Sabtu, 08 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Minggu, 9 Juli 2017 (MAZMUR 119:1-8)

KUBERBAHAGIA DIKENAN-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kebanyakan kita mencari kebahagiaan diluar diri kita. Itu salah. Sejatinya, kebahagiaan berada didalam diri kita. Kebahagiaan adalah keputusan yang kita buat. Bukan perasaan yang kita rasakan.

Kebahagiaan kita adalah perkenan-NYA.

Dalam bacaan kita, Pemazmur memaparkan: “Orang-orang yang menjadikan kehendak Allah sebagai pedoman bagi semua perbuatan mereka serta mengendalikan perilaku mereka sesuai dengan pedoman itu, mereka hidup menurut Taurat Tuhan (ay. 1).
Mereka berjalan di dalam jalan-jalan Taurat itu, yang tidak akan pernah mereka remehkan, tetapi berlari-lari kepada tujuan, menyelaraskan setiap langkah dengan pedoman itu dan tidak pernah berjalan tanpa arah. Inilah yang disebut hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya (ay. 3), menurut jalan-jalan yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita dan yang telah dikaruniakan-NYA untuk kita jalani.

Mereka yang matanya hanya tertuju kepada Tuhan sebagai kebaikan utama dan tujuan tertinggi dalam kehidupan persekutuan mereka (ay. 2). Mereka yang mencari Dia dengan segenap hati. Mereka tidak mencari diri sendiri dan urusan mereka sendiri, melainkan hanya Tuhan saja. Inilah yang menjadi tujuan utama mereka, supaya Tuhan dimuliakan dalam ketaatan mereka dan supaya mereka berbahagia dalam perkenan Tuhan”.

Berbahagialah dan kuduslah mereka yang hidupnya dikenan Tuhan.

Selama ini banyak orang beranggapan salah tentang sumber kebahagiaan. Kebahagiaan diukur pada keberhasilan "memperoleh" bukan pada kerelaan "memberi". Orang-orang berlomba-lomba mengejar kebahagiaan sekalipun dengan menggerogoti kebahagiaan orang lain. Cara seperti ini kasar, rakus, memalukan, dan menyeramkan. Kebahagiaan yang sebenarnya bersumber pada kehidupan yang bersih, berkepribadian seimbang, benar, dan jujur di hadapan Allah. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Itu sebabnya kebahagiaan hanya di dapat dalam Tuhan, di dalam ketaatan kepada hukum-hukum-Nya. Diatas semuanya itu, kebahagiaan didapat karena kita dikenan-NYA.

Kebahagiaan dan kegembiraan hidup bersumber pada kehidupan yang bersih. Mungkinkah seseorang tetap mempertahankan dan memelihara kehidupannya bersih dari dosa dan salah? Bukankah godaan-godaan di sekitar kita, kelemahan diri sendiri, dan aturan-aturan dalam masyarakat seolah membuat kita tidak bisa menjaga hidup bersih? Apa yang diusulkan pemazmur? Pengenalan akan Tuhan dan ketaatan pada firman Tuhan yang diikuti tekad untuk taat pada hukum-hukum Tuhan, mendasari kehidupan yang dikenan-NYA.

Dalam bukunya yang berjudul Laugh Again (Tertawa Lagi), Charles Swindoll mendefinisikan kekhawatiran sebagai "kegelisahan yang berlebihan akan suatu hal yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi". (Dan biasanya tidak terjadi.) Tekanan batin diartikan sebagai "ketegangan yang berlebihan terhadap situasi yang tidak dapat kita ubah atau kontrol". (Padahal Tuhan mampu.) Dan ketakutan, menurut Swindoll, adalah "kecemasan yang sangat terhadap bahaya, kejahatan, atau penderitaan". (Dan hal itu hanya akan memperbesar masalah kita.) Swindoll mengatakan, apa pun yang membuat kita khawatir, tertekan, dan ketakutan, tidak dapat menghalangi Tuhan untuk terus bekerja dalam hidup kita. Kita dapat hidup dengan keyakinan bahwa Dia mengatur segalanya. Kita dapat memasrahkan segalanya kepada-NYA. Perbaharui keyakinan kita kepada Tuhan setiap pagi. Lalu tenangkan hati kita dan berbahagialah.

Bukan memiliki tapi menjadi.

Kebahagiaan tidak didapat dengan mengejarnya. Sebaliknya, kebahagiaan merupakan hasil ikutan dari pencarian kita untuk berjalan lebih dekat dengan Tuhan. Saat melakukannya, kita akan menemukan kebahagiaan mendalam yang tak dapat diberikan oleh seseorang atau sesuatu. Itulah yang dimaksudkan Pemazmur ketika ia berkata, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Jadikan hati kita selalu damai agar kita dapat membahagiakan diri sendiri dan sesama. Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita miliki tapi pada apa yang ada dalam diri kita.
Kebahagiaan bukan memiliki tapi menjadi. Not “To Have” but “To Be”.

