Minggu, 23 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Minggu, 23 Juli 2017 (Amsal 22:1-6)



KEKAYAAN SEJATI: NAMA BAIK DAN DIKASIHI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kaca dan porselen adalah sesuatu yang gampang sekali pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa bekas yang nampak. Begitupun nama baik. Jangan menjual nama baikmu demi uang karena nama baik tidak dapat dibeli kembali dengan memakai mata uang apa pun juga.
 
Adalah baik memiliki kekayaan. Tapi jauh lebih baik memiliki nama baik.

Amsal mengajarkan kita dua hal yang lebih berharga dan yang seharusnya lebih kita ingini daripada kekayaan besar: Pertama, bahwa nama baik, yang berhubungan dengan hal-hal yang baik di mata Tuhan dan orang-orang baik, lebih berharga dari pada kekayaan besar. Berperilaku yang mendatangkan nama baik adalah jauh lebih baik daripada melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan dan menambah harta benda.

Kedua, bahwa dikasihi, memperoleh penghargaan dan kasih sayang dari semua orang di sekitar kita, lebih berharga daripada perak dan emas. Kristus tidak memiliki baik perak maupun emas, tetapi Ia makin dikasihi oleh Tuhan dan manusia. Melalui hal ini kita harus belajar untuk memandang kekayaan dunia ini dengan kebencian yang kudus, bukan mencondongkan hati kita padanya, melainkan sebisa mungkin memikirkan semua yang manis dan sedap didengar.

Penipu bebal versus orang jujur bijaksana.

Kekayaan besar menuntut perhatian yang besar, membawa orang rentan terhadap bahaya dan sama sekali tidak membuat orang menjadi lebih bernilai. Orang bebal dan penipu bisa memiliki kekayaan besar, tetapi nama baik menjadikan seseorang tenteram dan aman. Nama baik menjadikan orang bijaksana dan jujur, mencerminkan kemuliaan Tuhan, dan memberi orang kesempatan yang lebih besar untuk berbuat baik. Dengan kekayaan besar kita bisa mencukupi kebutuhan jasmani orang lain. Tetapi, dengan memiliki nama baik, kita bisa mendorong orang lain untuk beribadah.

Apakah kekayaan yang paling berharga dalam hidup ini? Amsal berkata: nama baik dan relasi kasih. Keduanya tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan bahkan perak dan emas sekalipun. Kekayaan yang hanya berupa materi tak akan membuat manusia hidup berarti, kecuali ia membagikannya kepada si miskin dan hidupnya akan diberkati.
Ini kisah tentang seorang ayah yang mendapati anaknya tak menghargai penghargaannya: ‘Saat membongkar garasi putra saya, saya menemukan semua trofi yang ia menangkan melalui berbagai macam pertandingan atletik selama bertahun-tahun. Semuanya itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus, dan siap untuk dibuang”. Saya mengenang darah, keringat, dan air mata yang mengucur demi mendapatkan semua penghargaan itu. Namun sekarang ia membuangnya. Semuanya itu tidak berharga lagi baginya. 

Saya jadi teringat pada sebuah puisi anak-anak karangan Shel Silverstein berjudul "Hector si Kolektor". Puisi itu mengisahkan tentang semua benda yang dikoleksi Hector selama bertahun-tahun. Ia "menyayangi benda-benda itu lebih dari berlian yang bersinar, lebih dari emas yang berkilauan". Lalu Hector mengundang semua temannya, "Kemarilah, aku mau membagikan hartaku!" Lalu semua temannya "datang untuk melihatnya, tetapi mereka menyebut barang-barang itu sampah!" 

Seperti itulah nantinya akhir hidup kita. Semua milik kita, semua benda yang kita perjuangkan di sepanjang hidup kita, menjadi tidak berarti apa-apa kecuali sampah. Saat itulah kita diyakinkan bahwa harta bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini. Mulai saat ini kita akan memiliki cara pandang yang benar, seperti ada tertulis. "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus". Kita harus bersikap wajar terhadap harta milik kita, karena sebenarnya kita telah memiliki harta yang paling bernilai, yaitu nama baik dan dikasihi, dimana hidup kita berjalan didalam pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan kita.

