Minggu, 13 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Senin, 14 Agustus 2017 (I Korintus 11:17-24)

IBADAH YANG BENAR TAK MEMALUKAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mereka yang rajin beribadah akan selalu mendapatkan hatinya hidup dalam kedamaian. Ibadah adalah segala hal yang membawa pada kebaikan.

Korintus tak mendapat pujian.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus menegur jemaat Korintus dengan keras. Ia memulai kecamannya: “Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu (ay. 17). Pertemuan-pertemuan mereka tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Paulus berkata kepada mereka bahwa, apabila sedang berkumpul bersama-sama, mereka jatuh ke dalam perpecahan. Bukannya sehati sepikiran merayakan upacara ibadah itu, mereka justru bertengkar satu dengan yang lain.

Paulus mengecam mereka bukan hanya atas perselisihan dan perpecahan, melainkan juga atas kekacauan yang memalukan: Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk (ay. 21). Yang mereka perbuat itu sama saja dengan menghina rumah Allah, atau Jemaat (ay. 22). Kalau mereka berniat ingin berpesta, mereka bisa saja melakukannya di rumah sendiri. Tetapi datang ke meja Tuhan, kemudian membentuk kelompok sendiri dan bertengkar, dan menjauhkan orang miskin sehingga tidak kebagian makanan.

Memalukan…

Dua hal dapat dipetik disini: Pertama, kita tidak bersekutu ketika berkumpul, sebab ada perpecahan di antara kita. Kedua, kita memperlakukan Perjamuan Tuhan dengan tidak hormat. Seperti orang rakus dan galojo, kita makan seperti orang kelaparan dan minum sampai mabuk. Memalukan! Tentu saja Paulus tidak memuji hal tersebut. Orang yang berbuat demikian menghina Allah dan tidak peka akan orang yang berkekurangan.

Aturan dalam perjamuan, makan dan minum adalah kebutuhan manusia yang wajar. Manusia harus makan dan minum supaya bisa hidup dengan baik. Tetapi dalam pertemuan ibadah di mana juga dirayakan perjamuan Tuhan, adalah salah besar apabila orang makan dan minum dengan sepuas-puasnya. Perjamuan harus diterima dengan sikap hormat, memeriksa diri, sambil mengingat pokok-pokok iman yang dilambangkannya. Dan diatas semuanya itu, janganlah bertengkar.

Bila kita tidak menghormati Tuhan dalam hidup ibadah kita, Tuhan akan bertindak atas kita supaya kemuliaan-Nya tetap dijunjung tinggi.

TUHAN, TOLONG KAMI UNTUK DAPAT BERIBADAH DENGAN BENAR.
 
#Salam_WOW

Pemesanan Buku, Hubungi 0819 3255 1765 (WA/SMS)

 

Jumat, 11 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Minggu, 13 Agustus 2017 (I Korintus 11:2-12)


SINAR MULIA YANG SETARA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.

Laki-laki menyinarkan kemuliaan Tuhan, perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.

Dalam bacaan kita, Paulus mengecam perempuan yang berdoa atau bernubuat tanpa tudung kepala, atau laki-laki yang melakukan keduanya dengan tudung kepala (ay. 4-5). Paulus tegas berkata, Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki (ay. 8). Laki-laki diciptakan pertama-tama, dan dijadikan sebagai kepala atas makhluk ciptaan di dunia . Bahwa laki-laki menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Ia wakil dari kekuasaan dan kepemimpinan Allah yang mulia atas seluruh dunia. Laki-lakilah yang ditetapkan sebagai kepala makhluk ciptaan di dunia bawah ini, dan dalam hal itu ia serupa dengan Allah. Sebaliknya, perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki (ay. 7).

Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Mereka diciptakan untuk satu sama lain. Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, dan karena itu diciptakanlah perempuan, dan diciptakan untuk laki-laki. Laki-laki dimaksudkan sebagai penghibur, penolong, dan pembela perempuan, meskipun ia tidak secara langsung diciptakan untuk perempuan demi keperluan-keperluan itu. Mereka diciptakan untuk saling menghibur dan memberkati, bukan yang satu menjadi budak dan yang lain menjadi tuan lalim. Keduanya menjadi satu daging, ini supaya bangsa manusia beranak cucu. Mereka adalah alat bagi satu sama lain untuk memberi keturunan bagi satu sama lain. Ketika perempuan pertama-tama dibentuk dari laki-laki, maka sejak itu pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan (ay. 12), dan semuanya oleh hikmat dan kuasa dari Sang Penyebab Utama yang menetapkannya demikian.

