Jumat, 21 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Sabtu, 22 Juli 2017 (Kejadian 27:18-40)



KAU REMEHKAN AKU DIBERKATI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jangan pernah meremehkan berkat Tuhan. Ingatlah, berkat Tuhan datang kepada mereka yang mencarinya. Karena Tuhan tak pernah sekalipun meremehkanmu, jangan remehkan berkatNYA.

Yakub diberkati Esau terluka.

Bacaan kita memaparkan: Yakub yang jujur bisa dengan mudah membalikkan lidah untuk berkata (ay. 19), Akulah Esau, anak sulungmu. Bagaimana Yakub bisa mendapat keyakinan untuk memandang semua ini berasal dari Allah, dan memakai nama-Nya dalam kecurangan itu (ay. 20): TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku. Ishak awalnya tidak puas, dan bisa saja mengungkapkan penipuan itu seandainya ia mau mempercayai telinganya sendiri. Sebab kalau suara, suara Yakub (ay. 22).  Pada akhirnya Ishak kalah oleh kekuatan kecurangan itu, karena tangannya berbulu (ay. 23), tanpa mempertimbangkan betapa mudahnya membuat tangan seolah-olah berbulu. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN,” maksudnya, seperti bau bunga-bunga dan rempah-rempah yang paling harum semerbak. Tampak bahwa Allah telah memberkati dia, dan oleh sebab itu Ishak hendak memberkatinya juga (ay. 26-29)

Esau mempersiapkan makanan yang lezat, seperti yang diperintahkan ayahnya kepada dia, dan kemudian memohon berkat yang atas dorongan ayahnya harus diharapkannya (ay. 31). Ketika ia menyadari bahwa Yakub telah memperoleh berkat itu dengan sembunyi-sembunyi tanpa izin, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya (ay. 34). Tidak ada orang yang merasa kecewa sampai ke lubuk hatinya seperti dia. Ia membuat kemah ayahnya berbunyi nyaring dengan kesedihannya (ay. 38), dengan suara keras menangislah Esau.

Jangan remehkan berkatmu.

Simak ini, akan tiba harinya ketika orang-orang yang sekarang meremehkan berkat-berkat Tuhan, dan menjual hak mereka atas berkat-berkat itu demi sesuatu yang kosong, akan berusaha untuk mencarinya, tetapi itu sia-sia. Orang-orang yang sekarang meminta dan mencari saja tidak mau, sebentar lagi akan mengetok-ngetok, dan berseru, Tuhan, Tuhan. Cerita Esau yang menjual hak kesulungannya, mengajarkan kepada kita bahwa hidup yang diberkati, tidak tergantung pada kehendak atau usaha kita, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Bahwa orang-orang yang memandang rendah hak kesulungan rohani mereka, dan sanggup menjualnya demi sesuap makanan, berarti kehilangan berkat-berkat rohani, dan dengan demikian adil bagi Allah untuk tidak memberikan kepada mereka kebaikan-kebaikan yang tidak mereka pedulikan itu. Orang-orang yang menolak hikmat dan anugerah kesulungan rohani mereka, demi kehormatan, kekayaan, atau kesenangan dunia ini, sudah menghakimi diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang tidak layak mendapatkan berkatNYA. Itulah hukuman yang akan mereka terima.

HARGAILAH BERKAT-BERKAT YANG KITA MILIKI. JANGAN FOKUS PADA APA YANG TIDAK KITA MILIKI. KARENA AKAN MEMBUAT KITA TAK PERNAH MERASA CUKUP DALAM HAL APAPUN.

Salam WOW

Kamis, 20 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 21 Juli 2017 (Kejadian 26:26-35)



 MEMAAFKAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Ketika memaafkan, kita sama sekali tidak merubah masa lalu tetapi yakinlah bisa merubah masa depan.” Memaafkan bukan berarti merubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Namun, setidaknya hal ini bisa membuat kita merubah masa depan menjadi lebih baik. Kita akan hidup lebih bahagia apabila bisa memaafkan kesalahan orang lain serta menghapus segala permusuhan.

Persahabatan yang sungguh.

Dalam bacaan ini, kita mendapati persaingan antara Ishak dan orang-orang Filistin berakhir dengan suatu perdamaian kembali yang membahagiakan. Abimelekh mengadakan kunjungan persahabatan ke tempat Ishak, sebagai tanda rasa hormatnya kepada dia (ay. 26). Ishak dengan bijaksana dan hati-hati mempertanyakan ketulusannya dalam kunjungan ini (ay. 27). Abimelekh menyatakan ketulusannya dalam menjawab pertanyaan Ishak ini, dan dengan sungguh-sungguh mengharapkan persahabatannya (ay. 28-29). Ishak menjamu dia dan teman-temannya, dan mengadakan ikatan persahabatan dengan dia (ay. 30-31).

Beberapa orang mengusulkan bahwa Abimelekh berkeras mau bersekutu dengan Ishak karena dia khawatir, jangan-jangan Ishak, yang semakin kaya, suatu hari nanti akan membalas dendam kepada mereka karena kerugian yang dia terima. Walaupun begitu, dia mengaku melakukan kunjungan itu lebih karena alasan kasih. Tuhan Pemelihara tersenyum atas apa yang Ishak lakukan. Pada hari dia membuat perjanjian dengan Abimelekh, hamba-hambanya membawa kabar untuknya tentang sebuah sumur air yang telah mereka temukan (ay. 32-33).

Merawat persahabatan meringankan luka.

Dalam membangun persahabatan dan hubungan, dibutuhkan kecerdikan ular dan ketulusan merpati. Bukanlah suatu pelanggaran atas hukum kelemahlembutan dan kasih, jika kita dengan terus terang menunjukkan tanggapan keras atas tindakan yang merugikan kita, dan bersikap waspada dalam berurusan dengan orang-orang yang berlaku tidak adil? Meringankan luka itu perlu untuk memelihara persahabatan. Karena memperparah luka itu menyakitkan hati dan memperlebar perpecahan. Kejahatan yang dilakukan terhadap kita bisa saja lebih buruk.

