Minggu, 06 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Sabtu, 5 Agustus 2017 (Filemon 1:1-7)


DI DOA SAHABATKU ADA NAMAKU DISEBUT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Apapun yang kita rencanakan, apapun yang ingin kita lakukan, awalilah dengan doa. Kekuatan doa tak kan pernah meninggalkan kita. Doa adalah senjata terbesar yang tak seorangpun mampu mengambilnya dari kita.    

Doa bagi orang lain jangan hanya bagi diri sendiri.

Dalam dua ayat pertama dari bagian pengantar bacaan, kita mendapati siapa yang menulis dan kepada siapa surat itu ditulis, dengan beberapa keterangan dan sebutan tambahan, yang sedikit banyak menyiratkan tujuan surat ini ditulis (ay. 1-2). Selanjutnya, Salam Rasul Paulus kepada orang-orang yang dia sebut (ay. 3). Rasul Paulus mengungkapkan kasih sayangnya seutuhnya kepada Filemon, dengan mengucap syukur dan berdoa kepada Allah atas namanya, dan sangat bersukacita atas banyak kebaikan pada diri Filemon yang ia tahu dan dengar (ay. 4-7).

Doa-doa dan puji-pujian kita harus dipersembahkan kepada Allah, bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain. Menyampaikan permohonan secara pribadi tidak boleh dilakukan dengan jiwa mementingkan diri sendiri, dengan hanya memikirkan urusan-urusan kita, tetapi orang lain juga harus kita ingat. Kita harus tersentuh dengan sukacita dan ucapan syukur atas kebaikan apa saja yang ada pada mereka, atau dilakukan oleh mereka, atau dianugerahkan kepada mereka, sejauh itu kita ketahui, dan mengusahakan apa yang mereka butuhkan. Ini merupakan bagian penting yang harus ada dalam persekutuan orang-orang kudus. Paulus, dalam ucapan syukur dan doa pribadinya, sering kali mengingat teman-temannya secara khusus: Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku. Kadang-kadang ia menyebutkan nama, atau paling tidak mengingat mereka secara khusus dalam pikirannya. Dan Allah tahu siapa yang dimaksudkan, meskipun namanya tidak disebutkan. Ini adalah sarana untuk menerapkan kasih dan mendapatkan kebaikan bagi orang lain.

Aku dan kamu menjadi kita. Doa kita. Seperti sahabat mendoakan sahabatnya.

Jangan hanya mendoakan diri sendiri dan keluarga. Sahabat bahkan orang lainpun seharusnyalah kita doakan. Seperti Paulus yang mendoakan sahabat-sahabatnya, begitupun kita. Sebut sahabat kita dalam doa-doa kita. Itulah doa sejati.

Ingatlah sahabat-sahabat kita dalam doa kita. Jangan lupakan mereka. Persahabatan sejati adalah persahabatan yang saling mendoakan.

JANGAN BERDOA HANYA MENGHARAP KEMUDAHAN. TAPI BERDOALAH MENGHARAP PENYERTAAN TUHAN DALAM SETIAP KESULITAN HIDUP KITA, KELUARGA DAN SAHABAT-SAHABAT KITA.

