Orang Kristen di Tesalonika
berdukacita karena beberapa dari mereka telah mati. Firman Tuhan memang
mengajarkan bahwa kematian adalah upah dosa dan sesudah kematian akan datang
penghakiman.
Namun untuk orang yang beriman dalam
Kristus, tidak mengalami kengerian hukuman Tuhan, tidak juga kehilangan
kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Ketika Tuhan datang kali kedua, orang
beriman yang sudah mati akan dibangkitkan dan beroleh tubuh kebangkitan.
TUJUAN DAN RUTE HIDUP KITA YANG MULIA MENANDAI
PENGHARAPAN DAN KEPASTIAN MASA DEPAN
KITA BERNAMA SURGA
(Teks
lengkap renungan ini dapat dilihat pada bagian "deskripsi" Channel
YouTube saya.)
Rasul Paulus dalam bacaan kita pagi ini, menasihati jemaat Kolose untuk mematikan dosa, yang menjadi penghalang besar untuk mencari perkara-perkara yang di atas. Sudah menjadi kewajiban kita untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi.
Karena itu dalam kita melangkah, ayat 17 menegaskan, segala sesuatu harus dilakukan di dalam nama Kristus Lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Percayalah bila langkah hidup kita di dunia ini selalu di dalam nama Yesus, tangan kasih-Nya akan memimbing kita.
... Teks lengkap renungan ini dapat dilihat pada bagian "deskripsi" Channel YouTube saya.
Jangan lupa subscribe ya. https://www.youtube.com/channel/UCFdUTjLqEXWWZC38VEeP-FQ
Sabda Bina Diri #726 Rabu, 3 Juni 2020, Imamat 18:1-5
HAI MUSAFIR KEMANA ARAH LANGKAHMU? Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th
Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu. (ay. 4)
Banyak di antara kita yang rindu membaca tuntas Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, dalam setahun, misalnya. Setelah terpesona oleh kisah sejarah awal peradaban manusia pada kitab Kejadian dan pembebasan yang dramatis pada kitab Keluaran, kita terhenti di pertengahan Kitab Imamat.
Kita menganggap kitab Imamat hanyalah pegangan teknis beribadah bagi para imam. Padahal tidak. Imamat ini adalah kitab wajib bagi kita para musafir, pegangan hidup bagi kita yang melakukan perjalanan hidup yang telah dilepaskan dari hidup lama kita, dan sedang menuju masa depan yang penuh kemenangan, seperti yang dirancangkan Allah.
Perjalanan hidup yang seperti apa? Kemana arah langkah hidup kita? Simak syair Kidung Jemaat No. 269 ini:
Hai musafir, mau kemana kau arahkan langkahmu? Kami ikut titah Raja dan berjalan tak lesu: Lewat gunung dan dataran arah kami ke istana, Arah kami ke istana kota Raja yang kudus. Arah kami ke istana kota Raja yang kudus.
Sebagai musafir, kita harus melakukan perjalanan hidup seperti yang diperintahkan Nas kita, ayat empat. "Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah Tuhan, Allahmu."
Ikan Salmon
Alkisah, ada seorang anak muda asal Idaho bernama John Nash yang senang mengamati dan terpesona pada ikan Salmon. John kerap mengamati perjalanan panjang yang melelahkan ikan Salmon untuk pulang ke gundukan pasir di sepanjang Danau Creek.
Beberapa bulan sebelumnya, kawanan ikan salmon itu meninggalkan Samudra Pasifik dan memulai perjalanan melewati Kolombia menuju Sungai Snake, kemudian berenang di sepanjang cabang Sungai Salmon menuju East Fork, lalu mengarungi arus Sungai Secesh menuju Danau Creek. Mereka menempuh jarak lebih dari 1.126 km.
Didorong naluri, ikan-ikan salmon itu berenang menentang arus, melintasi air terjun, dan mengitari dam-dam pembangkit listrik. Meski menghadapi ancaman elang, beruang, dan banyak predator lainnya, mereka berjuang mencapai tempat yang biasa digunakan para leluhur mereka untuk menaruh telur-telur.
Perjalanan itu mengingatkan pada perjalanan panjang kita sebagai musafir. Kita pun punya naluri untuk pulang persis seperti ikan salmon itu. Kata Calvin, "Sebenarnya dalam pikiran manusia ada naluri alamiah untuk mencari Tuhan."
