Selasa, 06 Maret 2018

SEBAIKNYA SAUDARA TAHU (1)

Khotbah Ekspositori

Hakikat khotbah ekspositori berkaitan dengan bentuk dan isi. Khotbah Ekspositori adalah “pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab”  yang diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan.

Berdasarkan Etimologi: 
Kata ekspositori mempunyai akar kata ‘expose’ yang berasal dari kata’exposen’(Inggris), ‘exposer’ (Perancis), atau ‘exponere’ (Latin). Dalam bahasa Latin yang lebih modern (180- 600 M.), pengertian dari ‘exponere’ berarti “menafsirkan atau menjelaskan.”  Dalam khotbah ekspositori faktor yang dominan adalah penjelasan.

Berdasarkan Morfologi: 
Pendekatan ini lebih menekankan definisi khotbah ekspositori berdasarkan bentuk khotbahnya. khotbah ekspositori adalah khotbah yang berpusat pada teks dan setiap poin dan sub-poin dalam kerangkanya diperoleh dari teks yang sedang dikhotbahkan. Khotbah berjalan dari kata ke kata dan ayat ke ayat dalam Nas.

Berdasarkan Substansi: 
Substansi dalam khotbah ekpositori adalah bahwa berita khotbah harus bersumber dari amanat teks Alkitab sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulisnya. Bila pengkhotbah menafsirkannya sedemikian rupa sehingga ia dapat menemukan makna yang sesungguhnya sebagaimana yang dimaksud oleh penulisnya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan pendengar masa kini, maka khotbah tersebut dapat digolongkan sebagai khotbah ekspositori.

Hakikat khotbah ekspositori berkaitan dengan bentuk & isi. Sementara metode atau caranya disebut EKSEGESIS.

Metode eksegesis adalah suatu aplikasi prinsip-prinsip berKHOTBAH untuk memperoleh pengertian yang tepat mengenai teks. Kata depan “eks” dalam “eksegesis” (Yunani) berarti “keluar dari” atau “dari”, yang menunjukkan pada ide bahwa PENGKHOTBAH berusaha mengerti “dari” teks, bukan memasukkan pengertian PENGKHOTBAH ke dalam teks (eisegesis).

Dengan demikian, Khotbah ekspositori atau eksposisi adalah pemasakinian teks Firman Tuhan yang dilakukan dengan cara atau metode eksegesis.





Ikuti Pelatihan Khotbah (08.00-17.00 wib) ini...!
Daftarkan diri saudara pada Pelatihan Khotbah @8 Jam, ini:


#Angkatan 29 di GPIB Agape Cibubur, Sabtu 10 Maret 2018

#Angkatan 30 di Jatibening Estate, 24 Maret 2018


Kontribusi 500 rb.
Bagi 10 pendaftar pertama mendapat potongan 50%


Fasilitas:1) Makan Siang; 2) Coffe Break (2x);
3) Sertifikat, 4) Training kit; 5) Reward


Info & Pendaftaran:
0818 0888 2611 – 0819 3255 1765 (WA/SMS)
atau email: reinhardsamahkansil@gmail.com

Senin, 05 Maret 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 199) Selasa, 6 Maret 2018, Keluaran 14:15-31


DIA TEPAT JANJI
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Seperti pelangi yang hadir setelah hujan.
Diujung pergumulanmu pasti ada warna warni kebahagiaan.
Itu janji manis-Nya.


Menyebrang dengan selamat
Teks kita hari ini mau mengatakan bahwa Tuhan tepat janji. Tuhan bertindak tepat pada waktunya dalam kebuntuan, ketegangan, dan ketakutan yang sedang kita hadapi dengan memberikan jalan keluar. Dia tepat janji menyatakan kuasa-Nya.

Pertama-tama dengan tiang awan-Nya yang membuat malam menjadi sangat gelap sehingga pasukan Mesir tidak dapat mendekati umat Israel semalam-malaman (ay. 19-20).

Kemudian, dengan memakai tongkat Musa yang diulurkan ke laut Teberau, Tuhan membelah laut tersebut sehingga terbentuk tanah kering untuk dilalui umat Israel ke seberang. Umat pun menyeberang dengan selamat (ay. 21).