#Salam_WOW

SH:
Pasal ini merupakan biografi Hosea yang menggambarkan tentang perselingkuhan (persundalan) Israel (ayat 2). Perintah untuk mengawini perempuan sundal (ayat 2) dan tindakan Hosea mengawini Gomer, serta kelahiran anak-anaknya (ayat 3-6, 8-9) merupakan gambaran yang mengungkapkan sikap dan rencana Allah terhadap umat-Nya Israel. Perempuan sundal merupakan gambaran tentang sikap Israel yang telah menyimpang dari Allah. Kata ‘sundal’ menggambarkan penyimpangan yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Itulah sebabnya Hosea juga mengungkapkan hal itu dengan ungkapan yang lebih signifikan lagi, yaitu bahwa roh perzinahan telah menyesatkan Israel (bdk. 4:12, 5:4).Nama anak- anak Hosea seperti Yizreel (ayat 4), Lo-Ruhama: tidak dikasihi (terjemahan lain, ayat 6), dan Lo-Ami" bukan umat-Ku (ayat 9), merupakan nama-nama yang menggambarkan penolakan Allah terhadap umat Israel, khususnya Israel Utara. Bahkan Allah tidak akan mengampuni mereka lagi (ayat 6). Terjemahan yang lebih cocok dari kalimat, ‘tidak mengampuni lagi’ adalah ‘seluruh kasih-Ku akan kuambil dari mereka’.
Jika ditimbang dari perselingkuhan Israel, memang Israel tidak lagi pantas diampuni. Tetapi akhirnya pengampunan dan penyelamatan itu datang juga kepada Israel dan Yehuda (ayat 10-12). Kabar baik itu diungkapkan juga melalui perubahan nama anak-anak Hosea. Lo-Ruhama menjadi Ruhama (yang dikasihi), dan Lo-Ami menjadi Ami (umat-Ku).
Renungkan:
Seluruh umat manusia juga pantas dihukum karena dosa-dosanya, tetapi karena kasih Allah, keselamatan itu telah datang ke dunia melalui Yesus Kristus. Karena itu hiduplah dalam kasih-Nya.




Sabda Bina Diri - Jumat, 4 Agustus 2017 (Titus 3:9-14)


YANG BERDEBAT YANG SIA-SIA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Cara terbaik untuk menang dalam perdebatan adalah jangan pernah memulainya. Lebih baik terlihat bodoh, padahal tidak. Daripada, terlihat pintar, padahal tidak.          

Elakkanlah perdebatan.

Bacaan kita menegaskan, Paulus memberi tahu Titus apa yang harus dihindarinya dalam mengajar (ay. 9). Ada pertanyaan-pertanyaan yang memang perlu didiskusikan dan dijernihkan, yang bisa meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat, tetapi persoalan-persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, yang tidak memberi kemuliaan bagi Allah dan juga tidak membangun manusia, haruslah dielakkan.

Akan tetapi, karena akan ada pengajaran-pengajaran sesat dan bidat dalam jemaat, Rasul Paulus kemudian mengarahkan Titus mengenai apa yang harus dilakukannya bila hal itu terjadi, dan bagaimana harus menghadapinya (ay. 10). Seorang Pelayan Tuhan bertugas membina iman jemaat. Namun ada saja kemungkinan si pelayan harus menghadapi orang yang senang berdebat. Orang semacam ini bukan sedang mencari jawaban atas pergumulan imannya. Biasanya ia hanya senang cari-cari masalah. Menurut Paulus, ini harus dihindari (ayat 9). Meski sanggup mempertahankan iman, tak ada guna buang-buang waktu karena yang dicari bukanlah kebenaran. Jadi jangan sampai terjebak pada debat kusir. Itu tidak membuat Injil dikenal orang. Perdebatan tak akan membuat iman seseorang bertumbuh. Juga jangan sampai orang merasa diri saleh hanya karena ia sibuk mendiskusikan masalah iman. Kekristenan tak hanya berhenti sampai wacana, melainkan harus mewujud dalam tindakan. Bukan berarti tak ada tempat untuk mendiskusikan iman, tetapi iman yang tidak berakhir pada sebuah tindakan adalah sia-sia. Mendiskusikan iman bukan ditujukan untuk membuktikan pendapat atau memenangkan argumen.

Elakkanlah pertengkaran lidah.

Perdebatan adalah pertengkaran lidah. Tak ada sama sekali manfaat yang dapat dipetik dari sebuah pertengkaran lidah. Apalagi dalam pelayanan. Hindarilah. Orang yang yakin bahwa dia benar, tidak akan merasa harus menjelaskan. Hanya orang yang tidak yakin mengenai pendapatnya, yang akan sibuk menjelaskan. Maka, diamlah. Damailah dalam kebenaran yang kita yakini. Elakkanlah perdebatan.