Perhatikanlah, orang-orang yang diberkati dan diperkenan Tuhan sudah sepantasnya memaafkan orang-orang yang membenci kita, karena musuh yang paling jahat pun tidak dapat benar-benar menyakiti kita.

ORANG LEMAH TAK PERNAH BISA MEMAAFKAN. MEMAAFKAN HANYA MILIK ORANG PERKASA YANG BAHAGIA.

#Salam_WOW



Sabda Bina Diri – Kamis, 20 Juli 2017 (Kejadian 26:1-15)


DIUJI TERUJI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

“Berbahagialah orang yang bisa bertahan dalam kesabaran, sebab apabila ia sudah lulus dan tahan uji, maka ia akan menerima hadiah kehidupan berupa kebahagiaan sejati.

Pada bacaan ini kita mendapati: Ishak dalam kemalangan karena kelaparan di negeri itu, yang mengharuskan dia berpindah tempat tinggal (ay. 1). Namun, Tuhan melawat dia dengan bimbingan dan penghiburan (ay. 2-5). Dengan bodohnya ia menyangkal istrinya, sehingga berada dalam kesulitan dan ditegur oleh Abimelekh (ay. 6-11). Ishak dalam kemakmuran, karena berkat Tuhan atas dia (ay. 12-14). Membuat orang-orang Filistin dengki terhadap dia (ay. 14-15).

Tuhan menguji Ishak dengan pemeliharaan-Nya. Timbul kelaparan di negeri itu (ay. 1). Tuhan mengarahkan dia dalam ujian ini dengan firman-Nya. Ishak menyadari dirinya kekurangan karena langkanya persediaan makanan. Dia harus pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan persediaan. Tuhan menyuruh dia untuk tinggal di tempat dia berada, dan Janganlah pergi ke Mesir: Tunggu Tuhan di negeri ini (ay. 2-3). Ada kelaparan di zaman Ishak, dan Tuhan menyuruh dia janganlah pergi. Ujian atas iman Ishak dapat menghasilkan puji-pujian dan kemuliaan dan penghormatan. Jadi Tuhan menyesuaikan ukuran ujian umat-Nya dengan kekuatan mereka.

Tahan uji sampai ketepian.

Benda apakah yang mampu mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya tiba di pantai dan tumbuh? Menurut artikel National Geographics di majalah World, benda yang luar biasa itu adalah kacang yang berasal dari Amerika Selatan dan India Barat. Orang-orang menyebut benda tersebut “hati laut”. Biji kacang berwarna yang berukuran 0,8 cm ini berbentuk hati. Ia tahan terhadap segala macam cuaca, dan tumbuh pada tanaman merambat yang tinggi. Biji-biji itu sering jatuh ke sungai dan terapung menuju lautan. Biji-biji itu telah mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai di pantai dan tumbuh menjadi tanaman.

Biji yang kuat, mampu bertahan, dan dapat menguasai arus ini menggambarkan prinsip dasar rohani. Mungkin dibutuhkan penantian panjang untuk mendapatkan pemenuhan rencana Tuhan bagi kita. Kenyataannya, Nuh harus tahan dicemooh selama 120 tahun sewaktu membangun sebuah kapal untuk menghadapi banjir besar. Abraham menanti pemenuhan janji Tuhan bahwa ia akan dikaruniai anak pada usia tuanya. Daud, orang yang diurapi Tuhan, memilih untuk menunggu waktu Tuhan daripada membunuh Raja Saul yang iri hati.

“Hati laut” tidak dapat memilih untuk bersabar, tetapi kita dapat. Tidak ada yang lebih sulit dan lebih baik bagi kita selain sabar menanti Tuhan. Karena kita akan memperoleh kedamaian, dan iman kita akan dapat bertumbuh, terlebih saat kita telah sampai di tepi. Tahan uji mendatangkan kesabaran. Kesabaran mendatangkan iman yang besar.

TUHAN MENGUJI KESABARAN KITA UNTUK MEMPERBESAR IMAN KITA.

Salam WOW

Selasa, 18 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Rabu, 19 Juli 2017 (Kejadian 25:19-28)

TETAPLAH BERDOA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Janji Tuhan tidak pernah terlambat, janjiNya selalu tepat di saat yang tepat juga. Karenanya, mintalah dalam doamu.

Doa yang terus menerus tak akan sia-sia.

Di bacaan ini, kita mendapati cerita tentang kelahiran Yakub dan Esau, dua anak kembar dari Ishak dan Ribka. Lahirnya mereka ke dalam dunia lewat jalan tak biasa.  Bahwa mereka didoakan. Orangtua mereka, setelah lama tidak mempunyai anak, mengandung mereka melalui doa (ay. 20-21). Ishak berumur empat puluh tahun ketika ia menikah. Walaupun ia seorang anak tunggal, dan seorang yang darinya keturunan yang dijanjikan akan datang, namun ia tidak terburu-buru menikah. Ia berumur enam puluh tahun pada waktu anak-anaknya lahir (ay. 26).

Jadi, setelah menikah, ia tidak mempunyai anak selama dua puluh tahun. Ishak berdoa, ia memohon kepada Tuhan untuk istrinya. Meskipun Tuhan sudah berjanji untuk memperbanyak keluarganya, ia berdoa bagi pertumbuhannya.  Tuhan mendengar doanya, dan mengabulkan permohonannya. Perhatikanlah, anak-anak adalah karunia Tuhan. Orang yang terus-menerus berdoa, seperti Ishak, akan mendapati, pada akhirnya, bahwa mereka tidak mencari dengan sia-sia.

Ujian kesabaran mendatangkan berkat.