Kemudian lagi, dengan kuasa dahsyat-Nya atas alam, Ia menenggelamkan pasukan Firaun di laut Teberau hingga binasa (ay. 26-28).

Kita?
Sebagai pelayan Tuhan, dimanapun kita melayani, hendaknya kita tepat janji. Pelayan Tuhan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan berbuat, haruslah ia menepatinya. Kita hendaknya menyanggupi akan menepati apa yang telah dikatakan atau yang telah disetujui. 

Kita haruslah tepat janji. Betul dan lurus atau persis benar antara yang dijanjikan dengan yang dilakukan, itu namanya tepat janji. Pelayan Tuhan yang tidak menepati janjinya mencerminkan kondisi jiwa yang kerdil. 

Dalam karakter pelayan sejati selalu ada jiwa besar untuk menunda segala sesuatu yang merugikan banyak orang, dan jiwa besarnya selalu tepat janji dalam membahagiakan banyak orang, daripada tak tepat janji yang membuat banyak orang menderita. 

Tuhan tidak pernah terlambat bertindak, kuasa-Nya yang dahsyat sanggup menyelesaikan masalah kita, sebesar apapun. Karena itu jangan pernah kehilangan iman kita kepada Tuhan. Ia peduli dan akan bertindak dalam kuasa dan kedaulatan-Nya. Entah Dia akan melalukan krisis itu secepatnya atau Dia akan meningkatkan kekuatan kita dalam menghadapi krisis tersebut. 

Renungan ini mengajak kita semua percaya, bahwa Tuhan tepat janji.

JANJI-NYA PASTI DIGENAPI. SABAR, TEKUN DAN TETAPLAH SETIA.
SEMUANYA AKAN MENJADI BAIK DAN INDAH PADA WAKTUNYA.
.

#Salam_WOW

NOTE:
Ini renungan saya ke 199.
Renungan 1 s/d 116 telah saya bukukan, seperti dibawah ini:
Buku ini tidak dijual bebas.
Sila pesan, saya kirim melalui Pos dan Giro
.
Harga buku Rp. 110.000,- (+Ongkir)
Hubungi: Telp/WA/SMS: 0818 0888 2611







Minggu, 04 Maret 2018

KHOTBAH MULA-MULA (3)

Khotbah Dalam Ibadah

Ibadah adalah perjumpaan yang istimewa antara Allah dan kita. Perjumpaan antara Allah dan kita itu mewujud di dalam urut-urutan liturgi kebaktian. Di mana Allah dan kita, keduanya mengambil bagian. Misalnya di dalam pendahuluan kebaktian, pengkhotbah  atas nama Allah menyampaikan votum, lalu kita jawab dengan amin.

Kemudian kita mengaku dosa kita di hadapan Allah dan pengkhotbah atas nama Allah menyampaikan berita pengampunan kepada kita. lalu Allah memberitakan kehendakNya melalui amanat hidup baru, dan kita menyatakan sanggup melaksanakannya.

Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya yang diberitakan di dalam khotbah, dan kita menjawab dengan pengakuan iman kita, syafaat  kita, dan persembahan kita, dan seterusnya.
Dari pemahaman di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa khotbah adalah tempat di mana Allah sendiri berkata-kata memberikan pengajaran dan nasehat.





APAKAH SAUDARA:


*Terhambat di bagian pendahuluan, ketika menyusun Khotbah?
* Sulit memahami Nas bacaan?
* Sulit mencari contoh kongkrit dalam isi khotbah?
* Memberikan senyum terbaik hingga terlihat kompeten & percaya diri?
* Membunyikan kata dan kalimat dengan kejelasan pengucapan?
* Menggunakan jeda dan tempo berbicara untuk membangun momentum?
* Menggunakan gerakan tangan yang alami untuk memperkuat pesan?


TAHUKAH SAUDARA:


* Khotbah terbagi kedalam tiga bagian!
* Membuka dan menutup khotbah adalah kunci berhasilnya sebuah khotbah!
* Tidak baik terpaku pada materi khotbah dan tidak menatap jemaat!
* Cara efektif mengatasi kegugupan dan rasa grogi!
* Jemaat suka dengan cerita!


