Rabu, 27 September 2017

Sabda Bina Diri, Minggu, 1 Oktober, (1Raja-Raja 9:1-9)


PENSIUN KERJA, YES. PENSIUN MELAYANI, NO!
Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th

Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya.

Penampakan kedua kalinya.

Penulis Kitab 1 Raja-Raja  bercerita sekitar 120 tahun masa pemerintahan Salomo, selama 40 tahun (970-930 SM), dan sekitar 80 tahun sejarah kerajaan yang terpecah (sekitar 930-852 SM). Sementara, bagian bacaan kita, menunjukkan, Tuhan menampakkan diri kepada Salomo untuk kedua kalinya (ay. 1-3). Pasal ini membahas janji dan peringatan. Penampakan Tuhan yang pertama kepada Salomo terjadi di Gibeon.

Penampakan kedua kalinya kepada Salomo ini, terjadi pada tahun ke-24 pemerintahannya, saat ia sedang berada pada puncak kejayaannya, karena ia berhasil membuat segala yang diinginkannya. Mengapa Tuhan perlu memberikan perintah-Nya yang sama, yakni Salomo harus tetap setia dan taat kepada-Nya? Tak lain dan tak bukan, karena tujuan hidup dan eksistensi bangsa Israel akan terjungkir balik (ay. 6-9), jika Salomo sebagai rajanya tidak setia dan taat kepada Tuhan.

Ketika sampai dipuncak, yang tersisa hanyalah jalan turun.

Keadaan Salomo pada saat itu sangat nyaman dan tenang baik secara jasmani dan rohani. Tidak ada yang tidak dapat ia gapai di masa kejayaannya. Kekayaan, kepandaian, kemasyhuran, bahkan istri dan gundik yang banyak pun telah ia peroleh. Bait Tuhan yang megah sudah ia bangun dan tahbiskan. Namun justru dalam keadaan yang demikian, firman Tuhan yang berisi peringatan datang kepadanya. Masa kejayaan dapat membawa Salomo pada persimpangan jalan yang menurun, antara tetap setia kepada Tuhan dan mengakui kedaulatan-Nya, atau menjadi Tuhan atas dirinya sendiri karena segala yang diinginkan bisa ia dapatkan. Dengan kata lain Salomo berada dalam pilihan hidup yang sulit.

Salomo harus kembali diingatkan bahwa makna dan tujuan hidupnya tergantung kepada Tuhan. Selama ia mempunyai hidup yang berporos kepada Tuhan, taat dan setia kepada-Nya, maka takhta dan kerajaan Israel akan tetap kokoh. Hal ini sangat berhubungan dengan makna dan tujuan hidup seorang raja, yaitu ia hidup untuk membawa rakyatnya menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Kebenaran sejati yang patut kita renungkan adalah bahwa masa kejayaan seseorang bisa berarti masa kritisnya, karena ia berada di simpang jalan. Persimpangan ini bisa kita lewati dengan baik jika hidup kita tetap berpusat pada Tuhan. Hal itu bergantung cara pandang hidup dan pelayanan kita, yaitu, siapa kita di hadapan Tuhan. 



Tak ada pensiun dalam melayani.

Ketika pesawat kami mendarat di bandara Cengkareng, tepuk tangan meriah muncul dari antara sekelompok karyawan perusahaan penerbangan. Kami merasa hal itu agak tidak biasa terjadi, sampai akhirnya kami diberi tahu bahwa sang pilot baru saja menyelesaikan penerbangan yang terakhir dalam kariernya. Ia akan pensiun besok, dan saat itu rekan-rekannya mengungkapkan kebahagiaan mereka untuknya.

Bagi banyak orang, pensiun berarti mengerjakan apa yang selama ini selalu ingin mereka kerjakan: memancing; bermain gaple; bepergian. Orang-orang yang lain bekerja keras agar dapat pensiun lebih awal, sehingga mereka dapat menikmati buah dari kerja keras mereka selagi masih muda dan sehat.

Kita, pengikut Kristus harusnya melihat masa pensiun secara berbeda. Dalam hati kita harus ada tekad, begini: “Malam ini saya akan tidur. Besok pagi, jika Tuhan masih memberi saya kehidupan, saya akan bangun dan melayani-Nya.” Tujuan hidup kita satu-satunya adalah untuk memuliakan Kristus. Selalu ada pekerjaan yang dapat dilakukan bagi Tuhan. Sepanjang kita hidup, Kristus dapat bekerja di dalam dan melalui kita. Bagi kita, tidak ada masa pensiun dalam melayani. Pensiun dari pekerjaan, niscaya. Pensiun dari melayani Kristus, tak kan pernah! 