Demikian juga adanya kita, walaupun penggenapan janji Tuhan selalu pasti, namun sering kali itu berjalan dengan lambat, dan tampak dihalang-halangi dan ditentang oleh Sang Pemelihara, supaya iman kita dicoba, kesabaran kita diuji, dan berkat yang sudah lama kita nanti-nantikan lebih disambut lagi apabila datang.
Kita harus mendorong doa-doa kita, dan harus dikembangkan sebagai dasar iman kita. Sekalipun kita sudah sangat sering berdoa memohon berkat, dan terus memintanya selama bertahun-tahun, dan tidak dikabulkan, seharusnyalah, kita tidak berhenti berdoa. Sebab kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa tanpa henti, dan mengetok-ngetok sampai pintu dibukakan.
Tuhan mengabulkan semua permintaan kita jika kita menuruti kehendak- Nya. Namun, Dia tidak selalu memenuhinya secepat yang kita harapkan. Tuhan tidak pernah tergesa-gesa. Kita harus belajar menunggu-Nya, dan menyadari bahwa jawaban yang kita cari belum saatnya muncul. Atau mungkin saja kita belum berserah sepenuhnya pada kehendak-Nya. Oleh sebab itu, jawaban bagi banyak doa kita adalah "tunggu sebentar". Jika kita tak dapat menerima hal ini dan tetap memaksa mendahului Tuhan, kita mungkin akan menemui kesukaran. Kita harus mempercayai-Nya dan yakin bahwa Tuhan adalah yang terbaik. Menunggu kehendak Tuhan bukanlah suatu penantian yang muram atau kekhawatiran yang penuh keresahan. Penantian ini merupakan kesabaran yang penuh sukacita, penantian yang terus maju ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa kita sesuai dengan waktu-Nya.
Doamu belum terjawab? Jangan berkata tak terkabul. Mungkin bagianmu belum engkau kerjakan sepenuhnya. Kerja baru dimulai saat doamu yang pertama diucapkan. Dan Tuhan akan menyelesaikan apa yang sudah Dia mulai. Meskipun bertahun-tahun telah lewat, jangan putus asa. Kemuliaan-Nya akan kita lihat, suatu ketika, di suatu tempat. Teguhkan hati kita. Penundaan Tuhan bukan berarti penolakan-Nya. Doa yang dinaikkan oleh Roh Kudus untuk kita, akan dijawab. Jangan biarkan waktu penantian ini melemahkan iman kita.

TUHAN TAK PERNAH TIDUR. TETAP BERDOA DAN JANGAN PERNAH MENYERAH UNTUK BERJUANG.

Salam WOW





Sabda Bina Diri – Selasa, 18 Juli 2017 (Kejadian 24:62-67)

TUNDUK DALAM HORMAT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Cinta itu saling menghormati. Bukan saling mencela. Berbahagialah pasangan hidup yang melandasi kehidupan pernikahannya dengan saling menghormati satu sama lainnya.

Ikutlah teladan Ribka yang menundukkan dirinya menghormati Ishak.

Bacaan kita menggambarkan, Ribka berlaku amat sopan ketika ia bertemu Ishak: karena tahu bahwa itu Ishak, turunlah ia dari untanya (ay. 64), lalu ia mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia (ay. 65), sebagai tanda kerendahan hati, kebersahajaan, dan penyerahan diri. Ia tidak mencela Ishak karena tidak datang sendiri untuk menjemputnya, atau, setidak-tidaknya, untuk menemuinya setelah ia menempuh perjalanan selama satu atau dua hari.

Ribka tidak mengeluh betapa membosankannya perjalanannya, atau betapa sulitnya ia meninggalkan sanak saudaranya, untuk datang ke sebuah tempat yang asing. Sebaliknya, setelah melihat Tuhan Sang Pemelihara berjalan di depan dia dalam urusan itu, ia pun menyesuaikan dirinya dengan bersikap ceria dengan hubungan barunya itu.

Menghormati adalah menghargai.

Walau seseorang itu bukan siapa-siapa, hormatilah. Jangan mencela. Apalagi ia suamimu, istrimu, pacarmu, adik kakakmu. Sikap menghormati adalah sikap mengakui harkat dan martabat manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ketika kita merasa tak dihormati di banyak tempat, ingatlah dirumahmu ada seseorang yang menghormatimu..

Terhadap pasangan hidup kita berlakulah saling menghormati. Menghormati adalah berlaku sopan. Sepatutnya kita menghormati dengan khidmat orang yang kepadanya kita mengikat janji sehidup semati dalam sebuah mahligai rumah tangga. Jangan marah padanya jika dia tidak lagi hormat. Tapi marahlah pada diri sendiri sebab ketika dia hormat, kita tidak pernah menghormatinya.

JIKA KITA MENCINTAI SESEORANG, KITA AKAN SENTIASA MENGHORMATINYA WALAUPUN DIA TIDAK BERADA DISISI KITA.

Salam WOW





Sabda Bina Diri – Senin, 17 Juli 2017 (Kejadian 24:28-49)

TUNAIKAN TUGAS TEPAT JANJI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kita menjadi mulia saat menepati satu janji, bukan saat mengucapkan seribu janji. Kita bukan manusia super yang mampu melakukan banyak hal, karena itu jangan memiliki ribuan janji. Cukup memiliki satu janji, dan berusaha mewujudkannya dengan tepat.

Eliezer, hamba Abraham paling senior, yang telah mengikat janji dengan tuannya, untuk mengemban tugas mencarikan istri bagi Ishak, memberi tahu Ribka dan keluarganya tentang tugas yang diberikan tuannya kepada dia. Tugas Eliezer adalah mengambil seorang istri bagi anaknya dari antara sanak saudaranya, beserta alasan untuk itu (ay. 37-38).

Betapa sungguh-sungguhnya dia dengan urusannya. Meskipun ia baru melakukan perjalanan jauh, dan tiba di rumah Ribka, ia tidak akan makan sebelum disampaikannya pesan yang dia bawa (ay. 33). Perhatikanlah, melaksanakan pekerjaan kita, dan memenuhi kepercayaan yang diberikan kepada kita, entah untuk Tuhan atau manusia, harus lebih kita utamakan. Eliezer menepati janjinya untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu.

Tepat janji tepat sasaran tepat waktu.

Tindakan Eliezer sungguh tepat. Tugas harus diselesaikan dengan tuntas. Penundaan pulang mungkin mengakibatkan keluarga Ribka berubah pikiran, dan akhirnya menolak melepaskan Ribka. Sebenarnya kalau Eliezer mau berdalih, perjalanan jauh sehingga butuh waktu istirahat panjang, tentu saja perjalanan boleh ditunda satu atau dua hari lagi. Sebagai hamba yang baik, ia ingin menyenangkan tuannya dengan menepati janjinya: Tepat sasaran dan tepat waktu.