DIATAS SEMUANYA ITU, UNDANGLAH ROH KUDUS BERBICARA MELALUI SAUDARA…!


Ikuti Pelatihan Khotbah (08.00-16.00 wib) ini...!
Daftarkan diri saudara pada Pelatihan Khotbah @8 Jam, ini:


#Angkatan 29 di GPIB Agape Cibubur, Sabtu 10 Maret 2018

#Angkatan 30 di Jatibening Estate, 24 Maret 2018


Kontribusi 500 rb.
Bagi 10 pendaftar pertama mendapat potongan 50%


Fasilitas:1) Makan Siang; 2) Coffe Break (2x);
3) Sertifikat, 4) Training kit; 5) Reward


Info & Pendaftaran:
0818 0888 2611 – 0819 3255 1765 (WA/SMS)
atau email: reinhardsamahkansil@gmail.com


KHOTBAH MULA-MULA (2)

Kristen perdana
Makna khotbah kekristenan perdana, berbeda. Walau memang menerima tradisi Yahudi (termasuk didalamnya ibadah) dan turut melanjutkan upaya penjelasan teks itu, namun makna khotbah telah bergeser.

Upaya penjelasan arti teks dalam bentuk khotbah ini, lebih ditujukan kepada katekisan (orang yang mau menjadi Kristen dalam kelas-kelas katekisasi). Dimaksudkan agar katekisan semakin memahami Kitab Suci dengan lebih baik lagi, sehingga iman percayanya tidak mudah goyah diombang-ambingkan.

Tokoh yang berkarisma dalam hal berkhotbah adalah Apolos.
Sampai disini, khotbah dipahami “sebagai media pembinaan jemaat”.


Pengkhotbah  Ulung
Masa berikutnya, mulai abad ke empat terjadi lagi pergeseran makna khotbah. Perkembangan praktek khotbah demikian pesat ketika Injil mulai diberitakan di kalangan orang Yunani. Jauh sebelumnya, dunia Yunani-Romawi telah lama mengenal retorika (ilmu pidato). Nama-ama seperti Aristoteles (384 SM - 322 SM) dan Cicero (3 Januari 106 SM – 7 Desember 43 SM) dikenal banyak orang ketika itu sebagai orator-orator ulung. Pertemuan dengan prinsip-prinsip ilmu pidato ini banyak mempengaruhi bentuk khotbah Gereja.

Dalam era perjumpaan antara khotbah dan pidato ini muncul pengkhotbah besar terkenal yang sulit untuk dicari tandingannya, dialah Yohanes Chrysostomus (347 - 407 M). Namanya diartikan orang sebagai “Yohanes si mulut emas”. Kemampuan berkhotbahnya sangat fenomenal. Orang-orang dimasanya beranggapan, akibat gaya dan isi khotbahnya itu, banyak jemaat yang tertarik ke Gereja.

Baik mereka yang bukan Kristen maupun mereka yang telah resmi meninggalkan ajaran Gereja. Bahkan sejarah mencatat, orang banyak lebih gemar menghadiri ibadah di Gereja tempat “Yohanes si mulut emas” berkhotbah, ketimbang menonton pertunjukkan di stadion. Sampai disini makna khotbah bukan lagi sekedar pembinaan jemaat, melainkan sebagai solusi pemecahan masalah dan juga perdebatan umum yang mana “keindahan kata-kata” menjadi unsur yang sangat penting.

Pada masa reformasi (abad 16) Bapa-bapa Gereja seperti Luther dan Calvin menggunakan khotbah sebagai sarana menyampaikan ajaran reformasi. Konon, Luther membawakan hampir 10.000 khotbah yang keseluruhannya menyangkut ajaran-ajaran reformasi.

Bisa dikatakan, pemikiran-pemikiran reformasi Luther tertuang dalam khotbah-khotbahnya. Begitupan Calvin. “Perjuangan” reformasinya digaungkan dari mimbar-mimbar khotbah di jemaat yang dipimpinnya. Tulisan fenomenalnya di bukukan dengan judul yang terkenal itu Institutio, adalah percik-percik pemikiran yang diambil dari khotbah-khotbahnya. Sampai pada tahapan ini, khotbah didefinisikan sebagai: “Pengajaran yang digunakan sebagai alat membangun jemaat”

Sabtu, 03 Maret 2018

KHOTBAH MULA-MULA (1)

Yudaisme

Praktek khotbah berlangsung sebelum hadirnya kekristenan. Yudaisme memunculkannya dalam tradisi ibadah Yahudi.