KEBAHAGIAAN SEJATI ADALAH APABILA HIDUP KITA DI KENAN-NYA

Salam WOW


Sabda Bina Diri – Sabtu, 8 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 12:1-11)

PENGHARAPAN DAN DOA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pengharapan itu seperti jalan di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan. Tapi jika kita mendoakannya, jalan itu menjadi ada.

DOA senjata jemaat.

Bacaan kita mencatat, pembebasan Petrus dari penjara yang membuat rancangan Herodes terhadap dirinya menjadi berantakan, dan hidup Petrus pun terpelihara untuk pelayanan selanjutnya. Satu hal yang memuliakan pembebasan Petrus adalah bahwa pembebasan itu merupakan jawaban terhadap DOA (ay. 5). Petrus ditahan di dalam penjara dengan penjagaan yang sangat ketat (ay. 4), sehingga sama sekali mustahil untuk dapat membebaskan dia, baik dengan kekerasan maupun dengan diam-diam. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah, sebab DOA merupakan senjata jemaat.

Bila kita memperhatikan peristiwa yang dialami Petrus dalam penjara, belenggu di tangannya terlepas (ay. 7-8), dan akhirnya bebas dari penjara itu (ay. 9-10), tidaklah berlebihan jika Petrus menyadari bahwa itulah yang dinamakan mukjizat (ay. 11).
Petrus yakin bahwa campur tangan Tuhan membuat bermacam-macam terobosan yang mengejutkan dan tidak terduga. Membebaskan manusia ketika sudah tidak ada PENGHARAPAN.

Pengharapan melahirkan doa, doa melahirkan mukjizat.

Ada begitu banyak peristiwa-peristiwa yang tak terduga terjadi di sekitar kita. Ada peristiwa yang melibatkan diri kita, ada juga peristiwa yang melibatkan orang lain. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya: "bagaimana mungkin aku atau dia atau mereka dapat mengalami peristiwa itu?" Berbagai pertanyaan akhirnya menutup keterkejutan tersebut.

Kehidupan manusia penuh dengan ceritera seperti itu. Ada orang yang sakit sekarat tidak ada lagi pengharapan, tiba-tiba bebas dari penjara dari kematian dan penderitaan yang mengerikan, tanpa disadari darimana mukjizat itu datang. Apakah kita akan mengatakan bahwa semua itu diatur oleh sang nasib, atau semua yang terjadi itu semata-mata hanyalah kebetulan saja? Tidak. Didalam Pengharapan dan Doa terkandung mukjizat Ilahi.

Kita dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara. Tapi hanya 1 detik jika tanpa pengharapan. Kehidupan kita adalah indah bila kita tahu jalan mana yang benar, harapan ada bahkan mukjizat nyata, bila kita percaya.

DIMANA ADA PENGHARAPAN DAN DOA,
MUKJIZAT ITU NYATA.

Salam WOW


Kamis, 06 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Jumat, 7 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 11:19-30)

INDAHNYA MEMBERI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Diberkatilah orang yang memberi tanpa mengingat dan yang menerima tanpa lupa. Memberi lebih banyak dari yang diharapkan orang, merupakan jalan baik untuk menerima kembali lebih banyak dari yang kita harapkan.

Memberi, ciri gereja sejati.
Bacaan kita mau mengatakan bahwa: Penganiayaan tidak menghentikan semangat Kristen memberitakan Injil kepada orang Yahudi (ay. 19). Di antara yang memberitakan Injil, ternyata sudah ada orang sebelum mereka yang juga memberitakan Injil kepada orang Yunani, dan pelayanan ini pun diberkati Tuhan (ay. 20-21).
Berita tentang penyebaran Injil ke Utara, harus dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikannya, gereja di Yerusalem mengutus Barnabas. Barnabas mengajak Saulus ke Antiokhia dan tinggal di sana selama satu tahun. Mereka mengajar banyak orang, dan hasilnya memberi sumbangan abadi bagi Kekristenan karena dari sanalah murid-murid disebut Kristen untuk pertama kalinya (ay. 26).
Perkembangan yang mengagumkan ini juga diperkuat dengan kasih yang mereka tunjukkan terhadap sesama Kristen yang terancam bahaya kelaparan (ay. 27-30), yaitu ketika gereja di Yerusalem yang memiliki kemampuan mengajar, dibantu kebutuhan materinya oleh gereja di Antiokhia, yang memiliki kebutuhan akan pengajaran. Di sinilah prinsip memberi dan menerima terlaksana dengan indahnya.
Semakin banyak memberi semakin banyak menerima.
Jangan memberi dari apa yg kita punya, namun berilah apa yang dibutuhkan orang lain. Sama seperti sinar mentari, memberi Kehangatan di hati. Mentari memberi tak harap kembali, tidak memilih siapa yang ia sinari. Kebahagiaan akan tumbuh berkembang manakala kita membantu sesama. Namun, bilamana kita tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan tanaman, harus terus disirami tiap hari dengan sikap dan tindakan memberi.
Ini cerita tentang seorang dokter yang bekerja di daerah terpencil Minnesota. Suatu ketika salah satu keluarga penduduk asli Amerika memohonnya untuk datang dan membantu penyembuhan nenek mereka yang sudah tua, yang sedang sakit parah. Dokter itu datang, mendiagnosa keadaannya, dan kemudian memberi instruksi terperinci untuk perawatannya.