Kesetaraan…

Tidak ada perbedaan dan tidak ada kesamaan kedudukan dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada perbedaan kedudukan ketika kita berada pada posisi sebagai hamba-Nya dan tidak ada kesamaan kedudukan ketika berkaitan dengan ketaatan kita sebagai hamba terhadap Tuhan. Ini berlaku untuk kita semua, baik laki-laki maupun perempuan.

Perempuan adalah pantulan sinar kemuliaan laki-laki, dan laki-laki merefleksikan sinar kemuliaan Tuhan. Artinya, Perempuan adalah refleksi sinar kemuliaan Tuhan melalui laki-laki. Jagalah kehormatan itu. Perempuan maupun laki-laki. Kita adalah sinar kemuliaan Tuhan.

Pada novel karangan G.K. Chesterton yang berjudul The Man Who Was Thursday, seorang polisi agen rahasia menyelundup ke dalam kelompok pemberontak yang ingin mengacaukan dunia. Ia diselimuti ketakutan yang luar biasa, sampai akhirnya ia menemukan seorang sekutu di dalam kelompok itu.

Chesterton menuliskan perasaan sang polisi ketika menemukan seorang teman: “Dalam semua pencobaan ini, akar ketakutannya adalah kesendirian. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa besarnya perbedaan antara sendirian dan memiliki seorang teman. Para ahli matematika mengatakan bahwa empat orang adalah dua orang ditambah dua orang. Namun bila kita mendapatkan seorang teman, kita bukan sekadar dua orang yang bersatu, melainkan bagaikan kesatuan dua ribu orang.” Itulah kesatuan Laki-laki dengan perempuan.

Ketika Daud dikejar-kejar oleh Raja Saul yang cemburu dan kehilangan akal sehat, ia memiliki seorang teman yang mau mengambil risiko besar untuk mendampinginya. Yonatan, putra tunggal Saul, menyatakan kesetiaannya kepada Daud dan memberitahukan niat sang ayah untuk membunuhnya. Lalu, saat Saul mengejar Daud ke padang gurun, “bersiaplah Yonatan ... lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah”.

Betapa indahnya hadiah yang kita berikan saat kita dengan setia mendampingi seorang teman yang membutuhkan dukungan! Ada semangat dan kekuatan yang luar biasa saat dua orang (laki-laki dan perempuan) bersatu di dalam hidup ini. Tangan siapa yang dapat kita kuatkan hari ini dengan menjadi teman baginya?

PASANGAN HIDUP SEJATI MENOLONG KITA UNTUK TETAP MAJU SAAT KITA HENDAK MENYERAH.

#Salam_WOW 

Pemesanan Buku Hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)




Sabda Bina Diri - Sabtu, 12 Agustus 2017 (Hosea 10:9-15)


MENABUR PERBUATAN BAIK
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Berbuat baiklah. Karena kebaikan adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta, maka hati akan selalu tentram teduh bila kita selalu berbuat baik

Israel menabur kejahatan.

Hosea memaparkan, Israel disamakan dengan anak lembu yang amat terlatih yang suka mengirik gandum atau biji-bijian lain. Tidak ada kuk berat yang diletakkan pada tengkuknya yang elok (ay. 11). Hosea tetap mengulurkan harapan bagi bangsanya: Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan (ay. 12). Sekitainya saja mereka mau berpaling kepada Allah, mereka akan mendapati Allah berbelas kasihan. Jika mereka ingin menuai panen, Israel harus membuka tanah baru. Ia tidak dapat menabur di antara duri-duri dan mengharapkan tuaian yang baik. Hosea mengingatkan Israel bahwa masih ada waktu untuk mencari TUHAN.

Bacaan kita, mengajarkan prinsip ini kepada umat Israel. Waktu itu mereka tidak mau berserah kepada Allah. Umat Israel justru menabur kejahatan dan mengandalkan diri sendiri. Kini mereka memakan buah kebohongan, terutama kebohongan bahwa keselamatan dan keberhasilan berasal dari kekuatan militer mereka sendiri. Hosea mendesak bangsa Israel untuk mengikuti jalan Allah, menggemburkan hati mereka yang keras karena dosa dan "mencari Tuhan". Jika mereka menabur benih kebenaran, maka mereka akan memetik belas kasih Allah dan Dia akan mencurahkan hujan berkat ke atas mereka.