Bermula dari krisis identitas saat peristiwa pembuangan di Babel, dimana orang-orang muda Yahudi tidak lagi mampu memahami teks-teks berbahasa Ibrani dengan baik.

Sementara para tua-tua Yahudi sebagai pemimpin bangsa kala itu tetap ingin mempertahankan penggunaan teks-teks Ibrani sebagai warisan leluhur mereka.

Berdasar hal ini, para tua-tua menerjemahkan dan menjelaskan teks-teks suci yang mereka baca (dikemudian hari kumpulan penjelasan ini disebut Targum).

Upaya menjelaskan teks-teks suci berbahasa Ibrani kepada generasi muda Yahudi inilah yang kita kenal awalnya sebagai khotbah. Dalam hal ini, khotbah diberi makna sebagai: “Upaya menjelaskan arti teks kepada jemaat”.

bersambung...

KHOTBAH

Makna Kata


Kata Khotbah adalah kata serapan dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab berbunyi Khata’bah. Makna kata ini adalah: Bicara sendiri; Pemberitaan Firman Tuhan; Penyampaian Kabar Baik; Berjumpa dengan Tuhan melalui Firmannya.

Ada frasa “Khotbah di Bukit”, pada Matius 5-7 yang baik untuk kita periksa bersama. Istilah yang dipakai dalam bahasa Inggris dan Belanda. Inggris: “Sermon” (on the Mount), dari bahasa Latin: “sermones” yang maknanya adalah:  Khotbah, pidato, diskusi, pembahasan. Dalam hal ini Yesus di ayat ini mengadakan “pembahasan”, yang dapat disamakan dengan “mengajar”.

Belanda (berg)-”rede” = pidato, juga dari “sermones”. Yang kita sebut “khotbah”, diterjemahkan dari bahasa Belanda “prediking” (atau “preek”), yang diambil dari bahasa Latin “Praedicare” = “memberitakan kebenaran agama secara terbuka”.. dan “praedicatio” = memaklumkan, memberitakan, menyiarkan. Maka dari itu, khotbah Yesus di Bukit itu bukan “praedicare” atau “praedicatio”, melainkan “sermones” yang bermakna pembahasan, pengajaran.

Dengan demikian Khotbah adalah penyampaian dan atau pemberitaan kabar baik/Firman Tuhan secara terbuka sehingga orang lain mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui teks-teks Alkitab.





Daftarkan diri saudara pada Pelatihan Khotbah Yang saya ampu: 

#Angkatan 29 di GPIB Agape Cibubur, Sabtu 10 Maret 2018
#Angkatan 30 di Jatibening Estate, Sabtu, 3 dan 24 Maret 2018

Kontribusi 500 rb.
Bagi 10 pendaftar pertama mendapat potongan 50%
Fasilitas:1) Makan Siang; 2) Coffe Break (2x); 3) Sertifikat, 4) Training kit;
5) Reward.

Info & Pendaftaran:
0818 0888 2611 – 0819 3255 1765 (WA/SMS)

KHOTBAH, APAKAH ITU?

Makna Kata


Kata Khotbah adalah kata serapan dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab berbunyi Khata’bah. Makna kata ini adalah: Bicara sendiri; Pemberitaan Firman Tuhan; Penyampaian Kabar Baik; Berjumpa dengan Tuhan melalui Firmannya.

Ada frasa “Khotbah di Bukit”, pada Matius 5-7 yang baik untuk kita periksa bersama. Istilah yang dipakai dalam bahasa Inggris dan Belanda. Inggris: “Sermon” (on the Mount), dari bahasa Latin: “sermones” yang maknanya adalah:  Khotbah, pidato, diskusi, pembahasan. Dalam hal ini Yesus di ayat ini mengadakan “pembahasan”, yang dapat disamakan dengan “mengajar”.