Nenek itu sembuh, dan beberapa minggu kemudian seluruh keluarga tersebut melakukan perjalanan ke tempat praktek dokter tersebut di kota. Mereka menghadiahi dokter itu sepasang moccasin (sepatu dari kulit yang halus bulunya) yang berusia 150 tahun buatan leluhur mereka. Ketika dokter itu mengajukan keberatan karena menganggap pemberian itu terlalu bagus dan berharga, kepala suku itu menjawab, “Anda telah menyelamatkan hidup ibu saya. Kami meminta dengan sungguh-sungguh agar Anda bersedia menerima sepasang moccasin ini. KAMI TIDAK TERBIASA MENGUNGKAPKAN PENGHORMATAN YANG BESAR DENGAN PEMBERIAN YANG MURAH.”

MEMBERI ADALAH BAHASA YANG BISA DIDENGAR OLEH ORANG TULI DAN DILIHAT OLEH ORANG BUTA.

Salam WOW


Sabda Bina Diri – Kamis, 6 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 11:1-18)

KEUTUHAN ADALAH KEKUATAN
PERPECAHAN ADALAH KELEMAHAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Keberanian dibutuhkan untuk berdiri dan bicara. Keberanian juga dibutuhkan untuk duduk dan mendengar. Kadang perpecahan terjadi karena semua ingin berdiri dan bicara. Dibutuhkan keberanian untuk duduk dan mendengar agar keutuhan tercapai.

Pertahankan keutuhan gereja.

Bacaan kita memaparkan, Petrus diperhadapkan dengan tuduhan melakukan tindakan semena-mena dan merasa dirinya paling benar. Sebagai seorang pemimpin tentunya Petrus berhak menentukan strategi dan rencana-rencana baru. Menyadari akan timbulnya perpecahan di Jemaat, maka Petrus pun dengan rendah hati memberikan penjelasan atas strateginya tersebut.

Secara kronologis, Petrus menceritakan empat tahapan wahyu ilahi yang ia dapatkan sebelum membaptis Kornelius. Pertama, mendapatkan penglihatan Ilahi (ay. 4-10). Kedua, menerima perintah Ilahi (ay. 11-12). Ketiga, melihat adanya persiapan Ilahi (ay. 13-14). Keempat, Petrus menyaksikan Allah sendiri yang bertindak (ay. 15-17). Semua tahapan Ilahi itu mendemonstrasikan secara meyakinkan bahwa Allah menerima orang kafir untuk masuk dalam komunitas Kristen.

Petrus bisa mempertahankan keutuhan jemaat sehingga tidak terjadi perpecahan. Bila perbedaan pandangan di dalam jemaat dipandang sebagai usaha-usaha menjatuhkan atau mencelakakan dan tidak dituntaskan, maka gereja akan mengalami perpecahan. Jemaat di Jerusalem akhirnya menerima penjelasan Petrus dan memuliakan Allah (ay. 18). Kritikan berhenti, penyembahan dimulai, dan keutuhan Gereja pun dipertahankan.

Begitupun kita hari ini.

Sebagai pemimpin di gereja, ada baiknya kita meneladani cara Petrus mengatasi potensi perpecahan gereja. Tidak ada jemaat yang sulit, yang ada adalah jemaat yang belum kita pahami. Cabalah pahami dirinya, mungkin pada akhirnya, kita akan mengerti mengapa ia menjadi sulit.

Mulailah dengan yang paling sederhana, terapkan satunya kata dan perbuatan kita. Kita bisa mengucapkan, kita juga bisa menerapkannya. Jemaat melihat kata dan perbuatan kita. Jangan sampai keduanya bertentangan.

Berikutnya, tunjukkan empati. Satu rasa satu hati satu aksi dengan jemaat. Coba pakai sepatu jemaat, rasakan apa yang jemaat rasakan. Buatlah jarak dengan hal-hal yang bersifat materi. Fokus pada pelayanan jangan pada kekayaan duniawi.

Berusahalah objektif. Tunjukkan perlakukan yang adil kepada semua jemaat. Katakan benar atas benar, salah atas salah. Terakhir, milikilah penilaian yang baik tentang berbagai persoalan, dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang terbaik pada waktu yang tepat.