KEKAYAAN TERBESAR KITA ADALAH NAMA BAIK DAN DIKASIHI.
HIDUP DIKASIHI TUHAN DAN SESAMA, ITULAH NAMA BAIK KITA.

Salam WOW

Jumat, 21 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Sabtu, 22 Juli 2017 (Kejadian 27:18-40)



KAU REMEHKAN AKU DIBERKATI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jangan pernah meremehkan berkat Tuhan. Ingatlah, berkat Tuhan datang kepada mereka yang mencarinya. Karena Tuhan tak pernah sekalipun meremehkanmu, jangan remehkan berkatNYA.

Yakub diberkati Esau terluka.

Bacaan kita memaparkan: Yakub yang jujur bisa dengan mudah membalikkan lidah untuk berkata (ay. 19), Akulah Esau, anak sulungmu. Bagaimana Yakub bisa mendapat keyakinan untuk memandang semua ini berasal dari Allah, dan memakai nama-Nya dalam kecurangan itu (ay. 20): TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku. Ishak awalnya tidak puas, dan bisa saja mengungkapkan penipuan itu seandainya ia mau mempercayai telinganya sendiri. Sebab kalau suara, suara Yakub (ay. 22).  Pada akhirnya Ishak kalah oleh kekuatan kecurangan itu, karena tangannya berbulu (ay. 23), tanpa mempertimbangkan betapa mudahnya membuat tangan seolah-olah berbulu. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN,” maksudnya, seperti bau bunga-bunga dan rempah-rempah yang paling harum semerbak. Tampak bahwa Allah telah memberkati dia, dan oleh sebab itu Ishak hendak memberkatinya juga (ay. 26-29)

Esau mempersiapkan makanan yang lezat, seperti yang diperintahkan ayahnya kepada dia, dan kemudian memohon berkat yang atas dorongan ayahnya harus diharapkannya (ay. 31). Ketika ia menyadari bahwa Yakub telah memperoleh berkat itu dengan sembunyi-sembunyi tanpa izin, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya (ay. 34). Tidak ada orang yang merasa kecewa sampai ke lubuk hatinya seperti dia. Ia membuat kemah ayahnya berbunyi nyaring dengan kesedihannya (ay. 38), dengan suara keras menangislah Esau.

Jangan remehkan berkatmu.

Simak ini, akan tiba harinya ketika orang-orang yang sekarang meremehkan berkat-berkat Tuhan, dan menjual hak mereka atas berkat-berkat itu demi sesuatu yang kosong, akan berusaha untuk mencarinya, tetapi itu sia-sia. Orang-orang yang sekarang meminta dan mencari saja tidak mau, sebentar lagi akan mengetok-ngetok, dan berseru, Tuhan, Tuhan. Cerita Esau yang menjual hak kesulungannya, mengajarkan kepada kita bahwa hidup yang diberkati, tidak tergantung pada kehendak atau usaha kita, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Bahwa orang-orang yang memandang rendah hak kesulungan rohani mereka, dan sanggup menjualnya demi sesuap makanan, berarti kehilangan berkat-berkat rohani, dan dengan demikian adil bagi Allah untuk tidak memberikan kepada mereka kebaikan-kebaikan yang tidak mereka pedulikan itu. Orang-orang yang menolak hikmat dan anugerah kesulungan rohani mereka, demi kehormatan, kekayaan, atau kesenangan dunia ini, sudah menghakimi diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang tidak layak mendapatkan berkatNYA. Itulah hukuman yang akan mereka terima.

HARGAILAH BERKAT-BERKAT YANG KITA MILIKI. JANGAN FOKUS PADA APA YANG TIDAK KITA MILIKI. KARENA AKAN MEMBUAT KITA TAK PERNAH MERASA CUKUP DALAM HAL APAPUN.