Arah perjalanan panjang hidup kita untuk tujuan yang jelas, yaitu mengenal dan mengasihi Tuhan. Dia adalah Tuhan Allah kita. Datanglah kepada-Nya hari ini juga dan temukan tujuan hakiki perjalanan panjang hidup kita sebagai musafir.
ARAH LANGKAH PERJALANAN HIDUP KITA ADALAH MENCARI, MENGENAL DAN MENGASIHI TUHAN, JUGA SESAMA
#Salam_Sehat
Note: Jangan lupa subscribe Channel YouTube ini ya?
Sabda Bina Diri #725 Selasa, 2 Juni 2020, Kejadian 4:1-16
TAK PERNAH KECEWA MENGIRING YESUS Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th
Ketika Kain dan Habel mempersembahkan kurban, persembahan Kain bukan hasil sulung dari yang diusahakan. Allah menolaknya! Kain sakit hati. Penolakan itu membuat dirinya bermuram durja dan kecewa. Kain tak mampu menahan kekecewaannya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan seorang Habel hidup. Pembunuhan pertama pun terjadi dalam sejarah umat manusia.
Karena ketika sudah kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat buruk
Banyak dari antara kita yang aktif dalam kegiatan rohani. Tapi selalu berujung pada kekecewaan. Mengapa? Karena pusat kegiatan bukan Kristus. Kita tidak sedang mengiring Yesus. Kita sedang memuliakan diri sendiri. Membuat kita tidak sampai pada “sungai kasih” tapi pada “sungai kecewa”.
MEREKA YANG MENGIRING YESUS TAK AKAN PERNAH DIKECEWAKAN
(... Teks selengkapnya lihat di bagian deskripsi Youtube)
Untuk otomatis mendapatkan notifikasi renungan saya setiap hari dapat subscribe https://www.youtube.com/watch?v=Ltm_tJFKwdw (Reinhard Samah) dan klik gambar loncengnya.
Bagi yang sudah subscribe saya berucap: Terima kasih.
Sabda Bina Diri #724 Senin, 1 Juni 2020, Kejadian 2:8-17
HIDUP TERASA LEBIH HIDUP Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th
sejak awal sejarah kehidupan, umat manusia terikat dengan Allah melalui
iman dan ketaatan kepada Firman-Nya sebagai kebenaran mutlak.
Hidup hanya akan terasa lebih hidup bila disertai dengan arah hidup dan
kesadaran akan tanggung jawab yang jelas. Hidup adalah kesempatan sejati
untuk melayani-Nya dengan tidak menyia-nyiakan waktu yang Tuhan bri.
Allah memberi hidup bagi Adam dan Hawa. Allah pula yang memberi kita
hidup. Gunakan hidupmu untuk melayani Tuhan. Jangan sia-sia kan.
Bacaan kita berbicara tentang pohon kehidupan di Taman Eden. Jalan
menuju pohon itu tertutup bagi Adam dan Hawa setelah mereka melanggar
perintah Allah. Namun Yesus Kristus, membukanya kembali bagi kita. Di
langit dan bumi yang baru, akan ada "pohon kehidupan" yang baru.
Kematian rohani dapat berubah menjadi kehidupan rohani melalui iman
kepada Yesus. Inilah kesempatan yang tiada tara. Inilah kesempatan untuk
tidak menyia-nyiakan hidup yang Tuhan bri.
HIDUP TERASA LEBIH HIDUP BILA KITA MENUJU KEHIDUPAN KEKAL
(... Teks selengkapnya lihat di bagian deskripsi Youtube)
Sabda Bina Diri #721 Sabtu Pagi, 30 Mei 2020, Amos 6:6-9
MENJADI BERKAT BAGI SESAMA Oleh: Reinhard Samah Kansil, M.Th
Yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! (ay. 6)
Bacaan kita pagi ini berupa teguran Tuhan yang ditujukan kepada para pemimpin umat. Ayat enam mencatat, para pemimpin umat yang beroleh kesempatan istimewa menikmati hal-hal terbaik.
Di tengah-tengah pendemi penyakit ini seharusnya para pemimpin yang pertama prihatin, tetapi justru mereka larut dalam kehidupan gemerlap dan menganggap kekelaman dari Allah itu jauh dari mereka.
Sementara ayat delapan dan Sembilan menegaskan, untuk semua yang mereka lakukan, Tuhan bersumpah demi diri-Nya untuk menghukum juga memusnahkan bangsa itu.