Untuk menghindari perdebatan yang sia-sia dalam sebuah pelayanan, ada dua pilihan; Berkata-katalah dengan baik atau diamlah. Sebaiknya menghindari pembicaraan yang berujung pada kesia-siaan dan dosa semata. Begitu Nampak pembicaraan menuju kearah perdebatan yang sia-sia, segera akhiri. Sedapat mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara, meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar


TAK ADA HAL BAIK YANG DIDAPAT DARI PERDEBATAN DALAM PELAYANAN. KECUALI HATI YANG LUKA DAN PELAYANAN YANG KEHILANGAN DAMAI SEJAHTERA.

#Salam_WOW



Rabu, 02 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Kamis, 3 Agustus 2017 (Titus 3:1-8)

MAU MENDENGAR DAN MINTA MAAF
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pertengkaran terjadi karena kedua belah pihak ingin didengar 
dan kedua belah pihak tak mau mendengar.

Hendaklah selalu ramah.

Dalam bacaan kita, Paulus mengingatkan Titus agar memberitahu: Janganlah mereka bertengkar, jangan berkelahi (ay. 2), baik dengan tangan ataupun lidah, jangan menjadi orang-orang yang suka bersaing dan bertikai, yang selalu cepat membalas perkataan yang jahat dan membangkit kemarahan. Persaingan kudus hanyalah bagi hal-hal yang baik dan penting, dan dengan cara yang pantas dan layak, bukan dengan murka atau kekerasan yang merugikan. Orang Kristen harus mengikuti hal-hal yang menimbulkan kedamaian, dan dengan cara yang penuh damai.

Bukan dengan cara kasar, rusuh, dan membahayakan, tetapi dengan cara yang layak dijalankan oleh para hamba Allah damai sejahtera dan kasih. Hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut, adil dan benar, atau tulus dan jujur dalam menyikapi segala hal, tidak mengartikan perkataan atau perbuatan dalam artian terburuk. Memang demi perdamaian terkadang kita harus mengalah dengan mengorbankan hak kita.

Lemah lembut bukan hanya kepada kawan.

Bersikaplah lemah lembut terhadap semua orang. Kita harus memiliki sifat yang lembut, bukan hanya memiliki kelemahlembutan itu dalam hati saja, melainkan menunjukkannya juga dalam perkataan dan perbuatan kita. Bersikap lemah lembut sepenuhnya, lemah lembut dalam semua keadaan dan kesempatan, bukan hanya terhadap kawan-kawan kita saja, tetapi terhadap semua orang, meski tetap harus dengan hikmat. Sifat dan perilaku lemah lembut membuat kekristenan lebih disukai. Inilah teladan besar Kristus yang wajib kita amalkan.

Bagaimana mau lemah lembut kepada semua orang, kalau kepada semua orang kita tengkari. Susah kalau bertengkar menjadi gaya hidup. Sedikit-sedikit bertengkar. Sewaktu-waktu bertengkar. Kapan bersikap lemah lembutnya?

Dua hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah pertengkaran. Pertama, Mengambil inisiatif untuk meminta maaf. Butuh keberanian besar dan kasih sayang luar biasa untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada orang lain, sekalipun bukan kita yang salah. Boleh jadi teman kita sebenarnya sadar dirinya sendiri yang salah, ketika kita minta maaf duluan akan lebih mudah baginya untuk mengakui kesalahan. Biasanya dia yang lalu meminta maaf. Kalau dua-duanya bersikeras, tak kan selesai pertengkarannya.

Kedua, mulailah menjadi pendengar yang baik. Pertengkaran biasanya terjadi karena kedua belah pihak ingin didengar tapi tak mau mendengarkan. Ketika kita ingin pertengkaran ini berakhir, cobalah untuk mendengarkan dia. Tapi, mendengarkan tak lantas membuat kita membenarkannya. Dengan mendengarkan, kita bisa memahami masalah lebih utuh karena tidak hanya melihat masalah dari sisi diri sendiri saja tapi juga dari sisi orang lain. Kita juga jadi tak egois dan bisa berempati jika berada di posisi dia. Ketika kita terbiasa mendengarkannya, akan ada fase di mana kita bisa mendengarkan dan memahami tanpa perlu dia mengucapkan satu patah kata pun.

