihan-Nya. Hal itu juga menunjukkan bahwa Dia merupakan seorang pemelihara yang agung, sebab setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, dari Bapa terang, Allah semesta langit.

Terpancar dari sumber-Nya
Di kekinian hari ini, kita memiliki alasan yang kuat untuk berkata, “Dia mengingat kita, anak-anak manusia, dalam kerendahan kita, dalam keadaan kita yang sedang tersesat, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Dia mengirim anak-Nya untuk menebus kita dari dosa, maut dan neraka, serta semua musuh rohani kita, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Kita harus menelusuri setiap aliran ke sumbernya. Kasih setia yang lain mungkin bertahan untuk sementara waktu saja, tetapi kasih setia yang terdapat di dalam diri Tuhan berlangsung untuk selama-lamanya. Kasih itu terpancar dari sumber yang tidak akan pernah habis.

Kalau kita perhatikan, kebanyakan lagu-lagu pujian yang lahir sekarang ini lebih menekankan aspek hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan. Lagu-lagu semacam itu makin sering saja dinyanyikan dalam ibadah jemaat. Ini bukan hal yang sepenuhnya salah tetapi harus diperkaya dengan penghayatan yang alkitabiah. Dari mazmur ini, kiranya kita belajar untuk memuji karya besar Allah dan kasih-Nya pada umat-Nya, sebagai sekelompok orang percaya.

Memuji Tuhan, bukan hanya sebagai seorang pribadi atau atas nama pribadi, tetapi sebagai jemaat Tuhan, sebagai komunitas orang percaya yang bersama-sama mengalami kemurahan-Nya.

JANGAN MENUNGGU BERKAT BARU MEMUJI-NYA.
PUJILAH DIA MAKA BERKAT AKAN BERKELIMPAHAN.

#Salam_WOW



Kamis, 22 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 216) Jumat, 23 Maret 2018, Mazmur 136:7-13

KASIH SETIA-NYA BERLANGSUNG SELAMA-LAMANYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th


Menyanyilah selagi bisa.
Menyanyilah selagi masih bernafas.
Menyanyilah selama-lamanya.


Khas berulang
Dari tujuh ayat bacaan kita hari ini ada sesuatu yang khas. Setengah bagian terakhir dari setiap ayat selalu diulang di sepanjang mazmur ini, yaitu, “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Walau demikian, pengulangan itu bukannya nir makna. Bagian yang diulang tersebut merupakan inti, dan pengulangannya menambah keindahan mazmur ini dan membuatnya semakin hidup dan menggugah hati.

Ada sedikitnya tiga hal yang kita garis bawahi dari bacaan kita ini: 1) Bahwa kasih setia Allah terhadap umat-Nya selalu diulang-ulang, terus berlangsung dari awal sampai akhir, selalu maju dan berlanjut tanpa batas;

2) Bahwa di dalam setiap kebaikan, kita harus mengamati kasih setia Allah. Begitu pula ketika kita menerima kebaikan itu, kita harus mengamati kasih setia Allah dan menyadari bahwa kasih setia-Nya itu selalu ada dan tidak berubah untuk selama-lamanya, melainkan selalu tetap sama.

3) Bahwa keberlangsungan kasih setia Allah untuk selama-lamanya itu adalah kehormatan-Nya sendiri dan atas kasih setia-Nya itulah Ia memuliakan diri-Nya. Itulah juga yang menjadi penghiburan para orang kudus, dan atasnyalah mereka bersuka.


Gemar bernyanyi
Hati kita haruslah dipenuhi oleh kasih setia itu dan tergerak olehnya, sehingga ketika kita mengulang-ulang kalimat itu akan menggugah hati kita dan bukannya membuat kita muak. Sebab kasih setia itu akan menjadi dasar pujian kita untuk selama-lamanya.

Kalimat yang indah ini, yaitu “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Allah”, ditinggikan di atas segala kebenaran lain mengenai Tuhan, bukan hanya karena pengulangannya saja, tetapi juga karena tanda-tanda penerimaan ilahi yang menunjukkan perkenan Tuhan akan nyanyian itu. Hal itu haruslah membuat kita gemar menyanyikan, “Kasih setia-Nya masih tetap berlangsung, untuk selama-lamanya.” Kita harus memuji Tuhan.