JANGAN PERNAH MERASA SUDAH TIBA DIPUNCAK PELAYANANMU. JANGAN. KARENA SETELAHNYA HANYA ADA JALAN TURUN. TAK ADA KATA “TURUN” DALAM PELAYANAN.

#Salam_WOW (Pkh. 12:10)

Minggu, 24 September 2017

Sabda Bina Diri (hari ke 101) Rabu, 27 September, 2Samuel 5:1-10


YERUSALEM ROHANI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Di tengah dunia yang berubah ini, kita punya Tuhan yang tak berubah. Andalkan kuasa-Nya.

Tuhan beserta Daud.

Bacaan kita menunjukkan, seluruh suku Israel mendatangi Daud di Hebron (ay. 1). Mereka meminta Daud memimpin bangsa Israel (ay. 2). Kemudian Daud mengadakan perjanjian, dan tua-tua Israel mengurapi Daud, menjadi raja atas mereka (ay. 3). Daud menjadi Raja di Hebron tujuh tahun, sementara di Yerusalem selama tiga puluh tiga tahun (ay. 4-5). Total Daud memerintah selama empat puluh tahun.

Kemudian daripada itu, Daud bergerak dari Hebron menuju Yerusalem dan menyerbu orang-orang Yebus (ay. 6). Daud berhasil merebut kubu pertahanan Sion kemudian menetap disana dan menamai tempat itu: Kota Daud (ay. 7-9).
Selanjutnya, bacaan kita menggambarkan betapa Daud semakin besar kuasanya, karena hal ini: Tuhan beserta Daud (ay. 10).

Yerusalem, kota Allah.

Penaklukan Yerusalem menandai sebuah titik yang sangat penting di dalam sejarah Israel. Sebelumnya, negeri itu tidak memiliki pusat yang nyata. Sekalipun demikian, kedudukan Yerusalem di tengah-tengah bukit batu yang gersang di Palestina tengah itu sebenarnya lebih cocok sebagai kubu pertahanan daripada ibu kota sebuah pusat perdagangan yang makmur sebagaimana Salomo berusaha lakukan.

Daud merebut Yerusalem dan menjadikannya ibu kota Israel. Secara rohani, kota ini kemudian menjadi kota terkemuka di bumi, pusat kegiatan penebusan Allah bagi umat manusia. Yesus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati di Yerusalem, dan Roh Kudus dicurahkan atas para pengikut Yesus yang berkumpul di sana. Alkitab menyebut Yerusalem kota Allah.

Dipanggil dan diutus.

Mencari dan menentukan pemimpin bukan soal gampang. Ada hal-hal yang dapat dipelajari dari bacaan kita ini: 1) Proses, memakan waktu yang relatif lama dibandingkan dengan menentukan seorang karyawan; 2) Sadar atau tidak sadar, selalu terefleksi sifat kepemimpinannya; 3) Tuhan turut campur tangan atas keterpilihannya; 4) Kepemimpinan yang dipilih Tuhan selalu mengemban tugas penggembalaan, sehingga setiap pemimpin kristiani tidak boleh menganggap enteng kepemimpinannya. Kepemimpinan Kristiani selalu mengikat janji di hadapan Tuhan, karena Tuhanlah yang memberikan wibawa kepemimpinan.

Tindakan tepat di saat tepat. Sebaik apapun suatu gagasan, diperlukan pertimbangan akurat, agar menghasilkan yang optimal, bukan bahan tertawaan. Daud diuji kemampuannya untuk merebut kota Yerusalem, yang kelak menjadi ibu kota kerajaan. Ternyata penyertaan Tuhanlah yang membuat Daud semakin berkuasa.
Karenanya, berdoalah begini:Tuhan, sertailah kami dalam menempuh hidup ini. Hanya oleh penyertaan-Mu kami makin lama makin kuat. Amin.

TIAP KEPUTUSAN SELALU BERKONSEKUENSI DI KEMUDIAN HARI, KARENANYA, KITA HARUS MENGANDALKAN DIA YANG MEMEGANG MASA DEPAN KEPUTUSAN KITA.