SAHABAT BIASA, MENDENGARKAN APA YANG KITA KATAKAN. TAPI SAHABAT SEJATI SELALU MENDENGARKAN APA YANG TIDAK KITA KATAKAN.

#Salam_WOW

Selasa, 01 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Rabu, 2 Agustus 2017 (Titus 2:15)


TAK KAN LARI WIBAWA DIKEJAR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Wibawa bukanlah pembungkus jiwa sampah yang busuk.
Wibawa adalah pembungkus jiwa berharga yang harum.

Beritakanlah dengan wibawa Ilahi.

Rasul Paulus menutup pasal 2 dengan ayat 15 ini, dengan sebuah petunjuk singkat untuk Titus. Kita mendapati pokok dan cara pengajaran hamba-hamba Tuhan, dan sebuah petunjuk khusus untuk Titus berkenaan dengan dirinya sendiri. Paulus mengingatkan Titus untuk: pertama, memberitakan kabar kesukaan tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua orang, bahwa Kristus telah menyerahkan diri-Nya untuk memebebaskan kita dari segala kejahatan. Tugas gereja untuk memberitakan Injil barangkali hanya membuat seseorang menjadi Kristen. Dan jika tidak diikuti dengan berbagai pembinaan, maka pada akhirnya orang-orang Kristen tersebut tidak mempunyai perbedaan yang berarti dengan orang-orang lainnya.
Bagaimana metode pengajarannya? Dengan ajaran, dan nasihat, dan teguran dengan segala KEWIBAWAAN. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Artinya, mengajarkan ajaran yang sehat, meyakinkan tentang dosa dan membuktikan kesalahan, memperbaiki hidup, dan terus melakukan hal yang adil dan baik. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik yang harus dikerjakannya sendiri atau diajarkan kepada orang lain. Inilah yang akan memperlengkapi seluruh bagian kewajibannya, dan pelaksanaannya yang benar. “Beritakanlah semuanya itu dengan wibawa Ilahi”.

Pembinaan Jemaat.

Dua hal penting yang harus dilakukan agar pemimpin Gereja beroleh hidup kekal yaitu: menerima kasih karunia dari Allah serta bertobat dari kehidupan duniawi. Oleh karena itu gereja tidak boleh lalai melaksanakan tugasnya untuk pemberitaan Kabar Baik dan pembinaan jemaat. Kedua tugas ini menjadi tanggung jawab setiap Kristen. Dan dilaksanakan dengan penuh kewibawaan.

Wibawa adalah cara membawa diri seseorang sehingga mempengaruhi orang lain menjadi hormat pada Tuhan. Pemimpin jemaat yang berwibawa akan dihormati melalui sikap dan perilaku yang sesuai dengan apa yang diajarkannya. Cara terbaik untuk berwibawa adalah mengenal dirimu sendiri dengan sebaik mungkin. Kemudian menampilkan sosok terbaik dari dirimu. Orang yang tak berwibawa selalu menjaga wibawanya. Orang yang berwibawa tidak perlu repot-repot menjaga wibawanya, karena wibawanya tak akan lari.

KITA BISA SAJA MEMOLES DIRI AGAR TERLIHAT BERWIBAWA. TAPI PADA AKHIRNYA TINDAKAN-TINDAKAN KITALAH YANG MENENTUKAN WIBAWA KITA.
 
#Salam_WOW

Senin, 31 Juli 2017

Sabda Bina Diri - SENIN, 31 Juli 2017 (Titus 2:1-2)



INGIN BIJAK? BELAJARLAH DENGAN MENGAJAR.
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Hanya ada dua profesi didunia ini. Pengajar dan profesi lainnya. Mengajar menciptakan semua profesi.

Sehat dalam iman.