SEMOGA MULUTKU BERNYANYI DAN MEMUJI ENGKAU,
DAN BIBIRKU BERSORAK BERMADAH KEPADA-MU.

#Salam_WOW





NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 160 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 55.000 (+Ongkir).

Selasa, 20 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 214) Rabu, 21 Maret 2018, Mazmur 77:12-21

PUJILAH TUHAN HAI SEGALA YANG BERNAFAS
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Pujilah DIA dengan segala perkataan dan perbuatan
kita yang dipenuhi dengan Roh Kebenaran!

Samudera raya gemetar
Bacaan kita hari ini, menegaskan bahwa pemazmur hendak mengingat apa yang telah diperbuat Tuhan bagi umat-Nya. Pemazmur menyimpulkan bahwa keadaan yang gelap pada saat itu akan berakhir dengan bahagia (ay. 12-13). Bahwa jalan Allah adalah kudus (ay. 14), maka baiklah kita merasa yakin saja bahwa Allah itu kudus dalam segala perbuatan-Nya, bahwa semua perbuatan-Nya itu layak dikerjakan-Nya dan sesuai dengan kemurnian serta kelurusan sifat-Nya yang kekal.

Dibagian lain, pemazmur berseru: “Engkaulah Allah yang melakukan sendiri keajaiban, yang mengatasi kekuatan makhluk mana pun. Engkau telah menyatakan, secara kasat mata, dan tanpa bisa dibantah, kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.” Apa yang telah diperbuat Tuhan bagi jemaat-Nya merupakan penyataan umum akan kemahakuasaan-Nya, sebab dalam hal itu Ia dengan jelas telah menunjukkan lengan-Nya yang kekal.

Kemudian daripada itu, Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya dengan membelah Laut Teberau di hadapan mereka. Airmemberi jalan, dan sebuah lorong pun segera terbentuk bagi rombongan itu, seolah-olah mereka melihat Allah sendiri sebagai kepala pasukan Israel, dan mundur karena takut pada-Nya. Bukan hanya permukaan air tetapi juga bahkan samudera raya gemetar (ay. 17), dan melebar ke kanan dan ke kiri, dalam kepatuhan terhadap perintah-Nya.

Pujilah Tuhan hai jiwaku
Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, "Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati."

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air. Ia mendadak gelisah. Ikan kecil itu ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, "Hai, tahukah kamu di mana air itu? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati."

Ternyata semua ikan tidak mengetahui di mana air itu. Si ikan kecil makin gelisah, ia terus berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman. Kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, "Di manakah air?" Jawab ikan sepuh, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya."

Kita, kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil. Mencari kebahagiaan kesana kemari, padahal kita sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan mungkin sedang melingkupi kita sampai-sampai kita tak menyadarinya.

Saat kita menghitung hal-hal buruk, kita hanya akan melihat hal-hal yang buruk di sekeliling kita. Tapi ketika kita menghitung berkat, kita akan melihat berkat-berkatNya itu nyata dan ada di sekeliling kita. Karenanya, atas berkat yang telah kita terima, pujilah Tuhan hai segala yang bernafas. Disini, kini dan selamanya.

SEPERTI RUSA MERINDUKAN SUNGAI BERAIR,
DEMIKIANLAH JIWAKU MERINDUKAN ENGKAU, YA TUHAN.






NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 160 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 55.000 (+Ongkir).

Sabda Bina Diri (Hari ke 221) Rabu, 28 Maret 2018, Markus 14:10-11


RANCANGAN KEJAHATAN BERUJUNG PENGKHIANATAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Berbuat salah itu manusiawi.
Berbuat pura-pura itu khianat.


Sebuah pengkhianatan
Saat ini kita memasuki hari-hari jelang kematian-Nya. Bacaan kita hari ini hanya dua ayat, dimana mengisahkan tentang kesepakatan yang dibuat Yudas dengan imam-imam kepala untuk menyerahkan DIA.