Salam WOW

Kamis, 20 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 21 Juli 2017 (Kejadian 26:26-35)



 MEMAAFKAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Ketika memaafkan, kita sama sekali tidak merubah masa lalu tetapi yakinlah bisa merubah masa depan.” Memaafkan bukan berarti merubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Namun, setidaknya hal ini bisa membuat kita merubah masa depan menjadi lebih baik. Kita akan hidup lebih bahagia apabila bisa memaafkan kesalahan orang lain serta menghapus segala permusuhan.

Persahabatan yang sungguh.

Dalam bacaan ini, kita mendapati persaingan antara Ishak dan orang-orang Filistin berakhir dengan suatu perdamaian kembali yang membahagiakan. Abimelekh mengadakan kunjungan persahabatan ke tempat Ishak, sebagai tanda rasa hormatnya kepada dia (ay. 26). Ishak dengan bijaksana dan hati-hati mempertanyakan ketulusannya dalam kunjungan ini (ay. 27). Abimelekh menyatakan ketulusannya dalam menjawab pertanyaan Ishak ini, dan dengan sungguh-sungguh mengharapkan persahabatannya (ay. 28-29). Ishak menjamu dia dan teman-temannya, dan mengadakan ikatan persahabatan dengan dia (ay. 30-31).

Beberapa orang mengusulkan bahwa Abimelekh berkeras mau bersekutu dengan Ishak karena dia khawatir, jangan-jangan Ishak, yang semakin kaya, suatu hari nanti akan membalas dendam kepada mereka karena kerugian yang dia terima. Walaupun begitu, dia mengaku melakukan kunjungan itu lebih karena alasan kasih. Tuhan Pemelihara tersenyum atas apa yang Ishak lakukan. Pada hari dia membuat perjanjian dengan Abimelekh, hamba-hambanya membawa kabar untuknya tentang sebuah sumur air yang telah mereka temukan (ay. 32-33).

Merawat persahabatan meringankan luka.

Dalam membangun persahabatan dan hubungan, dibutuhkan kecerdikan ular dan ketulusan merpati. Bukanlah suatu pelanggaran atas hukum kelemahlembutan dan kasih, jika kita dengan terus terang menunjukkan tanggapan keras atas tindakan yang merugikan kita, dan bersikap waspada dalam berurusan dengan orang-orang yang berlaku tidak adil? Meringankan luka itu perlu untuk memelihara persahabatan. Karena memperparah luka itu menyakitkan hati dan memperlebar perpecahan. Kejahatan yang dilakukan terhadap kita bisa saja lebih buruk.

Perhatikanlah, orang-orang yang diberkati dan diperkenan Tuhan sudah sepantasnya memaafkan orang-orang yang membenci kita, karena musuh yang paling jahat pun tidak dapat benar-benar menyakiti kita.

ORANG LEMAH TAK PERNAH BISA MEMAAFKAN. MEMAAFKAN HANYA MILIK ORANG PERKASA YANG BAHAGIA.

#Salam_WOW



Sabda Bina Diri – Kamis, 20 Juli 2017 (Kejadian 26:1-15)


DIUJI TERUJI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

“Berbahagialah orang yang bisa bertahan dalam kesabaran, sebab apabila ia sudah lulus dan tahan uji, maka ia akan menerima hadiah kehidupan berupa kebahagiaan sejati.

Pada bacaan ini kita mendapati: Ishak dalam kemalangan karena kelaparan di negeri itu, yang mengharuskan dia berpindah tempat tinggal (ay. 1). Namun, Tuhan melawat dia dengan bimbingan dan penghiburan (ay. 2-5). Dengan bodohnya ia menyangkal istrinya, sehingga berada dalam kesulitan dan ditegur oleh Abimelekh (ay. 6-11). Ishak dalam kemakmuran, karena berkat Tuhan atas dia (ay. 12-14). Membuat orang-orang Filistin dengki terhadap dia (ay. 14-15).