Dalam Nas ini Paulus mengingatkan Titus agar memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat (ay. 1). Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana (ay. 2) janganlah berpikir bahwa kemerosotan tubuh jasmani, yang mereka rasakan di usia tua, bisa memberi mereka alasan untuk berbuat melewati batas dan tidak perlu. TERHORMAT, sikap sembrono atau main-main tidak pantas bagi siapa pun, tetapi terutama bagi orang-orang yang tua. Mereka seharusnya sabar dan tenang, terhormat dalam kebiasaan, perkataan, dan tingkah laku. Terlalu menyolok dalam berpakaian, ceroboh dan sombong dalam bertingkah laku, betapa tidak pantasnya pada umur mereka!

BIJAKSANA, tenang dan hati-hati, orang yang mengendalikan dengan baik keinginan dan kesenangan-kesenangannya, sehingga tidak mudah terdorong olah hal-hal tersebut untuk melakukan apa pun yang jahat atau tidak pantas. SEHAT DALAM IMAN, tulus dan setia, tetap berpegang kepada kebenaran Injil, tidak tergila-gila pada hal-hal baru, ataupun mudah bergabung dengan pandangan-pandangan atau kelompok-kelompok yang rusak, ataupun dialihkan oleh dongeng-dongeng atau adat istiadat Yahudi atau kepikunan rabi mereka. Orang-orang yang berumur banyak seharusnya memiliki banyak kemurahan hati dan kebaikan, batinnya semakin diperbaharui dan lebih diperbaharui lagi sementara tubuhnya mengalami kemerosotan. Dalam kebaikan kepada sesama. Ajarkan mereka seperti itu, kata Paulus kepada Titus.

Ajarkanlah.

Tahukah kita bahwa ajaran sangat mempengaruhi tingkah laku umat? Ajaran yang baik dan benar kemungkinan akan membentuk pribadi yang baik, tetapi ajaran yang salah mempunyai peluang besar untuk menciptakan pribadi yang bermasalah.

Sebagai Pendeta, Gembala, Penatua-Diaken, Pelayan Kategorial dll, kita adalah pengajar. Sama seperti Titus. Seorang pengajar yang mengajar tanpa menginspirasi muridnya dengan keinginan untuk belajar adalah seperti menempa besi dingin. Pengajar yang baik, ibarat lilin. Membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain.

Kita yang menerima ajaran dari pengajar adalah pembelajar. “Ada empat jenis pembelajar: pertama, si dungu yang tetap dungu. Kedua, si dungu yang menjadi bijak. Ketiga, si bijak yang menjadi dungu. Dan keempat, si bijak yang tetap bijak.”

Yang manakah kita?

APAKAH AJARAN DARI TUHAN TELAH MEMBENTUK PRIBADI KITA? SUDAHKAH AJARAN TUHAN DIPERMULIAKAN MELALUI KEHIDUPAN KITA? GUMULI ITU SENANTIASA DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN KITA.

#Salam_WOW

Sabda Bina Diri - Selasa, 1 Agustus 2017 (Titus 2:6-10)


YANG MUDA YANG MELAYANI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Tuhan memiliki dua tempat tinggal. Satu di Sorga, dan yang lainnya ada di hati orang muda yang rendah hati dan lemah lembut.

Penguasaan diri dalam ketertundukkan.

Bacaan kita mengajak orang muda menguasai diri dalam segala hal (ay. 6). Sebab Mereka cenderung tidak sabar dan mudah marah, kurang pertimbangan dan tergesa-gesa. Oleh karena itu mereka harus benar-benar dituntut dan dinasihati supaya penuh pertimbangan, tidak gegabah. Mereka harus dengar-dengaran dan patuh, tidak keras hati dan keras kepala, rendah hati dan lemah lembut, tidak sombong dan angkuh. Anak muda harus menjadikan dirinya teladan dalam berbuat baik (ay. 7).