BELAJAR MEMOTONG POHON YANG PALING EFEKTIF ADALAH DENGAN MEMOTONGNYA. CARA BERSATU YANG PALING EFEKTIF ADALAH DENGAN BERSATU. KEUTUHAN ADALAH KEKUATAN, PERPECAHAN ADALAH KELEMAHAN.

Salam WOW

Selasa, 04 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Rabu, 5 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 10:25-33)

TULUS TAPI TAK BERLEBIHAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Cara terbaik menunjukkan hormat kepada Hamba Tuhan adalah memberi mereka kesempatan untuk menasihati kita dan kita mendengarkan mereka. Itu lebih dari cukup untuk menghormati mereka.

Jangan seperti hormat Kornelius kepada Petrus.

Bacaan kita menceritakan perbincangan dan penyambutan Kornelius terhadap Petrus. Penghargaan dan kehormatan yang tulus sekaligus tidak semestinya yang diberikan Kornelius kepada Petrus, ditunjukkan ketika Kornelius menyambut Petrus. Bukannya menyalami dan memeluknya sebagai sahabat, yang akan lebih disukai oleh Petrus, ia malah tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus (ay. 25).

Penolakan Petrus yang sopan sekaligus benar dan saleh atas kehormatan yang diberikan kepadanya ini, adalah tepat. Petrus membangunkan dia dan merangkulnya, dengan tangannya sendiri (meskipun ia tidak pernah menduga akan menerima kehormatan sebesar itu atau menunjukkan perhatian sebesar itu kepada seorang bukan-Yahudi yang tidak bersunat). Katanya, “Bangunlah, aku hanya manusia biasa saja (ay. 26), dan karena itu tidak boleh disembah seperti ini.

Begitupun sikap kita kepada Hamba Tuhan.

Menghormati, menghargai, dan mendukung, Hamba Tuhan, baik adanya. Apalagi bila tulus dilakukan. Tetapi diatas semuanya itu, janganlah berlebihan. Penghormatan yang berlebihan akan menjadi tak patut. Hamba Tuhan tidak selalu memberikan perintah yang benar. Karenanya, butuh dikoreksi. Butuh masukan dan diluruskan. Tidak selamanya Hamba Tuhan benar. Kadang mereka terpeleset. Sehingga butuh ketegasan mengoreksinya. Penghormatan yang berlebih terhadap Hamba Tuhan akan berdampak pada sungkannya kita memberi masukan.

Tokoh Perjanjian Lama Ayub dan Daniel mempunyai banyak kemiripan. Keduanya mengalami berbagai percobaan dan tantangan berat. Akan tetapi, keduanya juga memperoleh sukses besar berkat kehadiran Allah di dalam hidup mereka. Keduanya dipandang sebagai raksasa-raksasa iman, yang seorang karena kesabarannya dalam menanggung penderitaan, dan yang lain karena kesuciannya di tengah budaya yang najis.

Ayub dan Daniel mempunyai persamaan yang lain, yaitu masing-masing mempunyai tiga orang sahabat yang berarti. Akan tetapi, persamaan mereka berakhir di sini. Teman-teman Ayub menjadi duri dalam daging. Mereka justru menyalahkannya ketika ia membutuhkan belas kasih dan pendampingan. Pada saat Ayub bergumul dengan kehilangan dan kesedihan, Elifas, Bildad, dan Zofar tampaknya cenderung menambah kesakitannya daripada memberi pertolongan dalam kesengsaraannya.

Ketiga teman Daniel sangat berbeda. Ketika mereka bersama-sama ditangkap, Daniel dan sahabat-sahabatnya; Sadrakh, Mesakh, dan Abednego saling mendukung serta menguatkan dalam masa-masa sulit ini. Mereka berdiri bersama-sama untuk menghormati Allah dan berdoa, serta menolak untuk menyembah patung raja. Sahabat-sahabat seperti inilah yang dibutuhkan oleh para Hamba Tuhan!

Menghormati dengan tulus tapi tak berlebihan.

HORMATILAH PARA HAMBA TUHAN. JADILAH SAHABAT MEREKA. LAKUKAN DENGAN TULUS, TAPI JANGAN BERLEBIHAN. KARENA ITU TAK PATUT, SEBAB MEREKA HANYALAH MANUSIA BIASA.



Salam WOW

Senin, 03 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Senin, 3 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 9:1-9)

PENGAMPUNAN MEMBAWA PADA PERTOBATAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Kejahatan di balas kejahatan, adalah dendam.
Kebaikan dibalas kebaikan, adalah lumrah.
kebaikan dibalas kejahatan, adalah bebal.
Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itulah mulia dan agung.

Demikian perlakuan Tuhan pada Saulus.