 Yudas, yang menjadi musuh dalam selimut bagi-Nya, bersepakat dengan para imam untuk menyerahkan Yesus (ay. 10-11). Ia disebut sebagai salah satu dari dua belas murid Kristus, yang akrab dengan-Nya dan dilatih untuk melayani kerajaan sorga. Lalu pergilah ia kepada imam-imam kepala dengan maksud menawarkan jasanya untuk menyerahkan Yesus.

Apa yang diusulkan Judas adalah untuk mengkhianati Kristus kepada para imam dengan memberi tahu mereka kapan dan di mana mereka dapat menemukan dan menangkap Yesus tanpa menimbulkan keributan di antara rakyat. Hal itu mereka takutkan akan terjadi jika mereka menangkap Yesus saat Yesus tampil di depan umum, di tengah-tengah para pengikut-Nya.

Yang Yudas rencanakan bagi dirinya sendiri adalah menerima sejumlah uang melalui penawaran ini. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan, ketika mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya.

Tiga puluh keping perak
Sama seperti Yudas yang dituntun Iblis untuk menuntun para imam, yang berencana menangkap Yesus, di kekinianpun kita melakukan hal yang sama. Roh iblis yang bekerja di dalam diri pelayan Tuhan yang tidak patuh, tahu bagaimana caranya untuk membawa para pelayan Tuhan tersebut untuk saling membantu di dalam merancang kejahatan, dan kemudian mengeraskan hati mereka terhadap kejahatan itu dengan impian bahwa Tuhan menyertai mereka.

Bila dasar pengakuan iman seseorang bersifat material dan hanya untuk “30 keping perak” saja , maka di kemudian hari ketika arah angin berubah, ketika engkau telah pensiun menjadi hamba Tuhan, misalnya, maka dasar yang sama ini akan menjadi akar pahit bagi terciptanya moral yang rendah dan penyangkalan iman.

Betapa jahatnya tipu muslihat yang ada dalam diri orang yang mengejar-ngejar keinginan dosa mereka supaya rancangan kejahatan mereka itu bisa terwujud dengan pengkhianatan. Tetapi ketahuilah, pada akhirnya, pengkhianatan dan rancangan kejahatan ini juga yang akan menghancurkan engkau nantinya.


DAMPAK PERILAKUMU TAK SEMANIS YANG ENGKAU BAYANGKAN.
BERHENTILAH MERANCANG KEJAHATAN!
BERHENTILAH BERKHIANAT!

#Salam_WOW




NOTE:

Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 268 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 65.000 (+Ongkir).

Senin, 19 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 213) Selasa, 20 Maret 2018, Mazmur 74:18-23

PASRAH SEMPURNA NIKMAT PENUH
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Pasrahkan secara sempurna pergumulan hidupmu pada DIA.
Niscaya jalan panjang hidupmu terasa nikmat penuh.


Terang-terangan menghujat
Bacaan kita hari ini mau mengatakan kepada kita sekalian, bagaimana sang pemazmur dengan sungguh hati memohon supaya Allah tampil bagi mereka untuk melawan musuh mereka, dan mengakhiri masa kesesakan mereka itu.

Ayat 18 menggambarkan, bahwa para penganiaya itu merupakan musuh bebuyutan Allah. Apa yang para penganiaya perbuat terhadap kami, pada dasarnya sama saja dengan berbuat terhadap Engkau. Tetapi bukan hanya itu saja. Mereka juga telah mencela-Mu dengan terang-terangan, dan menista nama-Mu.

Ayat 23 pun menggambarkan permohonan itu: “Lihatlah kelancangan para penganiaya itu, mereka bahkan tidak menyembunyikan pikiran busuk mereka di dalam hati saja, tetapi mengumandangkannya keras-keras.  Jadi dengan begitu mereka terang-terangan menentang keadilan ilahi. Mereka bangkit melawan Engkau, dan dengan penghujatan mereka itu, mereka mengobarkan perang dan menantang Yang Mahakuasa”.

Angkatlah hatimu
Dalam pergumulan hidup yang berat, tanpa sadar kita bersikap sama seperti pemazmur. Mengeluh dan mengadu. Bila itu saja tentu dapat diterima. Tetapi bila menuduh Tuhan berdiam diri membiarkan kita sendiri dalam pergumulan itu, benarkah? Tatkala gereja dibakar dan kristen dianiaya, tidak sedikit dari orang Kristen yang berteriak dalam doa. Namun janganlah isi doa kita seolah mau menuduh Tuhan atau menjadi pahlawan bagi Tuhan dengan bertindak sebagai pembela nama dan kehormatan Tuhan.