Belanda (berg)-”rede” = pidato, juga dari “sermones”. Yang kita sebut “khotbah”, diterjemahkan dari bahasa Belanda “prediking” (atau “preek”), yang diambil dari bahasa Latin “Praedicare” = “memberitakan kebenaran agama secara terbuka”.. dan “praedicatio” = memaklumkan, memberitakan, menyiarkan. Maka dari itu, khotbah Yesus di Bukit itu bukan “praedicare” atau “praedicatio”, melainkan “sermones” yang bermakna pembahasan, pengajaran.

Dengan demikian Khotbah adalah penyampaian dan atau pemberitaan kabar baik/Firman Tuhan secara terbuka sehingga orang lain mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui teks-teks Alkitab.





Daftarkan diri saudara pada Pelatihan Khotbah Yang saya ampu:

#Angkatan 29 di GPIB Agape Cibubur, Sabtu 10 Maret 2018
#Angkatan 30 di Jatibening Estate, Sabtu, 3 dan 24 Maret 2018

Kontribusi 500 rb.
Bagi 10 pendaftar pertama mendapat potongan 50%
Fasilitas:1) Makan Siang; 2) Coffe Break (2x); 3) Sertifikat, 4) Training kit;
5) Reward.

Info & Pendaftaran:
0818 0888 2611 – 0819 3255 1765 (WA/SMS)

Sabda Bina Diri (Hari ke 196), Sabtu, 3 Maret 2018, Amos 1:11-12


JANGAN ANGKUH
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mereka yang sombong akan ditundukkan.
Mereka yang angkuh akan direndahkan.

Musuh lama
Teks kita hari ini bermaksud menelusuri permusuhan antara Edom dan Israel jauh ke masa persaingan antara Yakub dan Esau, dari siapa kedua bangsa itu diturunkan. Kata Edom berarti `merah'. 

Terdapat frasa “Ia mengejar saudaranya dengan pedang” (ay, 11), yang berarti bukan mengacu kepada suatu hal khusus, melainkan suatu gambaran tentang sikap tradisional Edom terhadap Israel. 


Dalam pada itu, pada ayat 12 terdapat kata ‘teman’, ini adalah nama lain untuk Edom. Dalam ayat ini juga ada nama kota, “Bozra”. Ini salah satu kota penting Edom.


Sejarah panjang
Bagaimana kita memaknai narasi dalam bacaan kita hari ini? Ini merupakan sejarah panjang permusuhan di antara Esau (bapak orang Edom) dan Yakub (bapak ke 12 suku Israel). Ketika Israel mengalami penderitaan, orang-orang Edom bukannya menolong dan menunjukkan sikap empati, tapi malah bersukacita di atas penderitaan saudaranya itu. Hal ini menimbulkan murka Tuhan!

Secara geografis Edom merupakan negeri yang aman, terlindung dan sulit diserang musuh karena berada di daerah pegunungan berbatu. Karena itu orang-orang Edom sangat membanggakan negerinya dan merasa diri kuat. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa lain yang sanggup mengalahkannya. Mereka pun menjadi angkuh dan lupa bahwa Tuhan sangat membenci keangkuhan.
 
Suatu bangsa atau manusia akan mudah sekali diperdaya oleh keangkuhan, ketika merasa memiliki segala-galanya. Padahal, darimanakah kekuatan, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya itu berasal? Segala sesuatu datangnya hanya dari Tuhan, dan tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini atau yang kita miliki yang dapat dibanggakan atau sombongkan. Kalau bukan karena Tuhan kita tidak mungkin dapat mempertahankan keadaan kita, dan apa yang kita punyai hari ini esok belum tentu ada, karena kekayaan dan kejayaan manusia dapat lenyap dalam sekejap. 
JANGAN MEMUJI DIRI KARENA HARI ESOK, S’BAB ENGKAU TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI SAAT ITU.
#Salam_WOW

Note:
Renungan ini bersumber dari buku karangan saya dibawah ini.
Tidak dijual di toko buku. Hanya lewat pemesanan. Saya kirim via Pos
Harga buku Rp. 55.000,- (+ Ongkos kirim)






Minggu, 28 Januari 2018

BUKU KE 29

Akhirnya terbit juga walau lambat 45 hari dari waktu yang dijanjikan. Renungan-renungan yang saya tulis di Facebook sejak Juli 2017, saya pilih 116 buah diantaranya untuk menjadi buku ini.