Jangan andalkan kekuatan sendiri.

Apakah Kita tidak mau membuka hati bagi Allah serta firman-Nya? Apakah Kita lebih mengandalkan diri sendiri daripada Allah? Jika demikian, kini saat yang tepat bagi Kita untuk mencari Tuhan dengan pertobatan yang jujur, menabur perbuatan dan sikap yang baik, serta setia mengikuti jalan-Nya. Yang terutama, bersandarlah pada kuasa-Nya dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Hidup Kita akan berbuah lebat.

Tanah yang belum dipupuk tidak baik untuk menumbuhkan tanaman. Namun, ketika kita menanam benih yang baik pada tanah yang dipupuk dengan baik, matahari dan hujan akan memelihara pertumbuhan sampai saat panen tiba.

Tanah yang disiapkan dengan baik, benih yang baik, dan berkat Allah sangatlah penting untuk memperoleh panen melimpah. Itu tidak hanya berlaku dalam berkebun, tetapi juga dalam hidup kekristenan kita.

BUNGA ATAU ILALANG YANG TUMBUH ESOK ADALAH BENIH YANG KITA TABUR HARI INI.

#Salam_WOW





Pemesanan Buku, Hubungi 0819 3255 1765 (WA/SMS)

Kamis, 10 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 11 Agustus 2017 (Hosea 9:10-17)

BELAS KASIHAN-NYA MELAMPAUI SEGALA AKAL
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Senyum adalah tanda kasih. Berkat akan mengalir ketempat yang banyak senyumnya. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin itulah orang orang yang beruntung. Mereka adalah orang-orang yang banyak tersenyum. Karenanya, mengasihilah, maka engkau akan tersenyum.

Israel, kau bukan yang dulu lagi.

Dalam bacaan ini dengan lugas Hosea mengingatkan kembali sejarah awal Israel. Allah mendapati umat-Nya seperti buah-buah anggur di padang gurun (ay. 10). Meskipun pernah menghasilkan banyak buah, kemuliaan Efraim akan segera terbang seperti burung. Akibat hilangnya “kemuliaan” ini, disebutkan: Tiada yang melahirkan, yang hamil dan yang mengandung (ay. 11). Seandainya ada anak-anak yang dibesarkan, Aku akan membuat mereka bulus (ay. 12). Telah ditentukan, Israel akan menyerahkan anak-anaknya kepada si pembunuh (ay. 13). Tuhan menghukum Israel (ay. 14-16) dengan ditentukannya mereka untuk mengembara (ay. 17).

Israel telah berubah, tidak seperti yang dulu lagi. Ketika itu Israel masih suci dan bersih, menjadi kesayangan dan kesukaan Allah. Mengapa Israel bisa berubah? Karena mereka telah berkhianat dengan menyembah Baal-peor. Mereka telah berkali-kali menajiskan diri dengan ilah lain, dan diulangi kembali di nas ini. Hal ini menyebabkan Allah kembali harus menghukum Israel. Dan ini menyedihkan hati Allah ketika Ia menimpakan hukuman-Nya kepada umat-Nya. Kedudukan Israel tidak lagi mulia dan anak-anak mereka tidak lagi diberkati. Kejahatan mereka sendirilah yang membuat Allah tidak mungkin mengampuni mereka lagi. Israel bukan hanya dihajar dan diserahkan ke tangan musuh, melainkan Allah sendiri akan membuang mereka. Beratnya hukuman Allah ini menyiratkan Allah sudah patah arang dengan mereka. Semua ini menyatakan betapa sakit hati-Nya Allah dikhianati oleh kekasih-kekasih-Nya sendiri.

AKU tak kan mengasihi mereka.

Kasih Allah tidak terbatas, dan tidak pernah berubah walaupun anak-anak-Nya sering mengecewakan-Nya. Kita meyakini hal tersebut sebagai kebenaran karena firman Tuhan menyatakannya. Ini dibuktikan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, demi keselamatan kita. Akan tetapi, kalau sampai Allah berkata dalam kepedihan hati, “Aku tidak akan mengasihi mereka lagi!”, itu berarti kedurhakaan umat-Nya sungguh-sungguh keterlaluan.

Tapi…

Kasih dan pengampunan Tuhan lebih besar dari sakit hati-Nya akibat pengkhianatan kita. Nyatakan syukur kita tidak saja melalui bibir tetapi terutama melalui perilaku.