Tindakan penghukuman Tuhan untuk bangsa Israel menjadi peringatan keras bagi kita. Sering kali kita merasa kuat dan mampu melakukan segala sesuatu tanpa Tuhan. Bahkan kita menutup mata terhadap berbagai krisis atau bencana yang terjadi di sekitar kita.
Kita sering bersyukur karena tidak mengalami bencana, tetapi bersikap masa bodoh terhadap orang lain yang mengalami bencana. Berbagai bencana atau peristiwa pasti mempunyai hikmat tersendiri yang dapat memberi petunjuk atau tuntunan bagi langkah hidup kita.
Walaupun kita memiliki kuasa dan kekuatan, harta dan kekayaan, kita tidak boleh menggantungkan hidup kita pada hal-hal itu.
Simak syair Pelengkap Kidung Jemaat 43 ini:
Tuhan, harta kami musnah sudah. Tuhan, hati masih milik kami.
Jangan dimana hartamu di situ hati mu berada. Harta dan kedudukan tidak lebih sekadar alat agar kita menjadi saluran berkat-Nya bagi sesama.
Lukisan Mahal
Alkisah, pada tahun 1997, Steve Wynn, seorang kolektor lukisan, membeli lukisan karya Pablo Picasso, seorang maestro, senilai 47 juta dolar dibalai lelang Christie. Belum sampai sepuluh tahun, ia bisa menjualnya lagi seharga 139 juta dolar. Tiga kali lipat! Alias untung 200%.
Transaksi itu bakal masuk rekor penjualan barang seni termahal di dunia. Sayangnya, saat lelang terjadi, Wynn berdiri di dekat lukisan itu dan tanpa sengaja menyenggolnya dengan sikutnya. Lukisan itu jatuh lalu robek sepanjang 15 cm, tepat di tengahnya. Batal sudah rekor penjualan termahal itu! Dalam sekejap, 139 juta dolar yang setara 1,6 triliun rupiah, menguap dari mata Wynn.
Betapa fana harta kekayaan. Ia bisa menguap dalam sekejap. Jika seseorang mengandalkan harta sebagai jaminan masa depan, ia akan menangis dan meratap. Mengapa? Karena kekayaan bisa tiba-tiba saja meninggalkannya. Rapuh.
Kalaupun seumur hidup harta bisa terjaga, saat mati ia tak dapat dibawa pergi. Kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita atas bagaimana cara kita mendapatkan dan mengelola harta di bumi.
Menjadi kaya tidak masalah. Namun, jangan jadikan harta segala-galanya, sehingga kita rela menindas sesama, menipu, atau berkelahi dengan saudara demi mendapatkannya. Sebaliknya, jadikanlah harta sebagai alat berkat. Alat untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama.
TUHAN TIDAK MENENTANG KEKAYAAN DIA HANYA MINTA AGAR KEKAYAAN KITA MENJADI BERKAT BAGI SESAMA
Mereka sujud
menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat
bersukacita. (ay. 52)
Bacaan kita menjelaskan tentang tempat
Kristus naik ke surga, yaitu di Betania,
dekat Yerusalem, di sekitar Bukit
Zaitun. Di sanalah Ia telah menunaikan tugas agung bagi kemuliaan
Bapa-Nya, dan kini, di sana pulalah Ia memasuki kemuliaan Bapa-Nya.
Nas
kita mencatat, dengan gembira para murid terus mengikuti Yesus, dan juga
mengikuti Allah melalui Yesus, meskipun kini Ia telah berpisah dari mereka.
Para murid tetap menyembah-Nya
sekalipun Ia telah pergi, untuk menunjukkan bahwa meski kini Ia telah pergi ke
negeri yang jauh, mereka tetap akan terus setia berbakti pada-Nya, dan mereka
ingin supaya Ia tetap bertakhta dalam hidup mereka.
Yesus menginginkan penyembahan dari orang yang telah
menerima berkat dari-Nya. Dia telah memberkati
mereka, dan mereka menyembah-Nya
untuk memperlihatkan rasa syukur mereka.
Persis seperti lagu sekolah minggu
ini:
Bersyukur kepada Tuhan
Bersyukur kepada Tuhan
Sebab ia baik
Bersyukur kepada Tuhan
Penampakan kenaikan Kristus yang agung
ini menimbulkan rasa kagum dan rasa syukur yang luar biasa dalam diri
murid-murid-Nya. Mereka tahu bahwa sekalipun Yesus sudah berpisah dengan mereka, Yesus tetap
dapat dan akan selalu mengindahkan penyembahan syukur mereka terhadap-Nya.