Dalam pada itu, Hamba-hamba tidak boleh berpikir bahwa keadaan mereka yang hina dan rendah membuat mereka tidak mendapatkan perhatian Allah atau bebas dari kewajiban-kewajiban dari hukum-hukum-Nya (ay. 9-10). Atau bahwa, karena mereka adalah hamba manusia, maka mereka dibebaskan dari tugas melayani Allah. Tidak. Hamba-hamba harus mengetahui dan melakukan kewajiban mereka kepada tuan-tuan mereka di bumi, namun dengan mata tertuju kepada Tuan mereka di sorga.

Bukan melayani manusia.

Ada banyak orang muda yang terpanggil melayani. Tapi mereka jatuh lebih karena keangkuhan daripada karena dosa lain mana pun. Orang muda harus berperilaku terhormat dan bijaksana dalam sikap dan tingkah laku mereka. Jangan merasa unggul karena kemudaannya lalu menyepelekan pelayanan. Jangan karena unggul dalam pengetahuan lalu tak mau mendengarkan nasihat mereka yang lebih unggul pengalaman karena lebih tua.

Sebaliknya, orang muda yang melayani adalah hamba Tuhan bukan hamba manusia. Karenanya, jangan merasa hina dan rendah diri. Orang muda yang melayani adalah melayani dengan mata tertuju hanya kepada Tuhan. Bukan kepada manusia. Jangan melayani manusia. Layanilah Tuhan.

TUHAN TIDAK PERNAH MEMPERTANYAKAN KEMAMPUAN ATAU KETIDAKMAMPUAN KITA, MELAINKAN KESEDIAAN KITA UNTUK MELAYANI.

#Salam_WOW

Sabtu, 29 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Minggu, 30 Juli 2017 (Titus 1:5-11)

SATUNYA HATI DAN TINDAKAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Tiga hal penting dalam pelayanan adalah: Pengetahuan, antusiasme, dan integritas. Integritas adalah melakukan hal yang benar dalam pelayanan, ketika tidak ada orang yang melihat.
Tak ada celah diperguncingkan.

Bacaan kita menceritakan, tugas yang harus diselesaikan oleh Titus adalah menetapkan para penatua (ay. 5). Tentu tidak setiap orang dapat ditempatkan dalam pelayanan itu. Ada kualifikasi yang harus dipenuhi. Karakter dan moral harus berkualitas (ay. 6-7). Orang yang akan dipilih untuk menjadi penatua haruslah orang yang dinilai baik, dari segi perkataan (ay. 9) maupun perbuatan (ay. 8). Ia harus memiliki pemahaman iman yang benar agar dapat mengajar orang lain. Pemahaman itu akan memampukan dia juga untuk mempertanggung-jawabkan iman di hadapan musuh-musuh imannya (ay. 9). Selain kualifikasi diri, kehidupan rumah tangganya pun harus bisa menjadi panutan (ay. 6). Ini akan memperlihatkan bahwa kehidupannya di dalam rumah tangga tidak berbeda dengan kehidupannya di gereja. Pemimpin demikian membuat orang lain tak mungkin dapat mencari celah untuk memperguncingkan dia.

Satunya kata dan perbuatan, satunya hati dan tindakan.

Terkesan berat? Tidak juga! Sebenarnya yang diperlukan adalah integritas diri, yakni satunya kata dan perbuatan, satunya hati dan tindakan. Bila Kita dicalonkan untuk menjadi penatua atau diaken, jangan takut! Ingatlah bahwa banyak orang yang membutuhkan pelayanan Kita. Tuhan, niscaya akan menolong Kita. Bila Kita telah menjadi penatua atau Diaken, tetaplah teguh dalam panggilan Kita. Jangan menunggu siap baru melayani. Melayanilah, maka engkau akan disiapkan.
Suatu hari seorang karyawan diminta membuat laporan palsu di tempat kerjanya. Dengan alasan untuk menyelamatkan reputasi perusahaan dan menjaga agar klien tidak tahu bahwa perusahaannya telah menggelembungkan proyeknya. Pesan atasannya saat itu, "Klien tidak perlu tahu yang sebenarnya terjadi, karena jika mereka mengetahuinya, akan merugikan kita. Jadi kita perlu memberi mereka versi cerita yang lain."