Buah anggur tidak pernah tumbuh di padang gurun. Artinya, menemukan anggur di tempat yang gersang itu sungguh suatu berkat yang luar biasa. Syukur kepada Tuhan, belas kasihan dan kasih-Nya jauh melampaui rasa sakit hati-Nya terhadap umat-Nya. Penghukuman Allah yang begitu dahsyat tidak pernah dimaksudkan untuk memusnahkan umat-Nya. Karenanya, bersyukurlah. Bersyukur saat bersukacita dan tetap bersyukur saat kesedihan menghampiri. Dengan bersyukur apapun yang kita jalani dalam pelayanan kita, akan bermakna.

HIDUP YANG MENCERMINKAN KASIH KRISTUS AKAN MEMBUAT KITA RENDAH HATI DAN MENGASIHI ORANG LAIN SEBAB KASIH TUMBUH DAN BERBUAH DI MANA DIA DITANAM.
 
#Salam_WOW

Pemesanan Buku 
Hub: 0819 3255 1765 (WA/SMS)



Senin, 07 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Rabu, 9 Agustus 2017 (Hosea 8:7-14)

MEZBAH PELAYANAN NAN DEGIL
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Panggilan dan pengutusan Tuhan bukan selalu menjadi Pendeta, Penatua, Diaken, Misionaris atau pekerja gereja fulltime.Tapi untuk membantu dan MELAYANI sesama. Setiap kita sedang MELAYANI, berarti kita sedang memenuhi panggilanNYA.

Mezbah pelayanan didirikan justru untuk berbuat dosa.

Nubuat Hosea ini (Ay. 8-10) diucapkan sesudah pembuangan yang menyusul perang Israel-Siria dengan kerajaan Yahuda. Ayat 9, menyinggung upeti yang dibayar kepada raja Asyur, dan barangkali juga hadiah-hadiah yang dikirim ke raja Mesir. Meskipun Israel telah berusaha untuk membeli pertolongan dari bangsa-bangsa kafir, Tuhan akan mengumpulkan mereka -yakni bangsa Israel- dan mengirimkan mereka ke pembuangan (ay. 10). Tuhan akan berhenti mengurapi. Mereka akan menjadi amat miskin karena beban yang dipikulkan kepada mereka.

Israel hanya melaksanakan upacara-upacara agama. Mereka telah memperbanyak mezbah (ay. 11), tetapi pelipatgandaan kurban-kurbannya adalah kekejian bagi Tuhan. Hosea mengatakan bahwa mezbah-mezbah itu menjadikan mereka berdosa. Artinya Mezbah pelayanan justru untuk berbuat dosa. Mezbah-mezbah itu didirikan untuk melawan Tuhan dan menjadi sarana untuk berbuat dosa lebih jauh.

Hosea menegaskan bahwa kurban-kurban itu hanyalah ritual agama semata (ay. 13). Mezbah pelayanan mereka tidak ada kebaikan rohaninya. Karena kemunduran rohani bangsa Israel itulah, Hosea menubuatkan, `Mereka harus kembali ke Mesir,' yaitu ke tempat pembuangan. Hosea mengatakan bahwa Israel akan menderita perbudakan pada masa mendatang sama seperti yang pernah mereka alami di Mesir (ay. 14). Hosea menuduh Israel melupakan Tuhan, justru karena mezbah pelayanannya. Israel telah mengalami pembusukan rohani. Mezbah pelayanan mereka Kotor. Degil.

Bagaimana kekinian pelayanan kita?

Dalam pelayanan, ‘menghasikan’ adalah kata kunci dari kerja keras. ‘Melipatgandakan’ adalah kata kunci dari kerja cerdas. ‘Memenangkan’ adalah kata kunci dari kerja tulus. Seperti ada tertulis: Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya. Lihatlah, apabila pelayanan kita tidak dengan kerja keras, cerdas dan tulus maka patut dipertanyakan, apakah pelayanan kita hanya ritual saja atau sedang mengalami pembusukan rohani? Atau justru menambah dosa?

Perhatikanlah, apakah pelayanan kita dirikan justru untuk melawan Tuhan. Bagaimana tidak berdosa, apabila pelayanan kita penuh dengan konflik, kemarahan dan iri dengki? Periksa juga, apakah mezbah pelayanan yang kita bangun mendatangkan damai sejahtera bagi orang lain, atau bahkan bagi diri kita sendiri? Apabila tidak, maka mezbah pelayanan kita adalah sarana untuk kita berbuat dosa, justru.