Apabila kita menyatakan kesediaan dan kesanggupan berbuat, haruslah kita menepatinya. Kita hendaknya menyanggupi akan menepati apa yang telah dikatakan atau yang telah disetujui. Haruslah kita tepat janji. Betul dan lurus atau persis benar antara yang dijanjikan dengan yang dilakukan, itu namanya tepat janji. Orang yang tidak menepati janjinya mencerminkan kondisi jiwa yang kerdil. Dalam karakter manusia sejati selalu ada jiwa besar untuk menunda segala sesuatu yang merugikan banyak orang, dan jiwa besarnya selalu TEPAT JANJI dalam membahagiakan banyak orang, daripada TAK TEPAT JANJI yang membuat banyak orang menderita.

Renungkan ini, semua tugas, besar maupun kecil, bila dilihat sebagai pelayanan kepada Tuhan dan sesama, haruslah kita lakukan dengan penuh tanggung jawab. Antara janji besar dan janji kecil tidak jauh berbeda. Saat tidak ditepati, keduanya berpotensi menyebabkan kenurukan yang sama. Menepati janji adalah kebijaksanaan. Tidak mudah berjanji adalah kebijaksanaan lainnya.


HIDUP DIKELILINGI ORANG YANG TIDAK MENEPATI JANJI, BUKAN ALASAN UNTUK IKUT HIDUP, SEBAGAI PELANGGAR JANJI.

Salam WOW

Sabtu, 15 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Minggu, 16 Juli 2017 (Kejadian 24:1-9)

PERNIKAHAN, BUKTI PEMELIHARAN ILAHI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pernikahan yang kudus membutuhkan jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama. Bukan cinta yang menciptakan pernikahan, tapi pernikahan yang kudus, sadar dan  terencanalah, yang menciptakan cinta.

Didalam Alkitab, pernikahan adalah sakral. Bersatunya sepasang pria-wanita dalam mahligai pernikahan adalah atas kehendak dan berkat Tuhan, oleh karenanya tidak boleh sembarangan. Dalam pada itu, Abraham pun tidak sembarangan mencarikan pasangan bagi Ishak. Ia mengutus hambanya yang paling senior, Eliezer untuk mencarikan teman hidup bagi Ishak bukan di Kanaan, melainkan kepada sanak Abraham sendiri yang tinggal di Haran (ayat 2-9).
Kepedulian Abraham yang saleh berkenaan dengan anaknya ini adalah: Pertama, bahwa ia tidak boleh menikahi perempuan Kanaan, melainkan harus salah seorang kerabatnya. Ia melihat bahwa orang-orang Kanaan merosot ke dalam kefasikan yang besar, dan ia tahu melalui wahyu Tuhan bahwa mereka ditentukan untuk hancur, dan oleh sebab itu ia tidak ingin menikahkan anaknya dengan salah seorang dari mereka, supaya jangan mereka menjadi jerat bagi jiwanya, atau setidak-tidaknya membawa noda pada namanya.
Kedua, Bahwa untuk sekarang anaknya tidak boleh meninggalkan negeri Kanaan, untuk pergi sendiri ke tempat sanak saudaranya, sekalipun dengan tujuan untuk memilih seorang istri, supaya jangan ia tergoda untuk tinggal menetap di sana. Peringatan ini diberikan (ay. 6), dan diulangi (ay. 8). “ Jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana, apa pun yang terjadi. Lebih baik dia tidak punya istri daripada menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam godaan itu.”
Pernikahan kudus adalah penetapan Tuhan.
Tanggal 3 Januari 2004 dunia selebritis heboh karena pernikahan Britney Spears dengan teman sekolahnya, Jason Alexander. Tanggal 5 Januari 2004 Britney membuat heboh lagi karena pernikahannya dibatalkan oleh hukum. Ini mungkin usia pernikahan tersingkat bahkan di kalangan Hollywood. Alasan pembatalan itu sederhana, mereka melakukannya sekadar menuruti perasaan dan besar kemungkinan dalam keadaan mabuk. Betapa rendah nilai pernikahan dalam tindakan demikian.

Pernikahan Britney bukanlah penetapan Tuhan. Pernikahannya adalah pilihan seorang Britney yang sedang mabuk. Kejahatan akan melahirkan kejahatan. Setiap kita bisa menikah, tetapi hanya Tuhan yang bisa menciptakan sebuah kehidupan pernikahan yang kudus.

Sebagian dari kita yang telah menikah cukup lama mungkin berpikir bahwa pengalaman telah membuat kita menjadi pakar dalam soal pernikahan. Namun, justru, kita harus belajar pada para pengantin baru. Pertama, jika dua orang sungguh-sungguh mencintai, mereka akan memberi perhatian yang dalam satu sama lain dan begitu menikmati kebersamaan mereka. Kedua, kasih sejati berarti hubungan pasangan itu akan ditandai dengan kebaikan yang dilakukan satu sama lain dan kesalahan yang diampuni.

KEHIDUPAN PERNIKAHAN YANG BAHAGIA ADALAH 
BERSATUNYA DUA PENGAMPUN YANG BAIK.

Salam_WOW

Kamis, 13 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Sabtu, 15 Juli 2017 (Mazmur 119:97-104)