#Salam_WOW

Sabtu, 16 September 2017

SABDA BINA DIRI (89) Jumat, 15 September, 1Samuel 16:19-23

MENDENGAR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang.
Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar (Helen Keller).

Daud seorang pelayan.

Era Saul hampir berakhir. Roh Allah undur dari dirinya (ay. 14-18). Dimulailah era Daud, seperti pada bacaan kita hari ini (ay. 19-23). Ayat 21 tertulis: ” Demikianlah Daud sampai kepada Saul dan menjadi pelayannya. Saul sangat mengasihinya, dan ia menjadi pembawa senjatanya”. Seperti seorang Lewi yang berdiri di hadapan jemaat untuk melaksanakan tugas-tugasnya, demikianlah Daud berdiri di hadapan Saul sebagai pelayan istana.

Sementara itu, ayat 23 menunjukkan: “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya”. Rupanya Roh Kudus aktif dalam musik Daud sehingga Saul menerima kebebasan sementara dari penindasan roh jahat yang menimpa dirinya sebagai hukuman Allah.

Berdiam diri, dengarlah.

Pasca Saul, setelah Daud diurapi, Allah berkenan memakainya. Konsekuensinya Allah tidak lagi memakai Saul. Era Daud pun dimulai. Urapan Tuhan pada pemimpin bukan hanya menyertai yang bersangkutan tetapi juga kesejahteraan yang dipimpinnya. Cara Tuhan unik. Ia menempatkan Daud di istana sebagai pemain kecapi raja. Pasti banyak hal yang dipelajari Daud akibat kejatuhan seperti yang disaksikannya pada Saul. Apa yang Tuhan ingin Daud pelajari saat itu? Jangan menjauh dari Tuhan! Bagaimana caranya? Dengar-dengaranlah pada Tuhan.

Sebagai pemimpin kita terlalu kerap ‘berbicara’, sehingga lalai mendengar. Dengarlah apa kata Tuhan dan umatmu, dombamu. Kepemimpinan ‘mendengar’ jauh lebih baik dari kepemimpinan ‘merintah’. Sebab, ada tertulis: ‘Barang siapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar’.

Kadang kita terlalu ‘SIBUK BERKHOTBAH’, sehingga tidak punya waktu banyak MENDENGARKAN Umat. Padahal, Tuhan telah memberikan sebuah lidah, namun dua telinga, sehingga kita, seharusnya MENDENGARKAN dua kali lipat lebih banyak daripada berbicara. Pemimpin yang ‘MENDENGAR’, hendaknya membangun komitmen atasnya.

Saya menyebut komitmen mendengar ini dengan istilah, EARS:
E=Empati. Menempatkan diri pada masalah JEMAAT. Cobalah pakai sepatunya.
A=Ability. Mampu mendengarkan beban terberat JEMAAT. JEMAAT yang membagikan beban akan merasa ringan.
R=Respond. Tanggapi JEMAAT. Beri masukan, nasihat dan dorongan. Bangkitkan sikap positif JEMAAT.
S=Silent. Biasakanlah berdiam diri dan memasang telinga untuk mendengarkan persoalan JEMAAT.

ADALAH BAIK, TUHAN MEMBERI SEPASANG TELINGA, DAN AKAN JAUH LEBIH BAIK LAGI, PABILA KITA FUNGSIKAN UNTUK MENDENGAR APA YANG TUHAN MAU BUAT KITA.

#Salam_WOW
Pkh. 12:10


Sabda Bina Diri (90) Sabtu, 16 September, 1Samuel 18:6-30

PANTANG MENYERAH
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Sadarilah bahwa orang yang menghalangi kesuksesan itu ternyata diri kita sendiri.
Maka kita harus mengubah sikap. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah kalah.

Bara benci.

Bacaan kita menggambarkan sebuah kebencian yang membara. Berlangsung permusuhan antara Saul dan Daud. Saul membenci Daud. Kebencian itu adalah buah dari iri hati Saul atas keberhasilan Daud dalam peperangan melawan Filistin (ay. 7-8). Kebencian memembutakan akal sehat dan melumpuhkan kontrol diri. Di mana roh kebencian dipupuk, di sana Roh Kasih sejati tidak mendapat tempat yang layak (ay. 10).