Penghibur
Alkisah, seorang penderita kanker
sedang mendekati ajalnya. Di dalam kamar rumahnya, ia sedang dikelilingi
keluarga. Ia berbicara satu persatu kepada anak-anaknya, menantu dan cucu-cucu
nya.
Dengan lembut ia menasihati anak dan
cucunya mengingakan mereka agar tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan
mereka. Lalu mengakhiri pesannya dengan memberkati semua mereka yang hadir di
kamarnya.
Semua keluarga yang hadir mencucurkan
air mata kesedihan karena mereka merasa takkan lama lagi bersamanya. Beberapa
hari kemudian ia meninggal.
Juruselamat kita melakukan hal yang
sama sebelum Dia naik ke surga. Tetapi berbeda dengan keluarga yang berduka
tadi, bukannya mencucurkan air mata saat melihat Yesus pergi, para murid-Nya
justru sangat bersukacita.
Mereka tahu bahwa Yesus akan segera
mengirim Roh Kudus untuk tinggal dalam diri mereka menghibur mereka.
Saat kita teringat akan Juruselamat
kita yang naik ke surga, marilah kita bersukacita atas berkat yang Dia
tinggalkan bagi kita. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita menyemangati
orang yang kita kasihi untuk tetap menjadikan Kristus pusat kehidupan mereka.
Kelak saat kita meninggalkan dunia
ini, teladan serta perkataan kita dapat menjadi berkat paling berharga yang
bisa kita tinggalkan bagi orang-orang yang kita kasihi.
BAGAIMANA MENYUSUN DAN MEMBAWAKAN KHOTBAH Buku ini lengkap mengupas bagaimana cara meningkatkan kemampuan VERBAL-VOKAL-VISUAL pengkhotbah. Buku ini bukan buku teori berkhotbah tapi buku petunjuk praktis.
Testimoni (1)
Saya membeli buku ini 10 eksemplar. Sewaktu
saya menjadi nara sumber di sebuah STT di Luwuk, saya memberikan sebagian buku
ini. Sewaktu penyerahan buku, saya menyebut judul buku ini, langsung terdengar
tepuk tangan meriah dari para mahasiswa. Bahkan para dosen dan pengurus yayasan
menyambut antusias dengan keinginan besar belajar dari buku ini.
Terima kasih sudah membukukuan
materi-materi Khotbah yang WOW.
(Dr. Griet Helena Laihad
Dosen Universitas
Pakuan; Ketua Komisi PPSDI GPIB ‘Agape’)
Testimoni (2) Ini buku luar biasa. Penjelasan ilmiah namun diuraikan dengan bahasa sangat
sederhana. Memang WOW. Contoh khotbahnya praktis. Saya telah banyak membaca
buku homilitika. Bahkan saya mengkoleksinya, dari yang tipis sampai yang tebal.
Tapi, buku ini berbeda. Struktur penjelasannya runtut. Tidak bertele-tele.
Dibanding buku sejenis, buku ini tidak teoritis melainkan sangat praktis,
sehingga mudah memahaminya. Kalau buku sejenis mengulang teori-teori dari buku
yang sudah ada, buku ini tidak sama. Buku ini berbeda. Bahkan penjelasan
tentang ekspositori, disajikan dengan sederhana dan praktis.
Buku ini layak dibaca setiap individu yang rindu melayaniNya lewat
pemberitaan Firman.
Karena
buku kecil ini akan memberi dampak
positif bagi para pengkhotbah yang ingin
mencapai potensi optimalnya dalam berkhotbah.
(Pdt.
Rahail Izak Martinus/Wakil Ketua Klasis GKI di Tanah Papua)
Testimoni (3)
Saya awam di bidang teologi, tapi sering ikut Kursus
Teologia Praktis (KTP). Saya ikut KTP karena saya rindu belajar homilitika,
ilmu berkhotbah. Setelah saya membaca buku ‘KHOTBAH WOW’ karangan Reinhard
Samah Kansil, saya merasa, KTP yang saya ikuti tidak menjelaskan secara
gamblang dan detail seperti buku ini.
Buku ini sangat mudah dimengerti. Penjelasannya tidak
berputar-putar. Buku ini sangat membantu saya dalam menyiapkan/menulis khotbah
saya. Semoga khotbah yang saya susun dan akan bawakan nanti menjadi WOW. Terima
kasih Pak Pendeta. Bapak telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk
saya dan juga yang lainnya. Tuhan Memberkati