Buku ini menggunakan hardcover sebagai teknik finishingnya. Ukurannya cukup besar (21 x 28 cm). Jumlah halamannya 304.

Tidak dijual bebas. Sila pesan disini atau inbox atau WA/SMS: 0818 0888 2611.
Harga 90.000,- (+Ongkir)




Happy Sunday All.

Seperti Senja, Perpisahan Itu Indah

Menjelang akhir tahun 2017, saya mengakhiri, tepat 25 tahun pelayanan saya sebagai Penatua. Saya telah nyelesaikan studi S2 Teologia. Apabila Tuhan berkenan saya rindu untuk melayani sebagai hamba-Nya di jabatan gerejawi lainnya. Banyak rekan sepelayanan yang bersedih karena saya mencukupkan tugas itu.

Perpisahan adalah awal dari sesuatu yang baru. Seperti Rajawali saat meninggalkan anak-anaknya. Seperti letupan pada buih, yang hentakannya melahirkan pencerahan yang terbekal bagi hari esok.
Tak perlu sedih, tak perlu kecewa. Seperti air yang selalu mengalir kebawah, perpisahan itu keniscayaan.

Meninggalkan dan ditinggalkan adalah bagian hidup seorang pelayan. Kelak, setiap orang akan meninggalkanmu. Atau justru, engkau yang akan meninggalkan mereka.
Selama masih didunia, tak ada kebersamaan abadi. Bumi selalu berputar. Seperti anak panah yang melesat, Anak panah itu akan berlari menuju sasaran. Dan busur bersiap lagi untuk melontarkan anak panah yang lain. Itulah hidup dan kehidupan. Itulah pelayanan.

Perpisahan pasti berbekas. Setap keratan dan sayatannya adalah hasil dari pisau tajam pelayanan yang mengukir lembut setiap jengkal tubuhmu. Terima dan renungkan hal itu. Kelak, karena perpisahan, engkau akan menjumpai bahwa setiap helai hatimu dan setiap lembar kisah pelayanannmu menjadi karya indah nan berwarna.

Bukankah benang sari harus meninggalkan tangkainya, lalu memeluk erat putik sari, untuk menjadi buah? Sama seperti senja yang indah, selalu hadir sebagai titik pisah antara siang dan malam. Begitupun perpisahan, ia sangat indah.

Mengapa?
Karena senja hanya berlaku singkat saja. Senja akan berangkat malam. Kemudian kita akan beristirahat memulihkan tubuh. Dan bangun esok pagi, dihari yang baru dengan semangat baru dan nafas kehidupan baru untuk memulai pelayanan yang baru diladang pelayanan yang lain. Ladang tuaian banyak, tapi pekerja sedikit. Selamat melayani. Tuhan memberkati pelayanan saudara.
Ini sehelai kisah layanku. Mana sehelai kisah layanmu?

JANGAN PERNAH MERASA SUDAH TIBA DIPUNCAK PELAYANANMU.
JANGAN. KARENA SETELAHNYA HANYA ADA JALAN TURUN. 
TAK ADA KATA “TURUN” DALAM PELAYANAN.

#Salam_WOW (Pkh. 12:10)

Kamis, 25 Januari 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 162) Jumat, 26 Januari 2018, Ayub 21:1-15

JANGAN MENGHAKIMI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mengingatkan, sah.
Menghakimi, jangan.

Allah mengendalikan segala sesuatu
Bacaan kita separuh dari perikop Jawaban Ayub kepada Zofar (ay. 1-34). Para penuduh Ayub yang tidak melihat ketulusan Ayub telah menyangkal dan bukan menjelaskan penyebab penderitaannya. Namun karena harapan yang dimilikinya kini sudah lebih kuat, Ayub sanggup bangkit dari kekecewaannya terhadap mereka dan mulai mengambil alih pimpinan di dalam perdebatan itu. Telinga mereka yang terbuka memberikan lebih banyak penghiburan ketimbang mulut mereka yang terbuka (ay. 2). Kekuatan dari argumentasi Ayub akan menjadikan mereka semua bungkam (ay. 5).