Saulus  pergi ke Damsyik dengan hati yang berkobar-kobar untuk menganiaya orang-orang Kristen, dan dengan kekuasaan dan kekuatan (ay. 1). Tetapi kemudian keadaan berbalik, ia memasuki dan tinggal di Damsyik sebagai orang yang tidak makan dan minum selama tiga hari (ay. 9), sebagai orang yang tidak dapat melihat, dan harus dituntun orang lain (ay.8).
Saulus juga berangkat ke Damsyik sebagai orang yang membenci para pengikut Tuhan (ay. 2), tetapi kemudian ia memanggil Yesus sebagai Tuhan (ay. 5). Ia berangkat ke Damsyik dengan rencana jahat, tetapi kemudian memasuki Damsyik dengan penantian perintah selanjutnya dari Tuhan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi (ay. 6).

Pertobatan Saulus diawali oleh suatu pembalikan keadaan. Arogansi dan keyakinannya bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Allah hanya dapat dihancurkan melalui peristiwa ini. Secara dramatis Saulus disadarkan bahwa apa yang dilakukannya justru merupakan penganiayaan terhadap diri Tuhan sendiri, tidak hanya kepada pengikut Kristus. Dari sinilah jalan pertobatan Saulus dimulai.

Tuhan memakai perlakuan buruk orang lain terhadap kita sebagai jalan menuntun orang tersebut pada pertobatan melalui pengampunan.

Kalau Tuhan mengampuni orang yang menganiaya pengikutnya, apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita pun harus mengampuni! Sekalipun itu musuhmu. Ampunilah dia. Karena, melakukan kesalahan adalah manusiawi, sementara mengampuni adalah ilahi. Dalam kehidupan sosial dan persekutuan, kita kerap mengalami perlakuan buruk dari orang lain. Bahkan mungkin kejahatan. Bacaan kita menganjurkan kita untuk mengampuni. Pengampunan dari kita akan membawa orang tersebut pada jalan pertobatannya.

Dari ketiga hal ini: Cinta, doa dan pengampunan. Lakukan terlebih dahulu pengampunan, maka dua yang sisa pasti terikut. Jadikan pengampunan bukan tindakan yang sesekali tapi terus menerus sampai kita tidak lagi mengalami kejahatan.

INDAHNYA HIDUP DAN KEHIDUPAN KEMANUSIAAN KITA ADALAH KETIKA KITA MEMAAFKAN DAN MENGAMPUNI ORANG LAIN.




SAAT TEDUH – Selasa, 4 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 10:1-8)

PILIHAN-NYA TAK PERNAH SALAH
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Sering kali, pilihan Tuhan tidak seperti yang kita inginkan. Baru belakangan kita ketahui bahwa pilihanNYA lah yang terbaik.

Itulah kornelius.
Ketika itu belum ada seorang pun dari antara mereka yang telah dibaptis. Korneliuslah yang pertama. Dialah bukan Yahudi pertama yang menjadi pengikut Kristus. Walau bukan orang Israel, Kornelius percaya pada Allah. Dan itu dia wujudkan dalam hidup takut akan Allah Israel (ay. 2). Begitu juga seisi rumahnya. Rasa takut akan Tuhan itu mewujud dalam bentuk doa dan sedekah kepada umat Tuhan yang membutuhkan. Lalu apakah kesalehan Kornelius bertepuk sebelah tangan? Ternyata tidak. Allah melihat kesalehan Kornelius, dan ia kemudian memperoleh perkenan Tuhan.

Terbukti Tuhan sampai mengirim utusan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada Kornelius. Ini memperlihatkan betapa dekat hubungan Kornelius dengan Tuhan. Malaikat berkata bahwa doa dan sedekah Kornelius sesungguhnya bagaikan aroma persembahan yang harum di hadapan Allah (ayat 3-6). Itulah sebabnya Allah menyuruh dia untuk mengusahakan pertemuan dengan rasul Allah, yaitu Petrus (ay. 7-8).

Mengapa Tuhan memilih petobat baru?

S’bab ada tertulis: “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”.

Saat Tuhan memilih pelayan-pelayanNYA untuk menjadi pejabat di Gereja, kadang pilihanNYA tak terselami. Kita bertanya-tanya, mengapa mereka yang terpiih, menjadi bakal calon, mendapatkan suara lebih banyak dari kita yang sudah puluhan tahun lebih lama melayani? Mengapa kita yang sudah sekian periode menjadi pejabat gereja bisa kalah banyak suaranya dari mereka yang baru saja melayani, bahkan ada yang belum pernah menjadi pejabat gereja? Mengapa dia yang menjadi Penatua? Mengapa bukan saya? Dan… mengapa-mengapa lainnya menggelayuti benak kita.

Agar menjadi pilihan Tuhan. bacaan kita mengajak kita merenungkan, apakah kita sudah seperti Kornelius, dengan bertanya: Sudahkah kita saleh? Sudahkah kita takut akan Tuhan, kita serta seisi rumah kita?. Sudahkah kita memberi banyak sedekah kepada banyak orang? Sudahkah kita senantiasa berdoa kepada Tuhan?