Versi cerita yang lain itu tentu saja sama artinya dengan berbohong, dan karyawan tersebut ditugaskan untuk menjelaskan hal itu pada klien. Selama beberapa jam karyawan tersebut merasa tersiksa, ia harus membuat keputusan mengikuti apa yang diminta atasannya dan apa yang ingin ia lakukan sebagai seorang yang memiliki integritas.

Satu jam sebelum pertemuan dengan klien, ia akhirnya membuat keputusan. Ia menelepon atasannya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa berbohong kepada klien, dan bahwa harus ada solusi, lebih baik jujur dalam mengatasi masalah tersebut. Setelah menutup telepon, ia tahu bahwa waktu pemutusan hubungan kerja sudah dekat. Benar saja, ia diminta untuk mencari pekerjaan lain karena ia dianggap tidak cocok dengan budaya perusahaan.

Integritas adalah sifat jiwa yang menunjukkan kesatuan yang utuh antara memiliki potensi dengan memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Integritas adalah Karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin Gereja.

INTEGRITAS YANG SEJATI AKAN MENGHASILKAN BUAH DAN MANFAAT, BAIK BAGI DIRI SENDIRI MAUPUN BAGI ORANG LAIN. TAPI KEPALSUAN HANYA MENDATANGKAN KERUGIAN PADA AKHIRNYA.
 
#Salam_WOW

Jumat, 28 Juli 2017

Sabda Bina Diri - Sabtu, 29 Juli 2017 (Kis.14:21-28)



TABUR LALU PELIHARA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Memang, empati tidak akan menyelesaikan Masalah.  Tetapi ia akan meringankannya. Sebab, tanpa empati orang menjadi antipati.

Kasihi sampai enggan berpisah.

Bacaan kita memaparkan, Paulus dan rombongan menguatkan hati murid-murid, yakni, mereka menanamkan pada diri murid-murid apa yang pantas untuk meneguhkan mereka (ay. 22). Mereka menetapkan peimpin diantara jemaat dan berpuasa serta berdoa bersama (ay. 23). Mereka memanggil jemaat berkumpul (ay. 27). Banyak orang yang datang pada kesempatan pertama. Ada pula yang datang pada kesempatan berikut. Apa yang mereka lakukan setelah itu? Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu (ay 28). Mungkin lebih lama daripada yang mereka niatkan. Ini bukan karena mereka takut pada musuh-musuh mereka, melainkan karena mereka mengasihi sahabat-sahabat mereka dan enggan berpisah dari mereka.

Satu hal penting yang dilakukan Paulus dan Barnabas adalah tetap memelihara pertumbuhan Injil dalam kehidupan jemaat. Mereka tidak hanya menabur lalu pergi. Tetapi mereka tinggal bersama mereka untuk waktu yang tidak sebentar. Paulus dan Barnabas memelihara jemaat.

Bagaimana dengan kita?

Menabur tidaklah lebih mulia dari memelihara. Justru lebih sulit memelihara daripada menabur. Kita yang sudah dipanggil dan diutus mejadi presbiter, pengurus pelayanan kategorial, pengerja, pendeta, hamba Tuhan, jangan berhenti pada peneguhan dan pelantikan saja. Tapi gembalakan dombamu. Pelihara jemaatmu. Jangan hanya aktif diparuh pertama pelayananmu lalu selanjutnya engkau lalai memelihara jemaatmu. Kuatkan hati jemaat, panggil bersekutu, tinggal bersama mereka lebih lama, kasihi mereka seperti sahabat-sahabat terbaikmu. Itulah esensi memelihara.

Persekutuan, pelayanan dan kesaksian memerlukan pemeliharaan kita. Tanpa pemeliharaan akan sia-sia yang kita tabur. Rawatlah dengan kasih dan kepedulian yang besar apa yang telah kita tabur. Itulah yang kita namakan: “memelihara”.

TUHAN TELAH LEBIH DAHULU MEMELIHARAMU. KARENANYA, PELIHARALAH JEMAATMU, DOMBAMU.
#Salam_WOW