Dalam pada itu, Saul menghalalkan semua cara untuk menyingkirkan Daud. Gagal dengan rencana pertama, Ia lanjutkan jurus mautnya kedua, dengan rencana yang lebih keji dan rendah. Anak perempuannya dijadikan perangkap bagi Daud. Saul berencana mengambil Daud menjadi menantu dan mengangkatnya menjadi panglima perang. Tujuannya adalah mengorbankan Daud dalam perang dengan Filistin. Saul semakin licik, yang menjadi istri Daud bukan Merab (ay. 19), melainkan Mikhal (ay. 20). Tuhan mengatur lain, sehingga Mikhal menjadi istri Daud. Jebakan Saul belum berakhir. Saul yang tidak lagi didiami Roh Tuhan merupakan contoh buruk bagi semua orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Tak kan goyah.

"Tak akan dibiarkan-Nya orang benar itu goyah!" Berbagai jebakan dan perangkap yang direncanakan Saul tak berhasil. Daud lebih unggul dari semua panglima Saul (ay. 30). Melihat ini bukankah kita semakin diyakinkan, bahwa jika menggantungkan seluruh keberadaan kita kepadaNya, tak akan dibiarkan-Nya kita goyah dan kuatir.

Seperti Daud yang pantang menyerah walau di zolimi Saul, perilaku seorang pemimpin sebaiknya mencerminkan karakter pantang menyerah. Pemimpin harus tetap berusaha mencapai tujuan walau hadangan merintang. Jangan melakukan tindakan yang melarikan diri dari tanggungjawab. Ketika seorang pemimpin sudah sampai suatu titik batas pemahaman, titik batas tindakan, titik batas kemampuan kerjanya, saat itulah seorang pemimpin harus terus dan tetap melakukan tindakan meraih tujuan yang hendak dicapai.

Seorang Pemimpin Tidak Pernah Berkompromi Untuk Hal Yang Prinsip Seorang pemimpin tidak dibenarkan berdamai dengan ketidak benaran. Jangan sekali-kali melakukan tawar menawar untuk bertindak dan berpikir yang tidak benar. Seorang pemimpin harus teguh memegang kebenaran sebagai pokok berpikir dan bertindak. Bila menyangkut asas-asas dasar organisasi atau hal pokok sebagai prinsip ajaran misalnya, jangan pernah seorang pemimpin melakukan tawar menawar dan berdamai mengurangi tingkat kebenaran.

KITA BOLEH KALAH. TAPI JANGAN MENYERAH. SELAMA HIDUP INI BELUM SELESAI, PERJUANGAN TAK BOLEH USAI.

#Salam_WOW
Pkh. 12:10

SAAT TEDUH (hari ke 91) Minggu, 17 September, Amsal 12:1-10

JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA
Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th

Marilah kita senantiasa berusaha mengutarakan kebenaran.
Hanya kebenaran dan tak ada yang lain selain kebenaran.

Benar tak tergoyahkan.

Tema besar dari 31 pasal Kitab Amsal adalah “Hikmat untuk hidup dengan benar”. Salomo, penulis kitab ini, senang sekali menulis tentang orang benar. Begitupun nas kita kali ini. Orang benar merancangkan keadilan (ay. 5) bukan kejahatan. Di samping itu orang benar sangat peduli kepada mereka yang membutuhkan uluran tangannya karena itu orang benar selalu bermurah hati kepada siapa saja tanpa terkecuali (ay. 10). Bahkan perkataannya pun berguna bagi hidup orang lain (ay. 6).

Namun manusia dikekinian sinis terhadap orang benar. Firman Tuhan jelas menentang keyakinan itu. Orang benar akan tetap merasa aman dan tak tergoyahkan sementara rekannya akan rubuh ketika goncangan-goncangan melanda manusia (ay. 3). Masa kejayaan dan keberadaan orang fasik tidak akan langgeng, namun kejayaan dan keberadaan orang benar malah sebaliknya (ay. 7).

Garis pemisah antara orang benar dan orang fasik sangat jelas walaupun banyak diantara kita sekarang berusaha untuk mengaburkannya. Mereka menyebut tindakan penggelapan atau pemakaian uang gereja dengan `salah prosedur'. Mereka mempersiapkan, merencanakan, dan melakukan ketidakjujuran di bawah payung `pelayanan' dan persekutuan.

Menutupi kebenaran adalah kekejian.