Benarkah sikap demikian? Siapakah kita sehingga kita mau menjadi penasehat Tuhan? Dalam pergumulan hidup bawalah dengan tulus seluruh pergumulan Anda tanpa mendikte Tuhan. Biarlah Allah akan bertindak sendiri sebagai pahlawan kita. Sebaiknya kita  merenungkan ulang mengingat sejarah perbuatan Tuhan atas kita, sejak kecil sampai kita dewasa hari ini.

Bukankah sejarah hidup kita memperlihat jelas kisah perbuatan dahsyat Allah? Angkatlah hati kita pasrah kepada Tuhan, kita yakin bahwa Tuhan sendiri bertindak demi kehendak dan nama-Nya atas hidup kita. Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita. Angkatlah hati kepada Tuhan agar perkara yang kita pasrahkan kepada-Nya, diurus dan diselesaikan-Nya. Jangan sekali-kali bertindak menurut batas budi dan daya kita sendiri!

Hendaknya kita berdoa, begini: “Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Kuyakin bahwa hal-hal di bumiku ini sedang Kau urus agar merupakan wujud KerajaanMu”. 

KERJAKAN BAGIAN KITA DENGAN SETIA.
MAKA DIA AKAN MENGERJAKAN BAGIAN-NYA DENGAN SEMPURNA.


#Salam_WOW





NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 160 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 65.000 (+Ongkir).

Sabtu, 17 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 211) Minggu, 18 Maret 2018, Mazmur 66:1-7



MENGHIBUR BERMANFAAT BERKUASA
Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th
Karena kuasa-nya yang besar,
Tuhan sangat layak menerima pujian syukur kita.
Bernyanyi dengan gembira
Bacaan kita hari ini menegaskan sang pemazmur yang berseru kepada semua orang untuk memuji Allah, kepada seluruh negeri, seluruh bumi, seluruh penduduk dunia yang mempunyai kemampuan untuk memuji Allah (ay. 1). Umatnya diminta untuk bernyanyi dengan gembira, dan memazmurkan kemuliaan nama-Nya, demi membangun orang lain. Kemuliaan ini adalah kemuliaan segala hal yang dipakai-Nya untuk menyatakan diri-Nya. Apa yang mendatangkan kehormatan bagi nama Allah haruslah menjadi pokok pujian kita (ay. 2).
Sementara itu, pada ayat 3, Pemazmur kembali berseru: “Katakanlah kepada Allah, betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu! Pekerjaan-pekerjaan Allah itu memang ajaib, dan merupakan pekerjaan yang, apabila dipandang dengan benar, sudah sewajarnya membuat kita terkagum-kagum. Allah itu dahsyat dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya, melalui kebesaran kuasa-Nya yang sedemikian rupa, dan bersinar dengan begitu terang, begitu kuat, dalam semua perbuatan-Nya, sehingga tepatlah untuk mengatakan bahwa tidak ada pekerjaan lain seperti apa yang dikerjakan-Nya.
Pekerjaan-pekerjaan-Nya itu menghibur dan bermanfaat bagi umat-Nya. Ketika Israel keluar dari Mesir, Ia mengubah laut menjadi tanah kering di hadapan mereka, yang mendorong mereka untuk mengikuti bimbingan Allah melalui padang gurun. Dan, ketika mereka hendak memasuki tanah Kanaan, untuk mendorong semangat mereka dalam berperang, air sungai Yordan terbelah di hadapan mereka, dan mereka berjalan kaki menyeberangi sungai (ay. 6). Pekerjaan-pekerjaan-Nya itu berkuasa atas semua. Allah dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya mempertahankan kekuasaan-Nya di dunia. Dia memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, dan mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa (ay. 7).
Pujian syukur
Hari-hari belakangan ini, pekerjaan dan pelayanan kita seakan menjadi rutinitas yang hambar. Bagaimana mau memuji Tuhan kalau segalanya terasa sumpek. Bahkan Pelayanan, kesaksian dan persekutuan kita penuh dengan intrik, cobaan, kepura-puraan dan manipulasi. Seakan berjalan dalam gelap.
Saya teringat pada burung Bulbul. Burung ini mengherankan saya. Burung ini terus bernyanyi setelah matahari terbenam. Sementara burung-burung lain satu per satu mulai terdiam, irama kicauan burung Bulbul masih saja terdengar. Kegelapan tidak meredam nyanyiannya. Burung Bulbul bernyanyi di waktu malam karena Tuhan telah merancangnya sedemikian rupa.
Cerita nyanyian tengah malam dalam kegelapan yang dikumandangkan oleh burung Bulbul ini, mengingatkan saya pada para pelayan Tuhan yang tidak mendapatkan gaji. Mereka tetap memuji Tuhan walau sering dituding tak becus dalam pelayanannya. Mereka tetap memuji Tuhan walau ‘dibully’ oleh Pelayan Tuhan lain, yang justru mendapat gaji. Para pelayan Tuhan yang tak mendapat gaji tetap memuji Tuhan dalam gelap, karena mereka sedang melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.
Apabila kita berjalan bersama Tuhan, kita akan dapat memuji-Nya walau di tengah-tengah permasalahan sekalipun. Kita tidak akan dilemahkan oleh keadaan di sekitar kita. Kita akan mengalami sukacita dalam melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Dan sukacita kita yang terbesar adalah mengenal Tuhan dan menyanyikan pujian syukur tentang-Nya. Bahkan dalam gelap sekalipun.
Perhatikan sekeliling kita. Perhatikan bagaimana kuasa Tuhan sangat besar berpengaruh dalam hidup kita. Lihatlah tangan Tuhan menopang kehidupan kita. Pekerjaan besar Tuhan atas hidup kita sudah dilakukan. Pekerjaan kita untuk memuji-Nya, baru dimulai.
PUJILAH TUHAN DALAM SETIAP HELA NAFASMU.
MAKA PEKERJAAN PEKERJAAN BESAR TUHAN ATASMU
AKAN MENGHIBUR, BERMANFAAT DAN BERKUASA PADAMU.




NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 160 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 65.000 (+Ongkir).

Rabu, 14 Maret 2018

SEBAIKNYA SAUDARA TAHU (5)

TUJUAN KHOTBAH

Untuk Apa tujuan khotbah itu...? Sebuah pertanyaan sederhana. Tetapi acap kali lalai dipersiapkan oleh pengkhotbah. Seharusnyalah kita menyadari hal penting menetapkan tujuan ini untuk khotbah apapun. Apa yang dijelaskan, dikatakan, disampaikan dalam khotbah, seluruhnya dibangun diatas pertanyaan sederhana diatas. Anda akan berkhotbah kesana kemari tanpa arah yang jelas apabila tidak memiliki tujuan khotbah.

Setiap Khotbah Harus Memiliki Tujuan
Apa yang kita harapkan dari Khotbah kita? Jawaban dari pertanyaan ini yang akan menjadi arah dari Khotbah kita. Setiap Khotbah harus punya tujuan. Dengan memiliki tujuan, kita akan lebih baik dalam melakukan persiapan, lebih berhati-hati dalam tindakan, tampil lebih memukau dan tepat sasaran, tentunya dengan hasil akhir yang berkesan bagi jemaat. 
Buat tujuan kita dengan jelas, bisa dicapai dan kita tahu betul bagaimana mencapainya.
Berkhotbah  mempunyai berbagai tujuan sesuai dengan kebutuhan. 

Paling tidak ada lima tujuan Khotbah:

1) Menyampaikan informasi kepada jemaat
2) Memotivasi jemaat
3) Mencapai saling pengertian dan kesepakatan dengan jemaat
4) Mengubah pandangan jemaat
5) Membujuk dan mempengaruhi jemaat merubah perilakunya.