BELAJAR BERHIKMAT Oleh: Reinhard Samah Kansil
Langkah pertama untuk memenangkan lomba adalah mendaftarkan diri. Langkah pertama belajar berhikmat adalah: mulailah berhikmat.
Cara pembelajaran yang digunakan Pemazmur untuk memperoleh hikmat, adalah: Pada masa mudanya, ia melakukan kegiatan di pedesaan sebagai seorang gembala. Berangkat dewasa, ia banyak melakukan kegiatan di istana dan perkemahan. Jadi, cara manakah yang membuat dia banyak menerima pembelajaran? Di sini ia memberi tahu kita bagaimana ia sampai ke sana. Ia mendapatkannya dari Allah sebagai penciptanya: Engkau membuat aku lebih bijaksana (ay.98). Semua kebijaksanaan sejati itu berasal dari Allah. Ia memperolehnya melalui firman Allah sebagai sarananya, oleh perintah-perintah-Nya dan titah-titah-Nya. Kedua hal ini mampu membuat kita bijaksana untuk berjalan menuju keselamatan dan melengkapi tiap-tiap manusia kepunyaan Allah untuk setiap perbuatan baik.
Hikmat adalah perjumpaan dengan-NYA.
Tak ada hikmat yang lebih tinggi daripada hikmat Allah. Seorang yang ingin memiliki hikmat-Nya, harus hidup seturut firman-Nya. Pemazmur meyakini bahwa ia menjadi lebih berakal budi, lebih mengerti, dan lebih bijaksana, karena kuasa hikmat firman-Nya. Hikmat tidak tergantung pada pendidikan, usia dan kedudukan, tetapi pada Firman Tuhan.
Cara terbaik untuk memperoleh hikmat adalah tinggal dan hidup dalam meneladani Kristus. Karena, barang siapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu ajaran Kristus, dan akan mengetahui lebih banyak dan lebih banyak lagi. Cinta terhadap kebenaran memberikan terang yang berasal dari Firman-NYA. Di sinilah, orang yang berhikmat akan mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Dengannya, doa kita akan begini: “Ya Tuhan, Frman-MU yang memberi hikmat dan yang menghidupkan, kiranya mewujudnyatakan iman pengharapanku kepada-Mu dalam segala situasi perjumpaanku dengan-MU”.
Berapa besar hikmat yang kia peroleh dalam hidup ini, bergantung bagaimana kita belajar: Lembut Terhadap Mereka Yang Muda; Belas Kasihan Terhadap Mereka Yang Tua; Bersimpati Terhadap Mereka Yang Dalam Masalah; Bertoleransi Terhadap Mereka Yang Kuat Dan Lemah. Karena Suatu Hari Kelak, Kita Akan Mengalami Semua Kategori itu.
TAKUT AKAN TUHAN ADALAH PERMULAAN HIKMAT.
Salam_WOW

Sabda Bina Diri – Kamis, 13 Juli 2017 (Mazmur 119:65-72)

KEBAJIKAN TUHAN KEBIJAKSANAAN MANUSIA
Oleh: Reinhard Samah Kansil
Hidup bergerak dari satu keputusan ke keputusan lainnya. Butuh kebijaksanaan untuk membuat dan memilih keputusan. Hidup kita di masa depan bergantung pada keputusan bijak hari ini. Mohonkan campur tangan kebajikan Tuhan terhadap kebijaksanaanmu.
Memiliki pengetahuan tapi kurang bijaksana.
Pemazmur membuat pernyataan syukur atas perlakuan Tuhan yang penuh kebajikan kepadanya dari sejak semula: Kebajikan telah Kaulakukan kepada hamba-Mu (ay. 65). Ia telah memperlakukan semua hamba-Nya dengan penuh kebajikan. Kebajikan telah Kaulakukan kepadaku, bukan saja sesuai dengan kasih setia-Mu, melainkan juga sesuai dengan firman-Mu. Kemurahan Tuhan akan tampak sangat baik jika dibandingkan dengan janji-janji-Nya dan bila dilihat mengalir dari sumber itu.
Berdasarkan hal diatas, Pemazmur mengalaskan permohonannya untuk memperoleh pengajaran ilahi: Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik (ay. 66), sehingga oleh anugerah-Mu, aku dapat mempersembahkan syukur sesuai dengan kebajikan yang Engkau perbuat bagiku. Banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi kurang memiliki kebijaksanaan. Mereka yang memiliki keduanya telah dibentengi dengan baik terhadap jerat-jerat Iblis serta diperlengkapi dengan baik bagi pelayanan kepada Tuhan.
Kebijaksanaan melahirkan pengetahuan.
Seperti apa pun Tuhan mengurus kehidupan kita, kita harus mengakui bahwa Ia memperlakukan kita dengan penuh kebajikan, lebih baik daripada yang layak kita terima, dan juga penuh kasih dengan maksud mendatangkan kebaikan bagi kita. Dalam banyak hal Tuhan telah memperlakukan kita dengan baik, jauh melebihi pengharapan kita.
Kesuksesan yang kita raih akibat memiliki kebijaksanaan yang melahirkan tingginya pengetahuan, adalah karunia-NYA. Harta, pekerjaan, jabatan di masyarakat dan keluarga yang bahagia, merupakan karunia Tuhan. Karunia Tuhan yang baik itu tidak boleh ditinggikan sampai akhirnya menggantikan kedudukan Tuhan, Sang Pemberi.
Tuhan yang bajik itu akan membuat kita bijak. Ketika Tuhan memecahkan masalah kita, kita memiliki kepercayaan pada kemampuan-NYA. ketika Tuhan tidak memecahkan masalah kita, DIA memiliki kepercayaan pada kemampuan kita.
KEBAJIKAN TUHAN MENDATANGKAN KEBAIKAN KEPADA SETIAP ORANG YANG MENCINTAI-NYA DENGAN BIJAKSANA.
Salam WOW

Selasa, 11 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Rabu, 12 Juli 2017 (Mazmur 119:57-64)

3 B (BERPEGANGLAH-BERGEGASLAH-BERSYUKURLAH)
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pertobatan dimulai dari keinsafan yang sungguh. Keinsafan yang mendalam diakhiri pertobatan yang sungguh. Jangan hanya mengharap kemudahan di setiap hidup kita, tapi haraplah penyertaan Tuhan di setiap kesulitan hidup kita.

Pernyataan Pemazmur dalam bacaan ini menyajikan tiga hal untuk direnungkan. Pertama, pemazmur mengungkapkan sikap hidupnya yang mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber penghiburan dan pengharapan dalam kesengsaraan. Pemazmur menjadikan Taurat TUHAN sebagai aturannya: “AKU TELAH BERJANJI UNTUK BERPEGANG PADA FIRMAN-FIRMAN-MU, dan oleh anugerah-Mu aku akan melakukan apa yang telah kukatakan, serta akan tetap tinggal di dalamnya sampai akhir hayatku.” Perhatikanlah, orang-orang yang menjadikan Allah sebagai bagian mereka, harus menjadikan Dia sebagai raja mereka, bersumpah setia kepada-Nya, serta berjanji untuk BERPEGANG pada firman-Nya (ay. 57). 