Sementara itu, ketidakadilan yang nyata dalam kehidupan, sekalipun mendukung perkara Ayub, sangat menyulitkan dirinya justru karena Ayub mengakui bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu (ay. 9). Merupakan petunjuk tentang integritas Ayub bahwa di dalam penderitaannya sekalipun Ayub tidak mau bertukar tempat dengan orang kaya yang fasik. Sekalipun demikian, Ayub tidak terlalu menghargai perlunya kasih karunia ilahi untuk tetap membiarkan umat manusia yang jatuh dalam dosa hidup di dunia ini. Selanjutnya, Ayub tidak memahami tujuan injili dari pemberian kasih karunia umum untuk dinikmati oleh orang tidak percaya.

Realitas yang rumit
Dewasa ini, kita harus memahami sebenarnya yang dapat menolong orang yang sedang dalam penderitaan adalah sahabat yang sedia sama menanggung dan mendengarkan, bukan mengecam dan menghakimi. Sama seperti Ayub yang terus terang menyatakan bahwa hatinya "terhenyak" oleh ketiadaan empati para sahabatnya itu, begitupun yang kita alami di kekinian pelayanan kita. Karena inti kecaman rekan sepelayanan berkisar di dua hal: bahwa masalah dalam pelayanan adalah akibat dosa dan bahwa itu berasal dari Tuhan yang menghukum, kini seperti Ayub kita dapat membantah di sekitar dua hal itu pula.

Daripada mendukung kesimpulan bahwa Allah menghukum orang berdosa, sama seperti Ayub, kita dapat mengajukan fakta-fakta tentang orang berdosa yang justru tidak sedikit pun memperlihatkan adanya hukuman Tuhan atas hidup mereka. Berlawanan dari pendapat Zofar yang mengatakan bahwa orang berdosa akan mati muda, ternyata mereka panjang umur bahkan semakin uzur semakin bertambah kuat (ay. 7). Keturunan mereka bukannya menderita, tetapi bertambah-tambah dan berhasil (ay. 8). Mereka tidak merana miskin, tetapi ternak mereka berkembang biak dan membuat mereka semakin kaya (ay.10-11). Bahkan sebaliknya dari mengalami penderitaan dan ketidakbahagiaan, hidup mereka penuh dengan keceriaan perayaan (ay. 12-13).

LANGKAH PERTAMA MENYELESAIKAN MASALAH 
DALAM PELAYANAN ADALAH DENGAN TIDAK MENGHAKIMI TERLEBIH DAHULU.



NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku saya dibawah ini.
Tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS: 0818 0888 2611



Rabu, 24 Januari 2018

Sabda Bina Diri (Hari ke 161) Kamis, 25 Januari 2018, Pengkhotbah 9:1-12

BERBAHAGIA TIAP RUMAH TANGGA II
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Diantara ‘b’ dan ‘d’ terdapat ‘c’.
Diantara Birth dan Death terdapat Choice.
Hidup adalah pilihan.
Selama hidup, pilihlah hidup di dalam Tuhan.

Negeri segala lupa
Bacaan kita mengajarkan, baik kasih maupun kebencian, manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya (ay. 1). Frasa sulit ini lebih baik dipahami sebagai merujuk kepada Allah. Tidak seorang pun mengetahui apakah perbuatan benarnya akan mendapatkan kasih atau kebencian dari Allah. Pada bagian lain di ayat 5, pengkhotbah bertutur: “Tak ada upah lagi bagi mereka”. Manusia yang hidup dapat menerima upah, yaitu sedikit keuntungan dari hasil kerja kerasnya di bumi, sementara sekadar kenangan sekalipun kepada orang yang mati tidak ada lagi.

Dalam pada itu, pada ayat 10, penulis kitab ini menyampaikan, sekelompok kata yang membentuk anak kalimat: “Dalam dunia orang mati”. Bangsa Ibrani kuno menganggap dunia orang mati adalah sebuah lubang jauh di bawah bumi, di mana orang mati tinggal Secara seragam itu digambarkan sebagai tempat sementara baik untuk orang benar maupun orang fasik setelah mereka mati; di situ belum ada hukuman atau upah. Itu adalah "negeri segala lupa" dan kegelapan, di mana manusia hidup sebagai replika bayangan dari diri mereka sebelumnya. Inilah salah satu dari pernyataan paling keras dalam Perjanjian Lama mengenai kehampaan dalam dunia orang mati. Sehingga lahirlah sebuah kesimpulan yang salah, bahwa mengingat tujuan akhir Allah tidak diketahui sebab diasumsikan tidak ada alam baka (9:1-10) dan lamanya kehidupan ini tidak pasti (9:11-16), maka tindakan yang bijaksana ialah menikmati kehidupan sekarang ini.