Tindakan kejahatan dan korupsi yang jelas-jelas melanggar norma-norma dan nilai-nilai etis masyarakat, dibenarkan karena dilakukan sesuai dengan undang-undang, peraturan pemerintah, dan keputusan presiden yang sudah disahkan oleh lembaga tertinggi negara. Namun Allah tidak dapat didustai dan diperdayai dengan cara apa pun. Siapa pun kita yang memilih untuk menjadi orang benar yakinlah bahwa berkat sedang dan akan dilimpahkan kepada kita. Sedangkan siapa pun yang menolak kebenaran akan menerima apa yang patut mereka terima.

Coba perhatikan alasan-alasan orang yang melakukan klaim asuransi mobilnya, dibawah ini:

"Sebuah mobil, entah dari mana, tiba-tiba nyelonong dan menabrak mobil saya. Kemudian mobil itu kabur."

"Saya sudah berpengalaman menyetir mobil selama 40 tahun. Hanya saja saat itu saya mengantuk ketika mengemudikan mobil dan terjadilah kecelakaan."

"Saya bergerak meninggalkan tepi jalan, menoleh sekilas kepada ibu mertua saya, dan menabrak pembatas jalan."

"Pejalan kaki itu bingung hendak berjalan ke mana, sehingga akhirnya saya menabraknya."

"Tiang telepon itu tiba-tiba sudah di hadapan saya. Saya telah berusaha membanting setir, tetapi tiang itu masih juga kena bumper depan mobil saya."

"Orang itu sudah berada di tengah jalan. Saya sudah membanting setir beberapa kali, tetapi ia masih tertabrak juga."

"Penyebab tidak langsung kecelakaan ini adalah seorang pria kecil bermulut besar yang mengendarai mobil kecil."

"Alasan-alasan" diatas dapat membuat kita tersenyum, dan beberapa di antaranya mungkin disengaja. Namun, berbagai alasan itu juga mengingatkan, bahwa kita cenderung menutupi kebenaran, terutama jika hal itu menguntungkan kita. Kitab Amsal mengajarkan bahwa "orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan”.

DUSTA ADALAH UPAYA PENGECUT UNTUK KELUAR DARI MASALAH

#Salam_WOW
Pkh. 12:10

Kamis, 14 September 2017

SABDA BINA DIRI (88) Kamis, 14 September, 1Samuel 9:17-27

SIAPKAN PENGGANTIMU DENGAN BESAR HATI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pemimpin gereja adalah pembelajar. Berhenti belajar membuat kepemimpinannya basi dan buruk. Pemimpin gereja harus haus belajar. Berhenti belajar, berhenti memimpin.

Bukan pada penampilan, tapi pada kepribadian.
Bacaan kita menguraikan, bahwa Saul tidak mengenal Samuel karena ia hampir-hampir tidak memiliki perhatian baik pada masalah-masalah rohani maupun pada hal-hal rohani.Tidak heran ia sama sekali tidak mengenal Samuel yang menjadi pemimpin tertinggi umat Allah yaitu Israel. Tetapi hal ini juga memperlihatkan sesuatu tentang Samuel. Pertanyaan Saul kepada Samuel, "Dimanakah rumah pelihat?" (ay. 18), memberi kesan bahwa tidak ada yang istimewa dalam penampilan Samuel. Sebagai pemimpin tertinggi dan berpengaruh besar, tentu wajar bila ia mengenakan pakaian yang istimewa dengan berbagai atribut dan asesoris kepemimpinannya. Sebagai hamba Tuhan, Samuel hidup sederhana. Ia berpenampilan seperti orang kebanyakan. Bobot kepemimpinannya bukan pada penampilan, tapi pada kepribadiannya.

Samuel tahu bahwa Saul adalah orang yang akan menggantikannya. Tetapi tidak ada sedikitpun rasa cemburu dan iri hati padanya. Ia menyambut Saul dengan hangat. Ia memberikan tempat terhormat kepada Saul dalam suatu perjamuan (ay. 22) dengan hidangan terbaik (ay. 24). Ia juga menyediakan waktu untuk berbincang-bincang (ay. 25. Warisan yang diberikan seringkali bukan hal positif yang mendukung dan menyiapkan sang pengganti. Sebaliknya seorang pemimpin sering mewariskan banyak masalah, tumpukan hutang yang harus diselesaikan penggantinya, bahkan tidak jarang ada pemimpin yang menjelek-jelekkan penggantinya. Inti semuanya itu ialah, dirinya saja yang paling baik.

Rela berkorban.