Kedua, Pemazmur melaksanakan keputusannya ini dengan segera tanpa ragu-ragu (ay. 60). AKU BERSEGERA DAN TIDAK BERLAMBAT-LAMBAT. Ketika kita sedang berada di bawah penghakiman akan dosa, kita harus segera bertindak selagi keadaan hati kita masih panas dan jangan pernah berpikir untuk menunda pelaksanaannya, apabila ada kesempatan baik. Ketika tugas memanggil, kita tidak boleh membuang-buang waktu, segera lakukan hari ini juga, selama masih dapat dikatakan hari ini. Catatan yang diberikan Pemazmur tentang dirinya di sini mungkin merujuk kepada perbuatan yang biasa ia lakukan setiap hari. Pemazmur memikirkan jalan-jalannya pada malam hari, melangkahkan kakinya kepada peringatan-peringatan Allah pada paginya, dan apa yang dapat ia lakukan, BERGEGAS dikerjakannya tanpa berlambat-lambat.

Ketiga, Pemazmur tidak melupakan kewajibannya untuk mengucap syukur. Karena orang-orang yang banyak berdoa juga harus banyak mengucap syukur. Ia hendak BANGUN PADA TENGAH MALAM UNTUK BERSYUKUR KEPADA ALLAH (ay. 62). Pikiran-pikiran yang mulia dan baik membuatnya tetap terjaga dan menyegarkan tubuhnya, bukannya tertidur. Begitu bersemangatnya dia bagi kemuliaan Allah sehingga ketika orang lain tengah berbaring di tempat tidur, ia malah berlutut untuk beribadah. Ia tidak ingin dilihat orang tatkala beribadah, tetapi ia menaikkan SYUKUR di tempat tersembunyi, di tempat yang hanya dilihat oleh Bapa sorgawi. Ia telah memuji Allah di pelataran rumah TUHAN, dan sekarang ia ingin melakukannya di kamar tidurnya.

Hendaknya kita meneladani Pemazmur.

Mengapa? Oleh karena, tak ada janji yang lebih indah selain berpegang pada firman-Nya. Tuhan akan senantiasa memperhatikan langkah-langkah hidup kita. Apakah sesuai dengan peringatan-peringatan-Nya. Seorang yang hidup sepenuhnya bagi Tuhan tak pernah berlambat-lambat meninggalkan dosa, dan bersegera melangkahkan kaki menuju jalan-jalan-Nya. Segera naikkan doa syukur kepada-Nya, jangan menunda-nunda. Supaya suasana hati kita tidak mendingin. Mengucapkan syukur sambil tidak berbaring, tetapi bangkit dari tempat tidurmu, walau mungkin di tengah dingin dan gelapnya malam, supaya dapat melakukannya dengan lebih khidmat. Tatkala tak dapat berbaring dan tidur, lebih baik bangun dan berdoa.

Berpeganglah-Bergegaslah-Bersyukurlah

Dalam hidupmu hendaknya berpegang teguh pada kebenaran Firman Tuhan. Kemudian daripada itu, bertobatlah. Lakukan dengan bergegas jangan berlambat-lambat. Barulah kemudian diatasnya, kita bersyukur karena kehormatan Allah diteguhkan lewat pertobatan kita, dan firman-Nya digenapi di dalam segala yang kita lakukan di kekinian. Pegang teguh firmanNYA. Bergegas jangan berlambat-lambat. Lalu ucap syukur atas hidup dan kehidupanmu yang indah itu.

Mungkin Tuhan menempatkan kita di tempat yang tidak nyaman supaya kita bisa selalu bersyukur padaNYA. Kasih dan pemeliharaan Tuhan tak pernah luntur.

KARENANYA, DIMANAPUN DAN KAPANPUN KITA HARUS BERSYUKUR PADA-NYA. 
AMIN.

Salam WOW




Sabda Bina Diri – Selasa,11 Juli 2017 (MAZMUR 119:33-40)

YA TUHAN AJAR KU MENGERTI
Oleh: Reinhard Samah Kansil
John Lennon berujar: Aku tidak mengklaim kemuliaan. Aku tidak pernah mengklaim kesucian jiwa. Aku tidak pernah mengaku memiliki jawaban hidup. Aku hanya membuat lagu dan menjawab sejujur yang aku bisa, tapi aku masih percaya akan perdamaian, cinta dan PENGERTIAN.
Jangan enggan berkata: “Buatlah aku mengerti”
Bacaan kita memaparkan, Pemazmur berdoa dengan sungguh: ‘Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir (ay. 33). Pemazmur didampingi oleh banyak nabi, orang bijak, dan imam-imam yang mengabdi di sekitarnya, dan ia sendiri sangat mahir dalam Taurat TUHAN. Namun, ia tetap memohon supaya diajar oleh Tuhan sendiri. Ia memohon pengertian.
Bagaimana Pemazmur ingin diajar?. Ia ingin diajar dengan cara sedemikian rupa seperti yang tidak dapat diajarkan oleh seorang manusia: TUHAN, buatlah aku mengerti (ay. 34). Sebagai Allah alam semesta ini, Ia telah memberikan kita kekuatan akal budi dan panca indra. Tetapi di sini, kita diajar berdoa bahwa sebagai Allah anugerah, Ia akan memberikan pengertian untuk menggunakan kekuatan-kekuatan dan segala kecakapan guna memahami perkara-perkara besar yang berkaitan dengan kedamaian kita, yang karena kebobrokan atau kerusakan alami membuat kita enggan berkata: Buatlah aku mengerti, sebuah pengertian yang dicerahkan. Karena, tidak memiliki pengertian sama buruknya seperti memiliki pengertian tetapi tidak dikuduskan.
Yang terbaik, mengerti dalam diam.
Dalam persekutuan dan pelayanan, banyak perbantahan. Perhatikan, mereka yang sering berbantahan secara lisan, sesungguhnya, hanya mengerti sejengkal saja, sepanjang apa yang diperkatakan. Terhadap masalah yang diperbantahkan, pengertian mereka sebanyak (hanya) yang diperbantahkan. Dalam pada itu, lebih banyak diantara mereka yang tidak larut dalam perbantahan, justru mereka yang sangat mengerti apa yang diperbantahkan.
Ketika perdebatan tak berkesudahan terjadi dalam sebuah persekutuan dan pelayanan, maka pengertian dalam diam adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Teduhnya persekutuan dan pelayanan tidak dapat dijaga dengan perbantahan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.
Tinimbang menghabiskan waktu berbantahan, lebih baik kita berdoa, sedemikian: Tuhan, ajar aku mengerti,
Agar tidak terlalu banyak omong, tapi juga tidak diam sesaja.
Agar tidak pesimis, tapi juga tak terlalu percaya diri.
Agar tidak sombong, tapi juga tak minder.
Agar tidak minder, tapi juga tak sombong.
Agar bekerja lebih giat, tapi juga tak mengatakan doa lebih penting.
Agar lebih kerap berdoa, tapi juga tidak mengatakan bekerja tak penting.
TEDUHNYA PERSEKUTUAN DAN PELAYANAN DAPAT DIUMPAMAKAN SEPERTI POHON, TIAP HARI HARUS DISIRAM DAN DIBERI PUPUK PENGERTIAN.
Salam WOW