Tuhan menguji Ishak dengan pemeliharaan-Nya. Timbul kelaparan di negeri itu (ay. 1). Tuhan mengarahkan dia dalam ujian ini dengan firman-Nya. Ishak menyadari dirinya kekurangan karena langkanya persediaan makanan. Dia harus pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan persediaan. Tuhan menyuruh dia untuk tinggal di tempat dia berada, dan Janganlah pergi ke Mesir: Tunggu Tuhan di negeri ini (ay. 2-3). Ada kelaparan di zaman Ishak, dan Tuhan menyuruh dia janganlah pergi. Ujian atas iman Ishak dapat menghasilkan puji-pujian dan kemuliaan dan penghormatan. Jadi Tuhan menyesuaikan ukuran ujian umat-Nya dengan kekuatan mereka.

Tahan uji sampai ketepian.

Benda apakah yang mampu mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya tiba di pantai dan tumbuh? Menurut artikel National Geographics di majalah World, benda yang luar biasa itu adalah kacang yang berasal dari Amerika Selatan dan India Barat. Orang-orang menyebut benda tersebut “hati laut”. Biji kacang berwarna yang berukuran 0,8 cm ini berbentuk hati. Ia tahan terhadap segala macam cuaca, dan tumbuh pada tanaman merambat yang tinggi. Biji-biji itu sering jatuh ke sungai dan terapung menuju lautan. Biji-biji itu telah mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai di pantai dan tumbuh menjadi tanaman.

Biji yang kuat, mampu bertahan, dan dapat menguasai arus ini menggambarkan prinsip dasar rohani. Mungkin dibutuhkan penantian panjang untuk mendapatkan pemenuhan rencana Tuhan bagi kita. Kenyataannya, Nuh harus tahan dicemooh selama 120 tahun sewaktu membangun sebuah kapal untuk menghadapi banjir besar. Abraham menanti pemenuhan janji Tuhan bahwa ia akan dikaruniai anak pada usia tuanya. Daud, orang yang diurapi Tuhan, memilih untuk menunggu waktu Tuhan daripada membunuh Raja Saul yang iri hati.

“Hati laut” tidak dapat memilih untuk bersabar, tetapi kita dapat. Tidak ada yang lebih sulit dan lebih baik bagi kita selain sabar menanti Tuhan. Karena kita akan memperoleh kedamaian, dan iman kita akan dapat bertumbuh, terlebih saat kita telah sampai di tepi. Tahan uji mendatangkan kesabaran. Kesabaran mendatangkan iman yang besar.

TUHAN MENGUJI KESABARAN KITA UNTUK MEMPERBESAR IMAN KITA.

Salam WOW

Selasa, 18 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Rabu, 19 Juli 2017 (Kejadian 25:19-28)

TETAPLAH BERDOA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Janji Tuhan tidak pernah terlambat, janjiNya selalu tepat di saat yang tepat juga. Karenanya, mintalah dalam doamu.

Doa yang terus menerus tak akan sia-sia.

Di bacaan ini, kita mendapati cerita tentang kelahiran Yakub dan Esau, dua anak kembar dari Ishak dan Ribka. Lahirnya mereka ke dalam dunia lewat jalan tak biasa.  Bahwa mereka didoakan. Orangtua mereka, setelah lama tidak mempunyai anak, mengandung mereka melalui doa (ay. 20-21). Ishak berumur empat puluh tahun ketika ia menikah. Walaupun ia seorang anak tunggal, dan seorang yang darinya keturunan yang dijanjikan akan datang, namun ia tidak terburu-buru menikah. Ia berumur enam puluh tahun pada waktu anak-anaknya lahir (ay. 26).

Jadi, setelah menikah, ia tidak mempunyai anak selama dua puluh tahun. Ishak berdoa, ia memohon kepada Tuhan untuk istrinya. Meskipun Tuhan sudah berjanji untuk memperbanyak keluarganya, ia berdoa bagi pertumbuhannya.  Tuhan mendengar doanya, dan mengabulkan permohonannya. Perhatikanlah, anak-anak adalah karunia Tuhan. Orang yang terus-menerus berdoa, seperti Ishak, akan mendapati, pada akhirnya, bahwa mereka tidak mencari dengan sia-sia.

Ujian kesabaran mendatangkan berkat.