Samuel rela berkorban. Jabatan tertinggi sebagai pemimpin bangsa Israel harus dia serahkan pada penggantinya. Begitupun kita hari-hari belakangan ini. Relakah kita memberikan jabatan gerejawi kita kepada pengganti kita? Adakah diantara kita yang menjelang pensiun dalam melayani pekerjaan-Nya? Sudikah kita dengan kerelaan hati membimbing pengganti kita, seperti Samuel membimbing Saul?

Seorang pemimpin harus rela berkorban. Seorang Pemimpin harus bersedia dengan rela memberikan dirinya, waktunya tenaganya untuk domba-dombanya. Seorang pemimpin harus dengan sukacita untuk menderita bagi domba-dombanya. Seorang pemimpin ikhlas hati menyerahkan, merelakan, melepaskan sesuatu bagi domba-dombanya.

Seorang Pemimpin harus rela memberikan dirinya. Seorang pemimpin hendaknya bersedia dan berkenan memberikan kesetiaannya bagi domba-dombanya. Bila kepemimpinan tidak diemban dalam semangat pelayanan bagi Tuhan dan bagi sesama, kepemimpinan itu akan dijangkiti dosa kultus individu

TINGGIKAN TUHAN DALAM KEBERHASILAN PELAYANANMU. JANGAN TINGGIKAN DIRI DAN HATIMU.

#Salam_WOW/Pkh. 12:10

Selasa, 12 September 2017

SABDA BINA DIRI (85) Senin, 11 Sept, 1Samuel 4:12-22


KEMULIAAN DI TITIK NADIR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mereka yang bernafsu memiliki semua. seringkali berakhir dengan tidak memiliki apa-apa.

Kekalahan mutlak.

Bacaan kita, khususnya ayat 17, tertulis: “Jawab pembawa kabar itu: "Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Tuhan sudah dirampas”. Ayat ini melukiskan dengan baik gaya klimaks dari Nas kita. Keempat pokok (pertempuran Israel, pembantaian umum, kematian putra-putra Eli dan perampasan tabut perjanjian) disajikan menurut arti yang makin meningkat bagi Eli.

Kemudian daripada itu, setelah mendengar kematian mertuanya dan tabut Tuhan telah dirampas, isteri Pinehas, yang hamil tua. duduk berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak (ay. 19). Lalu ia menamai anaknya Ikabod, yang artinya telah hilang kemuliaan Tuhan (ay. 21). Kata Ikabod ini bisa berarti "bobot," yang dipakai secara kiasan untuk menunjukkan reputasi dan martabat.  "Kemuliaan" juga dipakai sebagai kata yang berarti Tuhan. Di sini artinya, "Di manakah Tuhan?"

Orang Ibrani sering kali tidak bisa membedakan antara kehadiran Tuhan dan lambang-lambang religius dari kehadiran-Nya. Tuhan berada di mana benda-benda kudus itu berada. Ketika tabut perjanjian itu dirampas, Tuhan dianggap juga pergi dari Israel. Pada tahun-tahun kemudian, para nabi Israel menandaskan bahwa Tuhan menyertai umat-Nya baik pada saat mereka dihajar maupun pada saat mereka diberkati.

Mengapa kita kalah?

Itulah pertanyaan yang muncul ketika Israel dikalahkan Filistin. Pertanyaan yang tepat sekali bila membuat mereka introspeksi, merendahkan diri di hadapan Tuhan dan bertobat. Kesimpulan mereka sebenarnya sudah benar. Mereka kalah sebab Tuhan tidak menyertai. Namun jalan keluar yang diambil salah besar. Mereka berpikir tabut sebagai lambang kehadiran Tuhan sama dengan kehadiran Tuhan sendiri. Perbuatan mereka selanjutnya lebih parah lagi; menjadikan tabut semacam jimat. Tentu saja mereka kalah untuk kedua kalinya. Banyak korban berjatuhan terutama anak-anak Eli yang jahat dan Eli sendiri.

Tuhan bukan pelayan. Inti dosa adalah sikap tinggi hati dan tidak mau meninggikan Tuhan yang selayaknya Tuhan terima. Lawan dari meninggikan Tuhan adalah menjadikan diri sendiri sebagai tuhan dan raja atas hidupnya. Tuhan sendiri dijadikan pelayan. Orang yang bersikap demikian akan memakai berbagai alat rohani dan ritus rohani untuk kepentingan diri sendiri. Tuhan tidak akan pernah membiarkan kemuliaan-Nya direndahkan seperti itu.
Karenanya, renungkanlah ini, semua sarana anugerah-Nya seperti sakramen, ibadah, Alkitab, dan lain sebagainya, tak bermanfaat apa pun bila kita tidak menerimanya dengan hati yang lurus di hadapan Tuhan. Berdoalah, minta Tuhan meluruskan hatimu. Amin.