Sabtu, 08 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Minggu, 9 Juli 2017 (MAZMUR 119:1-8)

KUBERBAHAGIA DIKENAN-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kebanyakan kita mencari kebahagiaan diluar diri kita. Itu salah. Sejatinya, kebahagiaan berada didalam diri kita. Kebahagiaan adalah keputusan yang kita buat. Bukan perasaan yang kita rasakan.

Kebahagiaan kita adalah perkenan-NYA.

Dalam bacaan kita, Pemazmur memaparkan: “Orang-orang yang menjadikan kehendak Allah sebagai pedoman bagi semua perbuatan mereka serta mengendalikan perilaku mereka sesuai dengan pedoman itu, mereka hidup menurut Taurat Tuhan (ay. 1).
Mereka berjalan di dalam jalan-jalan Taurat itu, yang tidak akan pernah mereka remehkan, tetapi berlari-lari kepada tujuan, menyelaraskan setiap langkah dengan pedoman itu dan tidak pernah berjalan tanpa arah. Inilah yang disebut hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya (ay. 3), menurut jalan-jalan yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita dan yang telah dikaruniakan-NYA untuk kita jalani.

Mereka yang matanya hanya tertuju kepada Tuhan sebagai kebaikan utama dan tujuan tertinggi dalam kehidupan persekutuan mereka (ay. 2). Mereka yang mencari Dia dengan segenap hati. Mereka tidak mencari diri sendiri dan urusan mereka sendiri, melainkan hanya Tuhan saja. Inilah yang menjadi tujuan utama mereka, supaya Tuhan dimuliakan dalam ketaatan mereka dan supaya mereka berbahagia dalam perkenan Tuhan”.

Berbahagialah dan kuduslah mereka yang hidupnya dikenan Tuhan.

Selama ini banyak orang beranggapan salah tentang sumber kebahagiaan. Kebahagiaan diukur pada keberhasilan "memperoleh" bukan pada kerelaan "memberi". Orang-orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan sekalipun dengan menggerogoti kebahagiaan orang lain. Cara seperti ini kasar, rakus, memalukan, dan menyeramkan. Kebahagiaan yang sebenarnya bersumber pada kehidupan yang bersih, berkepribadian seimbang, benar, dan jujur di hadapan Allah. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Itu sebabnya kebahagiaan hanya di dapat dalam Tuhan, di dalam ketaatan kepada hukum-hukum-Nya. Diatas semuanya itu, kebahagiaan didapat karena kita dikenan-NYA.

Kebahagiaan dan kegembiraan hidup bersumber pada kehidupan yang bersih. Mungkinkah seseorang tetap mempertahankan dan memelihara kehidupannya bersih dari dosa dan salah? Bukankah godaan-godaan di sekitar kita, kelemahan diri sendiri, dan aturan-aturan dalam masyarakat seolah membuat kita tidak bisa menjaga hidup bersih? Apa yang diusulkan pemazmur? Pengenalan akan Tuhan dan ketaatan pada firman Tuhan yang diikuti tekad untuk taat pada hukum-hukum Tuhan, mendasari kehidupan yang dikenan-NYA.

Dalam bukunya yang berjudul Laugh Again (Tertawa Lagi), Charles Swindoll mendefinisikan kekhawatiran sebagai "kegelisahan yang berlebihan akan suatu hal yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi". (Dan biasanya tidak terjadi.) Tekanan batin diartikan sebagai "ketegangan yang berlebihan terhadap situasi yang tidak dapat kita ubah atau kontrol". (Padahal Tuhan mampu.) Dan ketakutan, menurut Swindoll, adalah "kecemasan yang sangat terhadap bahaya, kejahatan, atau penderitaan". (Dan hal itu hanya akan memperbesar masalah kita.) Swindoll mengatakan, apa pun yang membuat kita khawatir, tertekan, dan ketakutan, tidak dapat menghalangi Tuhan untuk terus bekerja dalam hidup kita. Kita dapat hidup dengan keyakinan bahwa Dia mengatur segalanya. Kita dapat memasrahkan segalanya kepada-NYA. Perbaharui keyakinan kita kepada Tuhan setiap pagi. Lalu tenangkan hati kita dan berbahagialah.

Bukan memiliki tapi menjadi.

Kebahagiaan tidak didapat dengan mengejarnya. Sebaliknya, kebahagiaan merupakan hasil ikutan dari pencarian kita untuk berjalan lebih dekat dengan Tuhan. Saat melakukannya, kita akan menemukan kebahagiaan mendalam yang tak dapat diberikan oleh seseorang atau sesuatu. Itulah yang dimaksudkan Pemazmur ketika ia berkata, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Jadikan hati kita selalu damai agar kita dapat membahagiakan diri sendiri dan sesama. Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita miliki tapi pada apa yang ada dalam diri kita.
Kebahagiaan bukan memiliki tapi menjadi. Not “To Have” but “To Be”.