Sesuatu yang baik, belum tentu benar.
Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga.
Sesuatu yang berharga, belum tentu bagus.

Percayalah,
PILIHAN-NYA TAK PERNAH SALAH.

Salam WOW







Minggu, 02 Juli 2017

Sabda Bina Diri – Minggu, 2 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 8:14-25)

TERSANDUNG UANG
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Uang seperti sepatu. Apabila kekecilan akan membuat sesak. Apabila kebesaran akan membuat kita tersandung dalam perjalanan.

Simon masih dipengaruhi dengan praktek perdukunan dan beranggapan bahwa kuasa Roh Kudus dapat dibeli dengan uang. Petrus menegurnya dengan keras untuk itu. Petrus memperlihatkan kejahatan apa yang diperbuat Simon: “Engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang “ (ay. 20). Simon si tukang sihir itu memandang kekayaan dunia ini terlalu tinggi, seolah-olah kekayaan itu bisa untuk apa saja. Menurut Simon, uang juga akan memberi jawaban bagi segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan di akhirat, dan bisa membeli pengampunan dosa, karunia Roh Kudus, dan kehidupan kekal.

Simon memandang rendah karunia Roh Kudus dan menempatkannya sederajat dengan karunia-karunia biasa dari pemeliharaan alam. Ia menyangka bahwa kekuatan seorang rasul juga bisa diperoleh dengan membayar uang yang cukup, sama seperti membayar jasa seorang dokter, akuntan atau pengacara. Ini sungguh merupakan penghinaan terbesar terhadap Roh anugerah dan para pelayan Tuhan. Simon mengira karunia Allah dapat dibeli dengan uang. Padahal tawaran anugerah ilahi, terang benderang, terjadi tanpa uang dan tanpa harga.

Uang, hati dan empedu pahit

Hati kita sudah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan cinta uang: sebab kulihat bahwa engkau begitu (ay. 23).  Empedu yang pahit menjijikkan bagi Allah, seperti halnya kita jijik pada apa yang pahit seperti empedu. Dosa cinta uang adalah hal yang keji, yang dibenci Tuhan, yang karenanya orang-orang berdosa menjadi kekejian di mataNYA. Hati kita terjerat dalam cinta akan uang. Terjerat dalam penghakiman Allah karena kesalahan dosa, dan terjerat di bawah kuasa Iblis karena kuasa dosa. Hati kita ditawan oleh kuasa Iblis untuk mencintai uang.

Mungkin dalam pekerjaan kita sudah mendapat nama besar di kalangan orang banyak. Mungkin juga dalam pelayanan kita mendapatkan nama baik di kalangan umat Allah.
Tetapi bacaan kita mengatakan, bisa jadi seseorang tetap berada di bawah kuasa dosa namun ia menunjukkan sikap saleh. Perhatikanlah, kedok orang-orang munafik sering kali cepat terbuka. Sifat serigala menunjukkan dirinya sendiri kendati ia berbulu domba. Menganggap segalanya dapat dibeli dengan uang.

Hanya orang bebal yang menjadikan uang sebagai tuan atas dirinya. Uang adalah tuan yang buruk tapi sekaligus hamba yang baik. Karenanya, jangan dipertuan oleh uang. Jadikan uang sebagai hamba yang mudah diatur dan disuruh-suruh. Uang bukan segalanya dan segalanya tak dapat dibeli dengan uang.

Paling tidak, kasih karunia Allah tak terbeli dengan uangmu.

Uang dapat menjadi batu sandungan. Karenanya, jangan 
TERSANDUNG UANG.



Sabda Bina Diri – Sabtu, 1 Juli 2017

(Kisah Para Rasul 8:1-3)

DIHAMBAT MERAMBAT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Saat dihambat terus merambat. Saat dihadang tetap berkembang.

Ada tertulis: “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain, menyebar sebagaimana yang sudah disepakati ke seluruh daerah Yudea dan Samaria”. Sebab kepada mereka telah diberitahu, bahwa mereka harus menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem terlebih dahulu, lalu di seluruh Yudea dan Samaria, dan kemudian sampai ke ujung bumi. 

Sejarah mengisahkan bahwa kekristenan berulang kali menghadapi tekanan, ancaman, hambatan bahkan penganiayaan. Wajarlah, bila orang-orang Kristen saat itu merasa takut dan cemas (ay. 1b). penganiayaan besar pertama yang sangat hebat terhadap gereja. Laki-laki dan perempuan dimasukkan ke dalam penjara (ay. 3) dan disesah banyak juga dihukum mati. Namun Allah menggunakan penganiayaan ini untuk memulai pekerjaan pekabaran Injil yang besar dari gereja.

Penganiayaan yang hebat atas jemaat mula-mula di Yerusalem tidak menghentikan perkembangan pemberitaan Injil, tetapi malah menyebabkan pemberitaan itu tersebar luas. Jemaat mula-mula menyerahkan sepenuhnya kepercayaan mereka kepada Allah; sehingga mampu menghadapi berbagai tekanan di sekitar mereka.