Khotbah yang memukau paling tidak memiliki dua tujuan. Kalau hanya satu tujuan saja maka khotbah tersebut tidak dapat dikatakan khotbah yang memukau. Mengapa? Karena apabila kita hanya memiliki tujuan berkhotbah hanya satu (misalnya: Menyampaikan Informasi), maka khotbah tersebut akan kering. Khotbah yang hanya memiliki tujuan memberikan informasi hanya berisikan data, sejarah, peristiwa dan nama tempat/orang saja. Khotbah seperti itu akan membosankan dan tidak memiliki pengaruh yang positif.

(... bersambung)






NOTE:
Tulisan ini dikutip dari Buku 'Khotbah WOW" halaman 59-60, karangan saya.
Buku ini diterbitkan oleh 'Amarilis" dengan No. ISBN: 978-602-6420-00-8
Jumlah halaman 270, dengan Finishing: Soft Cover 
Harga: Rp. 70.000,- (+ Ongkir)

Buku ini tidak dijual bebas.
Sila pesan lewat WA/SMS: 0818 0888 2611
Akan dikirim via Pos & Giro




Sabda Bina Diri (Hari ke 208) Kamis, 15 Maret 2018, Yohanes 12:29-36

CUKUP BERTANYA, SAATNYA BERSIKAP
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Pancarkan sinar terang kemuliaan Tuhan lewat sikap kita dimanapun kita berada.


Suara Surgawi
Bacaan kita hari ini diawali dengan pendapat orang banyak yang berdiri di situ mengenai ‘suara’ (ay. 29). Beberapa dari mereka berkata bahwa itu bunyi guntur. Yang lain mengatakan: ‘Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia’. Hal ini menunjukkan, Tuhan berfirman dengan satu dua cara, orang tidak memperhatikannya.

Yesus berkata: "Suara itu datang bukan demi Aku, melainkan demi kebaikanmu" (ay. 30). "Supaya kamu semua yang telah mendengarnya menjadi percaya bahwa Bapa telah mengutus Aku."  Lalu apa makna dari suara itu? Dia yang ada di pangkuan Bapa pasti mengenal suara-Nya dan apa maksud dari suara-Nya itu. Ada dua hal yang Allah maksudkan sewaktu Ia berkata hendak memuliakan nama-Nya sendiri: 1) Bahwa melalui kematian Kristus, Iblis akan ditaklukkan (ay. 31); 2) Bahwa melalui kematian Kristus, jiwa-jiwa akan dipertobatkan, dan ini artinya Iblis dilemparkan ke luar  (ay. 32).

Dalam pada itu, meskipun mereka telah mendengar suara dari sorga dan kata-kata penuh kemuliaan yang keluar dari mulut Kristus, mereka tetap saja berkeberatan dan mencari gara-gara untuk bertengkar dengan-Nya (ay. 34). Karena itulah, daripada meladeni kebodohan mereka, Kristus lebih memilih untuk melayangkan peringatan keras bagi mereka agar waspada supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang mereka punya dengan melontarkan gerutuan remeh yang tidak berguna seperti itu (ay. 35-36).

Terang Injil Kristus
Hari hari ini, kita memasuki minggu sengsara. Bacaan kita sampai pada saat jelang kematian Yesus. Apalagi yang kita pertengkarkan? Masihkah kita menuntut kejelasan suara-suara Tuhan?

Suara dari surga itu dapat didengar oleh telinga rohani orang banyak, termasuk kita. Tak usahlah kita bereaksi yang berbeda pada suara-suara surgawi itu. Kita sudah tidak perlu lagi penjelasan seperti orang-orang dibacaan kita yang bertengkar menuntut penjelasan.

Salib melambangkan penghakiman atas penguasa dunia karena iblis dikalahkan dan kasih Allah dinyatakan oleh ketaatan Yesus. Prinsip ini sangat penting. Saat peninggian salib akan menarik banyak orang datang kepada-Nya.

Maksudnya kematian Yesus di atas kayu salib mendatangkan berkat bagi banyak orang. Ucapan- ucapan ini tidak dapat dipahami oleh orang banyak, dan mungkin juga oleh para murid-Nya ketika itu. Janganlah kita bingung dengan pernyataan itu.