Demikian juga adanya kita, walaupun penggenapan janji Tuhan selalu pasti, namun sering kali itu berjalan dengan lambat, dan tampak dihalang-halangi dan ditentang oleh Sang Pemelihara, supaya iman kita dicoba, kesabaran kita diuji, dan berkat yang sudah lama kita nanti-nantikan lebih disambut lagi apabila datang.
Kita harus mendorong doa-doa kita, dan harus dikembangkan sebagai dasar iman kita. Sekalipun kita sudah sangat sering berdoa memohon berkat, dan terus memintanya selama bertahun-tahun, dan tidak dikabulkan, seharusnyalah, kita tidak berhenti berdoa. Sebab kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa tanpa henti, dan mengetok-ngetok sampai pintu dibukakan.
Tuhan mengabulkan semua permintaan kita jika kita menuruti kehendak- Nya. Namun, Dia tidak selalu memenuhinya secepat yang kita harapkan. Tuhan tidak pernah tergesa-gesa. Kita harus belajar menunggu-Nya, dan menyadari bahwa jawaban yang kita cari belum saatnya muncul. Atau mungkin saja kita belum berserah sepenuhnya pada kehendak-Nya. Oleh sebab itu, jawaban bagi banyak doa kita adalah "tunggu sebentar". Jika kita tak dapat menerima hal ini dan tetap memaksa mendahului Tuhan, kita mungkin akan menemui kesukaran. Kita harus mempercayai-Nya dan yakin bahwa Tuhan adalah yang terbaik. Menunggu kehendak Tuhan bukanlah suatu penantian yang muram atau kekhawatiran yang penuh keresahan. Penantian ini merupakan kesabaran yang penuh sukacita, penantian yang terus maju ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa kita sesuai dengan waktu-Nya.
Doamu belum terjawab? Jangan berkata tak terkabul. Mungkin bagianmu belum engkau kerjakan sepenuhnya. Kerja baru dimulai saat doamu yang pertama diucapkan. Dan Tuhan akan menyelesaikan apa yang sudah Dia mulai. Meskipun bertahun-tahun telah lewat, jangan putus asa. Kemuliaan-Nya akan kita lihat, suatu ketika, di suatu tempat. Teguhkan hati kita. Penundaan Tuhan bukan berarti penolakan-Nya. Doa yang dinaikkan oleh Roh Kudus untuk kita, akan dijawab. Jangan biarkan waktu penantian ini melemahkan iman kita.

TUHAN TAK PERNAH TIDUR. TETAP BERDOA DAN JANGAN PERNAH MENYERAH UNTUK BERJUANG.

Salam WOW





Sabda Bina Diri – Selasa, 18 Juli 2017 (Kejadian 24:62-67)

TUNDUK DALAM HORMAT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Cinta itu saling menghormati. Bukan saling mencela. Berbahagialah pasangan hidup yang melandasi kehidupan pernikahannya dengan saling menghormati satu sama lainnya.

Ikutlah teladan Ribka yang menundukkan dirinya menghormati Ishak.

Bacaan kita menggambarkan, Ribka berlaku amat sopan ketika ia bertemu Ishak: karena tahu bahwa itu Ishak, turunlah ia dari untanya (ay. 64), lalu ia mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia (ay. 65), sebagai tanda kerendahan hati, kebersahajaan, dan penyerahan diri. Ia tidak mencela Ishak karena tidak datang sendiri untuk menjemputnya, atau, setidak-tidaknya, untuk menemuinya setelah ia menempuh perjalanan selama satu atau dua hari.

Ribka tidak mengeluh betapa membosankannya perjalanannya, atau betapa sulitnya ia meninggalkan sanak saudaranya, untuk datang ke sebuah tempat yang asing. Sebaliknya, setelah melihat Tuhan Sang Pemelihara berjalan di depan dia dalam urusan itu, ia pun menyesuaikan dirinya dengan bersikap ceria dengan hubungan barunya itu.

Menghormati adalah menghargai.

Walau seseorang itu bukan siapa-siapa, hormatilah. Jangan mencela. Apalagi ia suamimu, istrimu, pacarmu, adik kakakmu. Sikap menghormati adalah sikap mengakui harkat dan martabat manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ketika kita merasa tak dihormati di banyak tempat, ingatlah dirumahmu ada seseorang yang menghormatimu..