JARAK PALING JAUH ANTARA MASALAH DENGAN SOLUSI, HANYA SEJAUH LUTUT DENGAN LANTAI. ORANG YANG BERLUTUT PADA TUHAN, BISA BERDIRI UNTUK MELAKUKAN APAPUN.

#Salam_WOW/Pkh. 12:10


SABDA BINA DIRI (86) Selasa, 12 Sept, 1Samuel 5:1-12


KEMULIAAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

kita dipanggil bukan hanya untuk memulai hal yang baik,
tapi juga mengakhirinya dengan baik.

Dewa Dagon.

Ayat 2 bacaan kita, tertulis: Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon. Dagon, Mungkin berasal dari kata dag, "ikan," atau dari kata dagan, 'biji-bijian." Dewa ikan yang ditampilkan sebagai dewa yang kepala dan tangannya seperti manusia serta tubuhnya seperti seekor ikan, disembah di Siria dan dilukiskan pada sebuah ukiran timbul Asiria. Dalam pada itu, orang Filistin yang tinggal di daerah penghasil gandum yang subur yakni Sephelah, menyembah dewa gandum yang diambil dari wilayah Lembah Efrat. Dewa tersebut adalah Dagon yang disebutkan di dalam prasasti Ras Syamra sebagai ayah Baal. Di Asdod terdapat sebuah kuil untuk Dagon hingga zaman Makabe. Penempatan suatu tanda kenangan di dalam kuil Dagon bukan merupakan tindakan yang aneh. Di dalam tempat ibadah di Gezer dijumpai sebuah batu suci yang dibawa ke situ dari Yerusalem sesudah sebuah kemenangan militer. Juga batu peringatan Hamurabi diangkut pergi oleh orang Elam dan diletakkan di Susan.

Kemuliaan Tuhan tak tertandingi.

Israel kalah! Logisnya orang Filistin akan berpikir Tuhan Israel pun kalah. Apalagi tabutnya berhasil dirampas. Sebagai ungkapan kesan itu, mereka menawan tabut Allah; ditempatkan di kuil Dagon (ay. 2). Lengkaplah kemenangan Filistin dan kekalahan Israel: Dagon lebih besar daripada Allah Israel! Betapa bodoh mereka. Israel yang mengusung tabut memang tidak otomatis dibuat menang oleh Allah. Dagon dan Filistin tidak dibiarkan Allah mempermainkan kemuliaan-Nya. Tuhan menunjukkan bahwa Dagon sama sekali tak berdaya. Dua kali Dagon dibuat bertekuk lutut di hadapan tabut Allah (ay. 3-4).

Tangan Allah menekan kuat penduduk kota Asdod (ay. 6). Timbullah bala sampar, wabah yang disebabkan tikus-tikus. Penduduk Asdod menyadari kekuatan dan kuasa Allah. Mereka bukannya insyaf, meninggalkan Dagon dan menyembah Yahwe. Mereka hanya memindahkan tabut ke kota Gat (ay. 8). Pengalaman itu membuat mereka beranggapan bahwa tabut itu adalah sumber kemalangan. Di Gat Tuhan menghajar penduduknya. Tabut dipindahkan ke Ekron. Penduduk kota itu dilanda kepanikan sehingga ada yang mati ketika tabut baru saja muncul (ay. 10-11).

Dewa orang Filistin itu mutlak kalah. Hancur berkeping-keping karena kuasa Allah. Tak ada dewa di muka bumi ini yang sanggup melawan Allah. Begitupun kita, jangan ada padamu Ilah lain. Apapun itu. Karenanya menyembahlah hanya pada Tuhan. Bukan yang lain. Nyatakanlah kemuliaan Tuhan  dalam keseharian hidup berimanmu. Jangan curi  kemuliaan Tuhan dengan pelayanannmu. Tuhan semakin ditinggikan, kita semakin direndahkan.. Jangan terbalik.

 HIDUP YANG BERGUNA ADALAH HIDUP YANG MENCERMINKAN KEMULIAAN TUHAN

#Salam_WOW/Pkh. 12:10