Ini cerita tentang seorang wartawan perang: Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya. Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: "Mengapa aku mau diutus ke medan perang hingga cacat begini?" Akhirnya, ia menemukan jawabnya: ambisi. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.

Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu yang lebih. Tak salah bila manusia berambisi. Bahkan, untuk memajukan pelayanan di gereja dibutuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, ke mana ambisi itu diarahkan?

Dalam pelayanan, tidak salah kita memiliki ambisi, tetapi mesti hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi bisa juga menghanguskan. Ambisi egois menghasilkan pertengkaran, sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkah arah ambisi Kita? Adakah Kita mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau bagi diri sendiri?

Arahkan ambisi pelayananmu.

MARI MELAYANI, MEMBERI, MEMBANTU DAN BERBUAT BAIK PADA SEMUA ORANG, TANPA SYARAT DAN TANPA KENAL WAKTU. ITULAH MEZBAH PELAYANANMU YANG SEJATI.

#Salam_WOW

NOTE:
Tak terasa, sudah hampir dua bulan saya menulis renungan tanpa henti. Saya menulis semua renungan ini, bersumber dari buku-buku penjelasan 66 Kitab PL/PB karangan saya, yang saya tulis menjadi #25 seri/buku. Baru saja terbit seri #17 s/d seri #25. Sebaiknya saudara memilikinya.
Hubungi: WA/SMS 0819 3255 1765

BUKU ADALAH GUDANG ILMU, JENDELA DUNIA.MEMBACA ADALAH KUNCINYA.
 

Minggu, 06 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Senin, 7 Agustus 2017 (Hosea 2:1-7)

KUBERBAHAGIA SETIA TEGUH
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mudah menjadi setia ketika keadaan senang. Menjadi ujian kesetiaan ketika keadaan memburuk. Ada beberapa ujian bagi kesetiaan. “Waktu” adalah ujian terberatnya. Apakah kita mampu setia selamanya?

Ketidakbahagiaan dalam ketidaksetiaan.

Bacaan kita dengan gambling memaparkan, Hosea harus menegur Gomer dengan kata-kata, dia bukan istri-Ku, dan Aku ini bukan suaminya (ay. 1). Istri sang nabi itu telah memisahkan diri darinya, dan dengan hati patah sang nabi mengakui bahwa ikatan perkawinan mereka telah putus. Tuhan kecewa dan marah terhadap ketidaksetiaan Israel. Israel telah berselingkuh dengan Baal (ay. 4).

Apa yang dilakukan-Nya sebagai suami yang dikhianati? Pertama, Tuhan memutuskan semua jalan sehingga Israel tidak berhubungan dengan Baal (ay. 5). Israel akan kehilangan semua berkat Tuhan yang selama ini dinikmatinya (ay. 7). Setelah mengalami kekecewaan Gomer, seperti Israel, akan berkata, Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama (ay. 6). Baik Gomer, maupun Israel, tidak mendapatkan kebahagiaan dalam ketidaksetiaan. Di sini Tuhan menyatakan bahwa ia akan membawa Israel ke tempat mana Israel akan menyadari bahwa ia membutuhkan suaminya.

Terima kasih Tuhan, ketidaksetiaan kami diampuni.

Cara efektif agar seseorang bertobat adalah dengan "membiarkannya" menderita sehingga ia berpaling kepada Tuhan untuk mendapatkan kelepasan. Lalu setia. Tatkala hal-hal duniawi telah menarik perhatian kita untuk berpaling dari kesetiaan kepada Tuhan, insyaflah bahwa hanya di dalam Kristus tersedia berkat sejati untuk hidup kita. Setia itu sampai akhir. Jika tidak sampai akhir maka tidak setia namanya.

Jika kita sedang mengalami jalan panjang penghukuman Tuhan seperti yang dialami Israel sebagai akibat ketidaksetiaan kita, berbaliklah untuk bertobat kepada-Nya. Ia tak ingin kita binasa, tetapi ingin kita pulih mesra dengan-Nya. Karenanya, setialah. Pribadi yang hebat bukanlah yang mampu mengalahkan orang lain, tapi yang mampu menundukkan dirinya sendiri untuk menjadi setia.

Oleh dan karena itu, berdoalah: “Terima kasih Tuhan, kasih-Mu membuat ketidaksetiaan kami diampuni. Kami bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kasih-Mu itu”. Kami akan setia teguh.