Terhadap pasangan hidup kita berlakulah saling menghormati. Menghormati adalah berlaku sopan. Sepatutnya kita menghormati dengan khidmat orang yang kepadanya kita mengikat janji sehidup semati dalam sebuah mahligai rumah tangga. Jangan marah padanya jika dia tidak lagi hormat. Tapi marahlah pada diri sendiri sebab ketika dia hormat, kita tidak pernah menghormatinya.

JIKA KITA MENCINTAI SESEORANG, KITA AKAN SENTIASA MENGHORMATINYA WALAUPUN DIA TIDAK BERADA DISISI KITA.

Salam WOW





Sabda Bina Diri – Senin, 17 Juli 2017 (Kejadian 24:28-49)

TUNAIKAN TUGAS TEPAT JANJI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kita menjadi mulia saat menepati satu janji, bukan saat mengucapkan seribu janji. Kita bukan manusia super yang mampu melakukan banyak hal, karena itu jangan memiliki ribuan janji. Cukup memiliki satu janji, dan berusaha mewujudkannya dengan tepat.

Eliezer, hamba Abraham paling senior, yang telah mengikat janji dengan tuannya, untuk mengemban tugas mencarikan istri bagi Ishak, memberi tahu Ribka dan keluarganya tentang tugas yang diberikan tuannya kepada dia. Tugas Eliezer adalah mengambil seorang istri bagi anaknya dari antara sanak saudaranya, beserta alasan untuk itu (ay. 37-38).

Betapa sungguh-sungguhnya dia dengan urusannya. Meskipun ia baru melakukan perjalanan jauh, dan tiba di rumah Ribka, ia tidak akan makan sebelum disampaikannya pesan yang dia bawa (ay. 33). Perhatikanlah, melaksanakan pekerjaan kita, dan memenuhi kepercayaan yang diberikan kepada kita, entah untuk Tuhan atau manusia, harus lebih kita utamakan. Eliezer menepati janjinya untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu.

Tepat janji tepat sasaran tepat waktu.

Tindakan Eliezer sungguh tepat. Tugas harus diselesaikan dengan tuntas. Penundaan pulang mungkin mengakibatkan keluarga Ribka berubah pikiran, dan akhirnya menolak melepaskan Ribka. Sebenarnya kalau Eliezer mau berdalih, perjalanan jauh sehingga butuh waktu istirahat panjang, tentu saja perjalanan boleh ditunda satu atau dua hari lagi. Sebagai hamba yang baik, ia ingin menyenangkan tuannya dengan menepati janjinya: Tepat sasaran dan tepat waktu.

Apabila kita menyatakan kesediaan dan kesanggupan berbuat, haruslah kita menepatinya. Kita hendaknya menyanggupi akan menepati apa yang telah dikatakan atau yang telah disetujui. Haruslah kita tepat janji. Betul dan lurus atau persis benar antara yang dijanjikan dengan yang dilakukan, itu namanya tepat janji. Orang yang tidak menepati janjinya mencerminkan kondisi jiwa yang kerdil. Dalam karakter manusia sejati selalu ada jiwa besar untuk menunda segala sesuatu yang merugikan banyak orang, dan jiwa besarnya selalu TEPAT JANJI dalam membahagiakan banyak orang, daripada TAK TEPAT JANJI yang membuat banyak orang menderita.

Renungkan ini, semua tugas, besar maupun kecil, bila dilihat sebagai pelayanan kepada Tuhan dan sesama, haruslah kita lakukan dengan penuh tanggung jawab. Antara janji besar dan janji kecil tidak jauh berbeda. Saat tidak ditepati, keduanya berpotensi menyebabkan kenurukan yang sama. Menepati janji adalah kebijaksanaan. Tidak mudah berjanji adalah kebijaksanaan lainnya.


HIDUP DIKELILINGI ORANG YANG TIDAK MENEPATI JANJI, BUKAN ALASAN UNTUK IKUT HIDUP, SEBAGAI PELANGGAR JANJI.

Salam WOW