Bertahanlah dalam penderitaan

Pohon cemara Bristlecone adalah pohon tertua di dunia. Pohon cemara berbongkol dan sangat tua ini hampir berumur 5.000 tahun! Pohon ini sudah ada saat rakyat Mesir membangun piramid.
Pohon Bristlecone tumbuh di atas pegunungan AS bagian barat, di ketinggian kira-kira 3.050-3.350 meter. Mereka mampu bertahan hidup, bahkan di saat kondisi lingkungan yang sangat buruk sekalipun: suhu udara yang amat dingin, angin topan, lapisan udara yang tipis, dan curah hujan yang rendah. Sebenarnya, lingkungan ganaslah yang menjadi salah satu faktor sehingga mereka mampu bertahan hingga abad milenium ini. Kesengsaraan telah menumbuhkan kekuatan yang luar biasa dan tenaga yang tak kunjung habis.

Stefanus mengajarkan kita bahwa "penganiayaan menimbulkan tahan uji dan tahan uji mendatangkan kemenangan. Penderitaan akibat penganiayaan adalah proses yang Allah pakai untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Permasalahan yang membuat kita datang kepada Tuhan, sebenarnya dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Hal itu membuat kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Diatas semuanya itu, semakin dianiaya dan semakin kita menderita maka perkembangan Injil semakin menyebar.

Saat setetes cuka masuk ke dalam gelas, airnya menjadi asam.
Namun saat diteteskan ke danau, tidak ada rasanya.
Demikian pula, bukan hambatan melainkan semangat melayani 
yang menentukan merambatnya penyebaran Injil.

SEMAKIN DIHAMBAT SEMAKIN MERAMBAT 



Kamis, 29 Juni 2017

SABDA BINA DIRI - Jumat, 30 Juni 2017

(Kisah Para Rasul 7:51-53)

DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Perselisihan terjadi bukan karena adanya perbedaan,
melainkan karena ada pihak yang tak mendengarkan teguran
dan kritikan dengan baik. Teguran dan Kritikan itu ibarat obat.
Terasa pahit diawal, tapi menyembuhkan setelahnya.

Para Imam yang keras kepala ditegur Stefanus.

Bacaan kita menjelang akhir pembelaan Stefanus. Ia menyampaikan teguran kepada para imam bahwa mereka adalah orang yang keras kepala dan senantiasa menentang Roh Kudus (ay. 51). Stefanus memaparkan, orang-orang yang beribadah di Bait Allah sebagai orang yang tegar tengkuk dan tidak bersunat hati dan telinga, yang menolak Roh Kudus, dan yang mengkhianati dan membunuh ORANG BENAR itu, dengan demikian mereka mengikuti teladan dari para leluhur mereka yang pemberontak (ay. 52). Stefanus telah dituduh sebagai menghujat hukum Musa. Jawaban Stefanus ialah bahwa sesungguhnya bukan dirinya yang bersalah atas dosa ini tetapi orang-orang Yahudi, yang sejak zaman Musa telah melanggar Firman Allah.

Para imam tak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka keliru. Mereka juga tidak penurut (ay. 53) sehingga tidak bersedia menerima kehadiran Kristus.

Begitupun adanya kita.

Adakalanya kita pun menentang suara Roh Kudus. kita melakukannya dengan pelbagai cara dan dalih. Kadang kita mendiamkannya, atau menganggap itu adalah suara hati sendiri yang tidak perlu digubris. Akibat langsung dari semua itu bukanlah terhentinya atau terhambatnya rencana Tuhan. Ia tetap melaksanakan rencana-Nya dengan atau tanpa partisipasi kita. Tapi, dua hal yang terjadi pada diri kita: 1) Kita tidak dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat-Nya; 2) Kita tidak menerima berkat itu sendiri.

Seperti penonton, kita hanya dapat menyaksikan Tuhan bekerja tanpa bisa berbagi sukacita dengan-Nya karena kita tidak berada dalam poros saluran berkatNya. Kesalahan terbesar yang kita lakukan adalah ketika kita tak pernah merasa bersalah ketika kita melakukan kesalahan.

Perkenankan Roh Kudus berkarya di dalam diri kita sehingga
olehNYA, kita diberkati dan menjadi berkat bagi sesama.

DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI.

Salam WOW

Rabu, 28 Juni 2017

Sabda Bina Diri - Kamis, 29 Juni 2017

(Kisah Para Rasul 7:1-29)

ANUGERAH TUK TAK GAGAL
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Tujuan tunggal khotbah  Stefanus ini adalah dalam
rangka membela dirinya terhadap tuduhan fitnah. Khotbah panjang itu pada intinya, mengurai bahwa sepanjang sejarah Israel, Tuhan telah membangkitkan hamba-hamba-Nya untuk memimpin dan menyelamatkan Israel: Abraham (ay. 2-8), Yusuf (ay. 9-22), dan Musa (ay. 23-29). Namun Israel berulang kali menolak. Mereka bahkan melanggar firman-Nya. Israel tlah gagal menerima anugerahNYA.
Stefanus mengajak tuk tak gagal.