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH APABILA HIDUP KITA DI KENAN-NYA

Salam WOW


Sabda Bina Diri – Sabtu, 8 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 12:1-11)

PENGHARAPAN DAN DOA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pengharapan itu seperti jalan di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi jika kita mendoakannya, jalan itu menjadi ada.

DOA senjata jemaat.

Bacaan kita mencatat, pembebasan Petrus dari penjara yang membuat rancangan Herodes terhadap dirinya menjadi berantakan, dan hidup Petrus pun terpelihara untuk pelayanan selanjutnya. Satu hal yang memuliakan pembebasan Petrus adalah bahwa pembebasan itu merupakan jawaban terhadap DOA (ay. 5). Petrus ditahan di dalam penjara dengan penjagaan yang sangat ketat (ay. 4), sehingga sama sekali mustahil untuk dapat membebaskan dia, baik dengan kekerasan maupun dengan diam-diam. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah, sebab DOA merupakan senjata jemaat.

Bila kita memperhatikan peristiwa yang dialami Petrus dalam penjara, belenggu di tangannya terlepas (ay. 7-8), dan akhirnya bebas dari penjara itu (ay. 9-10), tidaklah berlebihan jika Petrus menyadari bahwa itulah yang dinamakan mukjizat (ay. 11).
Petrus yakin bahwa campur tangan Tuhan membuat bermacam-macam terobosan yang mengejutkan dan tidak terduga. Membebaskan manusia ketika sudah tidak ada PENGHARAPAN.

Pengharapan melahirkan doa, doa melahirkan mukjizat.

Ada begitu banyak peristiwa-peristiwa yang tak terduga terjadi di sekitar kita. Ada peristiwa yang melibatkan diri kita, ada juga peristiwa yang melibatkan orang lain. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya: "bagaimana mungkin aku atau dia atau mereka dapat mengalami peristiwa itu?" Berbagai pertanyaan akhirnya menutup keterkejutan tersebut.

Kehidupan manusia penuh dengan ceritera seperti itu. Ada orang yang sakit sekarat tidak ada lagi pengharapan, tiba-tiba bebas dari penjara dari kematian dan penderitaan yang mengerikan, tanpa disadari darimana mukjizat itu datang. Apakah kita akan mengatakan bahwa semua itu diatur oleh sang nasib, atau semua yang terjadi itu semata-mata hanyalah kebetulan saja? Tidak. Didalam Pengharapan dan Doa terkandung mukjizat Ilahi.

Kita dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara. Tapi hanya 1 detik jika tanpa pengharapan. Kehidupan kita adalah indah bila kita tahu jalan mana yang benar, harapan ada bahkan mukjizat nyata, bila kita percaya.

DIMANA ADA PENGHARAPAN DAN DOA,
MUKJIZAT ITU NYATA.

Salam WOW


Kamis, 06 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Jumat, 7 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 11:19-30)

INDAHNYA MEMBERI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Diberkatilah orang yang memberi tanpa mengingat dan yang menerima tanpa lupa. Memberi lebih banyak dari yang diharapkan orang, merupakan jalan baik untuk menerima kembali lebih banyak dari yang kita harapkan.

Memberi, ciri gereja sejati.
Bacaan kita mau mengatakan bahwa: Penganiayaan tidak menghentikan semangat Kristen memberitakan Injil kepada orang Yahudi (ay. 19). Di antara yang memberitakan Injil, ternyata sudah ada orang sebelum mereka yang juga memberitakan Injil kepada orang Yunani, dan pelayanan ini pun diberkati Tuhan (ay. 20-21).
Berita tentang penyebaran Injil ke Utara, harus dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikannya, gereja di Yerusalem mengutus Barnabas. Barnabas mengajak Saulus ke Antiokhia dan tinggal di sana selama satu tahun. Mereka mengajar banyak orang, dan hasilnya memberi sumbangan abadi bagi Kekristenan karena dari sanalah murid-murid disebut Kristen untuk pertama kalinya (ay. 26).
Perkembangan yang mengagumkan ini juga diperkuat dengan kasih yang mereka tunjukkan terhadap sesama Kristen yang terancam bahaya kelaparan (ay. 27-30), yaitu ketika gereja di Yerusalem yang memiliki kemampuan mengajar, dibantu kebutuhan materinya oleh gereja di Antiokhia, yang memiliki kebutuhan akan pengajaran. Di sinilah prinsip memberi dan menerima terlaksana dengan indahnya.
Semakin banyak memberi semakin banyak menerima.
Jangan memberi dari apa yg kita punya, namun berilah apa yang dibutuhkan orang lain. Sama seperti sinar mentari, memberi Kehangatan di hati. Mentari memberi tak harap kembali, tidak memilih siapa yang ia sinari. Kebahagiaan akan tumbuh berkembang manakala kita membantu sesama. Namun, bilamana kita tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan tanaman, harus terus disirami tiap hari dengan sikap dan tindakan memberi.
Ini cerita tentang seorang dokter yang bekerja di daerah terpencil Minnesota. Suatu ketika salah satu keluarga penduduk asli Amerika memohonnya untuk datang dan membantu penyembuhan nenek mereka yang sudah tua, yang sedang sakit parah. Dokter itu datang, mendiagnosa keadaannya, dan kemudian memberi instruksi terperinci untuk perawatannya.

Nenek itu sembuh, dan beberapa minggu kemudian seluruh keluarga tersebut melakukan perjalanan ke tempat praktek dokter tersebut di kota. Mereka menghadiahi dokter itu sepasang moccasin (sepatu dari kulit yang halus bulunya) yang berusia 150 tahun buatan leluhur mereka. Ketika dokter itu mengajukan keberatan karena menganggap pemberian itu terlalu bagus dan berharga, kepala suku itu menjawab, “Anda telah menyelamatkan hidup ibu saya. Kami meminta dengan sungguh-sungguh agar Anda bersedia menerima sepasang moccasin ini. KAMI TIDAK TERBIASA MENGUNGKAPKAN PENGHORMATAN YANG BESAR DENGAN PEMBERIAN YANG MURAH.”

MEMBERI ADALAH BAHASA YANG BISA DIDENGAR OLEH ORANG TULI DAN DILIHAT OLEH ORANG BUTA.

Salam WOW