TUHAN MEMILIH KITA BUKAN KARENA KITA YANG TERBAIK. TAPI KARENA TUHAN TAHU KITA MAMPU SETIA DALAM MENJALANI TUGAS YANG TERJAL DAN BERLIKU INI.
 
#Salam_WOW

Sabda Bina Diri - Minggu, 6 Agustus 2017 (Hosea 1:1-9)


YANG BERSELINGKUH YANG TAK DIAMPUNI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Apabila manusia gagal mencintai Tuhan, maka IA tidak.

Bacaan ini merupakan sebagian biografi Hosea. Nas ini menggambarkan tentang perselingkuhan Israel (ay. 2). Perintah untuk mengawini perempuan sundal  dan tindakan Hosea mengawini Gomer, serta kelahiran anak-anaknya (ay. 3-6, 8-9) merupakan gambaran yang mengungkapkan sikap dan rencana Tuhan terhadap umat-Nya. Perempuan sundal merupakan gambaran tentang sikap Israel yang telah menyimpang dari Tuhan. Kata ‘sundal’ menggambarkan penyimpangan yang meliputi seluruh aspek kehidupan.
Itulah sebabnya Hosea juga mengungkapkan hal itu dengan ungkapan yang lebih signifikan lagi, yaitu bahwa roh perzinahan telah menyesatkan Israel Nama anak- anak Hosea seperti Yizreel, Lo-Ruhama: tidak dikasihi, dan Lo-Ami" bukan umat-Ku, merupakan nama-nama yang menggambarkan penolakan Tuhan terhadap umat Israel, khususnya Israel Utara. Bahkan Tuhan tak akan mengampuni mereka. Terjemahan yang lebih pas dari kalimat, ‘tidak mengampuni lagi’ adalah ‘seluruh kasih-Ku akan kuambil dari mereka’.

Sebuah kisah tentang cinta yang tak berbalas.

Cinta tanpa pamrih yang diberikan Hosea kepada Gomer yang tidak setia. Gomer berulang kali menyeleweng sehingga menghancurkan hati Hosea. Namun, Hosea tidak pernah berhenti mencintainya.

Lalu Gomer dibuang ke tempat yang sangat gelap. Kita dapat membayangkan keadaannya yang letih, perasaan tak berguna, berpenyakitan, dibebani oleh kesedihan, dan tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah cinta Hosea.

Hubungan antara Hosea dan Gomer menggambarkan hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel. Meskipun Israel tidak setia dan menderita karenanya, Tuhan tetap mengejarnya dan berbicara kepadanya dengan lembut.

Apabila seorang pelayan Tuhan mendalami kisah cinta tak berbalas ini, saya membayangkan ia akan berkata, "Apakah ini yang disebut cinta yang tidak rasional?" Dan pelayan Tuhan lain akan menjawab, "Saya tahu! Hosea mengasihi Gomer seperti Tuhan mengasihi kita!"
Inilah Tuhannya Hosea. Sambutlah kasih-Nya dan ketahuilah bahwa Dia bukanlah Tuhan yang murka dan menakutkan. Seluruh umat manusia pantas dihukum karena dosa-dosanya, tetapi karena kasih Tuhan, keselamatan itu telah datang ke dunia melalui Yesus Kristus. Karena itu hiduplah dalam kasih-Nya.

PERBAHARUILAH KASIH KITA KEPADA TUHAN DENGAN MENGINGAT KASIH TUHAN KEPADA KITA.

#Salam_WOW

Sabda Bina Diri - Sabtu, 5 Agustus 2017 (Filemon 1:1-7)


DI DOA SAHABATKU ADA NAMAKU DISEBUT
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Apapun yang kita rencanakan, apapun yang ingin kita lakukan, awalilah dengan doa. Kekuatan doa tak kan pernah meninggalkan kita. Doa adalah senjata terbesar yang tak seorangpun mampu mengambilnya dari kita.    

Doa bagi orang lain jangan hanya bagi diri sendiri.

Dalam dua ayat pertama dari bagian pengantar bacaan, kita mendapati siapa yang menulis dan kepada siapa surat itu ditulis, dengan beberapa keterangan dan sebutan tambahan, yang sedikit banyak menyiratkan tujuan surat ini ditulis (ay. 1-2). Selanjutnya, Salam Rasul Paulus kepada orang-orang yang dia sebut (ay. 3). Rasul Paulus mengungkapkan kasih sayangnya seutuhnya kepada Filemon, dengan mengucap syukur dan berdoa kepada Allah atas namanya, dan sangat bersukacita atas banyak kebaikan pada diri Filemon yang ia tahu dan dengar (ay. 4-7).