Stefanus mulai dengan memaparkan anugerah Allah yang begitu besar. Anugerah tersebut
harusnya direspons dengan syukur dan sukacita, disertai tekad untuk setia kepada Tuhan dan tidak berpaling kepada ilah-ilah bangsa lain. Anugerah Allah nyata ketika Tuhan memilih dan memanggil Abraham keluar dari negerinya yang masih menyembah berhala, untuk menjadi cikal bakal umat Allah yang menerima segala janji dan berkat-Nya. Janji itu luar biasa. Bukan kepada Abraham langsung, tetapi kepada keturunannya, yaitu umat Israel. Mereka akan memiliki tanah pusaka (ay. 5). Walau, sebelum itu mereka akan mengalami terlebih dahulu diperbudak oleh bangsa Mesir, tetapi Tuhan menyelamatkan mereka. Israel menjadi tak gagal menerima anugerahNYA.

Kita diberi anugerah tuk tak gagal.

Kita yang hidup dalam era milenial, telah merasakan dan menikmati anugerah yang jauh
lebih besar daripada tanah pusaka di muka bumi ini. Kita telah menerima pusaka kekal di surga oleh karya Kristus. Tentu respons yang seharusnya adalah kita setia mengikut Dia dan giat mengabarkan Injil keselamatan-Nya agar orang lain pun beroleh anugerah besar tersebut. Itulah tugas panggilan pengutusan kita bersama.

Jangan mengeluhkan masalah remeh temeh dalam tugasmu, karena Tuhan mempunyai tujuan tuk pekerjaan pelayananmu saat ini. Pelajarilah apa yang hendak Tuhan ajarkan.

Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan. Karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita tentang arti kesungguhan.

Sudahkah kita menjalankan tugas panggilan dan pengutusan kita dengan setia dan sungguh?

#Salam_WOW


Sabda Bina Diri - Rabu, 28 Juni 2017

(Kisah Para Rasul 6:8-15)

HIKMAT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Ada tertulis: “Sekaranglah janji itu digenapi, Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu”.
Hikmat adalah bijak. Hikmat adalah akal budi.
Hikmat juga berarti pemahaman akan apa yang benar.
Stefanus memilikinya.
Kualitas pelayanan yang dilakukan oleh Stefanus sangat mengagumkan (ay. 8). Namun pelayanan Stefanus yang mengundang takjub sebagian orang, ternyata membangkitkan amarah yang besar dari orang-orang Yahudi.
Mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong Stefanus berbicara (ay. 10). Mereka tidak mampu mendukung pendirian mereka sendiri ataupun membantah pendapatnya. Melalui pendapat yang tidak dapat dilawan, ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Ia berkata-kata dengan begitu jelas dan sempurna hingga mereka tidak dapat membantah apa pun yang diucapkannya. Walaupun tidak dapat diyakinkan, mereka dikalahkan dalam debat. Tidak dikatakan bahwa mereka tidak mampu melawan dia, tetapi, mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara, Roh hikmat yang berbicara melalui dia. Mereka menyangka hanya akan berdebat dengan Stefanus dan pasti mampu mengalahkan dia, tetapi ternyata mereka berdebat dengan Roh Allah di dalam dia, yang sama sekali tidak seimbang dengan mereka.
Mereka tidak mampu mengalahkan pendapat Stefanus yang penuh urapan Roh. Kemudian, mereka melancarkan tuduhan palsu; dan menghasut para tua-tua dan ahli Taurat untuk menyeretnya ke pengadilan (ay. 11-12). Akhirnya Stefanus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama (ay. 13-15). Pola ini berulang-ulang terjadi di dalam kehidupan dan perkembangan gereja mula-mula. Gereja masa kini pun harus waspada, sebab pola yang demikian masih terjadi. Gereja difitnah, masyarakat sekitar dihasut untuk melakukan kekerasan terhadap gereja.
Dua hal yang Gereja harus lakukan:
Pertama, Gereja harus senantiasa berada di bawah kuasa Roh agar mampu bertahan. Kedua, Gereja harus seperti Stefanus, walaupun dibawa ke Mahkamah Agama, wajahnya tetap bersinar seperti malaikat.
Payung...tidak dapat menghentikan hujan,
tetapi membuat kita dapat berjalan menembus derasnya hujan.
Begitupun dengan Hikmat.
Berhikmat kepada Tuhan tidak menghentikan masalah,
tetapi memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan
bahkan berselancar diatasnya.
Mari lakukan apa yang menjadi bagian kita.
TUHAN akan mengerjakan bagian-NYA. Amin.