Jangan meminta  agar Yesus bicara lebih jelas, IA tidak meladeni. Terang telah bersinar. Yang kita perlukan bukan lebih banyak penjelasan dan tanda, tetapi menentukan sikap. Pertanyaannya, masihkah ada kegelapan tersisa dalam hidup kita yang belum disoroti oleh terang Injil Kristus?


KIRANYA TERANG KITA BERSINAR, BAIK SEBAGAI LILIN KECIL DISUDUT RUANGAN MAUPUN SEBAGAI MERCUSUAR DIPUNCAK BUKIT.

#Salam_WOW





NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Penerbit 'AMARILIS' yang menerbitkan buku ini.
Tebal buku ini 216 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm.
Harga buku Rp. 65.000 (+Ongkir).

Sabda Bina Diri (Hari ke 207) Rabu, 14 Maret 2018, Yohanes 10:1-21


SEKAWANAN BUKAN SEKANDANG
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Anugerah dan berkat akan datang kepada orang
yang tidak duduk diam saat menunggu. Melayanilah.


Pintu kandang
Teks kita hari ini mengambarkan dua hal. Jenis-jenis gembala dan Gembala bukan orang upahan. Yohanes mencatat, jenis yang pertama adalah gembala yang tidak dikenal dombanya. Sementara jenis yang kedua adalah Gembala yang dikenal domba-Nya (ay. 1-10).

Gembala jenis pertama tidak segan melukai domba-dombanya karena memang bukan miliknya. Dalam pada itu, gembala jenis kedua adalah Gembala yang mengenal baik nama dan suara domba-domba-Nya. Sebaliknya, domba-domba-Nya mengenal Gembalanya. Tidak hanya itu, domba yang sakit dirawatnya, yang luka dibalutnya, yang hilang dicarinya. Hanya Yesus yang dapat menjadi Gembala yang baik bagi manusia.

Oleh dan karena itu, pada bagian kedua, Yohanes mencatat: “Yesus bukan saja memegang peranan sebagai Gembala sejati yang menjamin keamanan dan kebutuhan masing-masing domba peliharaan-Nya, tetapi juga Pintu bagi domba-domba-Nya dan memberi hidup berkelimpahan” (ay. 11-21).

Sekawanan domba
Bagian pertama bacaan ini hendak mengatakan dikekinian kita, hendaknya kita jeli melihat, bahwa Yohanes mencatat istilah “sekawanan domba” bukan “sekandang domba”. Kesederhanaan pesan ini ternyata tak juga kita pahami. Artinya, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia pun menerima domba lain yang ingin dituntun-Nya dan bergabung bersama domba milik-Nya.

Pernyataan Yesus: "Akulah Gembala yang baik, sebenarnya menegaskan bahwa para pemimpin agama zaman old dan zaman now, kita hari ini, haruslah menjadi Gembala baik bagi “sekawanan domba” bukan “sekandang domba”. Maksudnya, janganlah hanya melayani di ‘kandang’ saja. Jangan hanya melayani di batasi tembok-tembok organisasi yang bernama Gereja.

Sementara pada bagian dua bacaan kita, hal yang bisa kita renungkan adalah: Bila seseorang menyerahkan dirinya untuk digembalakan oleh Gembala Sejati, yaitu Tuhan Yesus, akan didapatinya pengalaman hubungan kasih mengasihi. Sebaliknya, waspada terhadap "para gembala" palsu melalui ajaran-ajaran sesat mereka yang justru ingin membahayakan keselamatan para domba. Pastikan bahwa iman, harap dan kasih saudara sepenuhnya tertuju pada Tuhan Yesus Kristus.

Karenanya berdoalah begini: “Tuhan terima kasih, bahwa Engkau bukanlah gembala upahan. Engkaulah Gembala sejati dalam hidup kami”.


JANGAN MEMPERHITUNGKAN HARGA YANG HARUS KITA BAYAR
JIKALAU KITA MELAYANI, KARENA TUHAN TELAH MEMBAYAR
HARGA YANG SANGAT MAHAL AGAR KITA DAPAT MELAYANI.


#Salam_WOW



NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya di atas.
Buku ini tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS 0818 0888 2611

Tebal buku ini 216 halaman dengan ukuran 20 x 15 cm
Harga buku Rp. 65.000 (+Ongkir)