Doa-doa dan puji-pujian kita harus dipersembahkan kepada Allah, bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain. Menyampaikan permohonan secara pribadi tidak boleh dilakukan dengan jiwa mementingkan diri sendiri, dengan hanya memikirkan urusan-urusan kita, tetapi orang lain juga harus kita ingat. Kita harus tersentuh dengan sukacita dan ucapan syukur atas kebaikan apa saja yang ada pada mereka, atau dilakukan oleh mereka, atau dianugerahkan kepada mereka, sejauh itu kita ketahui, dan mengusahakan apa yang mereka butuhkan. Ini merupakan bagian penting yang harus ada dalam persekutuan orang-orang kudus. Paulus, dalam ucapan syukur dan doa pribadinya, sering kali mengingat teman-temannya secara khusus: Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku. Kadang-kadang ia menyebutkan nama, atau paling tidak mengingat mereka secara khusus dalam pikirannya. Dan Allah tahu siapa yang dimaksudkan, meskipun namanya tidak disebutkan. Ini adalah sarana untuk menerapkan kasih dan mendapatkan kebaikan bagi orang lain.

Aku dan kamu menjadi kita. Doa kita. Seperti sahabat mendoakan sahabatnya.

Jangan hanya mendoakan diri sendiri dan keluarga. Sahabat bahkan orang lainpun seharusnyalah kita doakan. Seperti Paulus yang mendoakan sahabat-sahabatnya, begitupun kita. Sebut sahabat kita dalam doa-doa kita. Itulah doa sejati.

Ingatlah sahabat-sahabat kita dalam doa kita. Jangan lupakan mereka. Persahabatan sejati adalah persahabatan yang saling mendoakan.

JANGAN BERDOA HANYA MENGHARAP KEMUDAHAN. TAPI BERDOALAH MENGHARAP PENYERTAAN TUHAN DALAM SETIAP KESULITAN HIDUP KITA, KELUARGA DAN SAHABAT-SAHABAT KITA.

#Salam_WOW

SH:
Pasal ini merupakan biografi Hosea yang menggambarkan tentang perselingkuhan (persundalan) Israel (ayat 2). Perintah untuk mengawini perempuan sundal (ayat 2) dan tindakan Hosea mengawini Gomer, serta kelahiran anak-anaknya (ayat 3-6, 8-9) merupakan gambaran yang mengungkapkan sikap dan rencana Allah terhadap umat-Nya Israel. Perempuan sundal merupakan gambaran tentang sikap Israel yang telah menyimpang dari Allah. Kata ‘sundal’ menggambarkan penyimpangan yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Itulah sebabnya Hosea juga mengungkapkan hal itu dengan ungkapan yang lebih signifikan lagi, yaitu bahwa roh perzinahan telah menyesatkan Israel (bdk. 4:12, 5:4).Nama anak- anak Hosea seperti Yizreel (ayat 4), Lo-Ruhama: tidak dikasihi (terjemahan lain, ayat 6), dan Lo-Ami" bukan umat-Ku (ayat 9), merupakan nama-nama yang menggambarkan penolakan Allah terhadap umat Israel, khususnya Israel Utara. Bahkan Allah tidak akan mengampuni mereka lagi (ayat 6). Terjemahan yang lebih cocok dari kalimat, ‘tidak mengampuni lagi’ adalah ‘seluruh kasih-Ku akan kuambil dari mereka’.
Jika ditimbang dari perselingkuhan Israel, memang Israel tidak lagi pantas diampuni. Tetapi akhirnya pengampunan dan penyelamatan itu datang juga kepada Israel dan Yehuda (ayat 10-12). Kabar baik itu diungkapkan juga melalui perubahan nama anak-anak Hosea. Lo-Ruhama menjadi Ruhama (yang dikasihi), dan Lo-Ami menjadi Ami (umat-Ku).
Renungkan:
Seluruh umat manusia juga pantas dihukum karena dosa-dosanya, tetapi karena kasih Allah, keselamatan itu telah datang ke dunia melalui Yesus Kristus. Karena itu hiduplah dalam kasih-Nya.