Pilihan itu
Di kekinian, seharusnyalah kita menyadari, di balik kesimpulan sementara yang tidak pas diatas, bahwa nasib semua orang sama, pengkhotbah mengingatkan tentang satu hal berharga dalam hidup: pernikahan. Betapa pun sia-sia kesan kita tentang hidup yang seperti siklus mengulang-ulang ini, kehidupan keluarga yang bermutu membuat hidup setidaknya terasa lebih berarti.

Pernikahan adalah karunia indah Tuhan. Namun, kita tidak dapat "menutup mata" bahwa ada orang yang membuat pasangannya "hidup dalam neraka". Justru karena adanya fakta pernikahan yang seperti neraka inilah, maka orang beriman harus berpegang teguh kepada ajaran firman. Kebahagiaan dalam pernikahan bukan hal yang mustahil, tetapi hal yang mungkin terjadi. Belajar puas dengan pasangan hidup masing-masing, aktif mengobarkan kasih dari waktu ke waktu, memeliharanya sebagai harta karun mulia pemberian Tuhan, dan berjuang keras bagi kebahagiaan tersebut, adalah syarat-syarat untuk mengalami pernikahan yang berhasil (ay.  9). Perjuangan keras mengaktifkan cinta, perhatian, kesetiaan, itulah penentu keberhasilan suatu pernikahan.

MEMELIHARA KASIH DAN MENGOBARKAN CINTA DARI WAKTU KE WAKTU, 
DALAM HIDUP PERNIKAHAN, 
ADALAH PILIHAN HIDUP YANG BERKENAN KEPADA-NYA.


#Salam_WOW


NOTE:
Renungan ini bersumber pada buku saya dibawah ini.
Tidak dijual bebas. Sila pesan via WA/SMS: 0818 0888 2611






Sabda Bina Diri (Hari ke 158) Selasa, 22 Januari 2018, Yesaya 45:14-19

AKU BERSERAH
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Jangan takut jangan kuatir.
Serahkan pada-Nya segala susahmu.
Dia hidup dan tak kan terlelap.


Supaya kosong

Bacaan kita hari ini mengajarkan bahwa, harinya akan tiba ketika semua bangsa akan mengakui bahwa Allah Israel adalah satu-satunya Allah dan Israel tidak akan dipermalukan lagi. Bangsa-bangsa di Selatan Israel akan tunduk oleh kuasa kebenaran Allah, dan karenanya dipaksa mengakui TUHAN sebagai satu-satunya Allah sejati.  Setelah meninggalkan penyembahan berhala (ay. 16), mereka akan mengerti bahwa Allah hanya dapat dikenal melalui penyataan khusus dari Kitab Suci. Dalam Jangka panjang sejarah akan membuktikan bahwa kebenaran Allah dipercayakan kepada Israel sesudah semua agama lain dan filsafat-filsafat tidak lagi dipercayai (ay. 14). Melalui Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru Allah. menyingkapkan bahwa Ia mempunyai suatu maksud yang bijaksana waktu menciptakan bumi ini sebagai tempat untuk didiami manusia.

Sementara di ayat 18 Yesaya menulis tentang  “Supaya kosong”. Sebaiknya frasa ini diterjemahkan suatu kekacauan. Sehingga bunyinya, "Ia menciptakannya bukan sebagai suatu kekacauan. Tuhan tidak membiarkan umat manusia dengan kesimpulan-kesimpulan tanpa harapan mereka sendiri, tetapi telah berbicara kepada umat perjanjian-Nya lewat penyataan-penyataan yang jelas dan memadai dalam Kitab Suci, bahwa mereka bisa mengetahui secara pasti bagaimana agar memiliki hubungan yang menyelamatkan dengan Dia.

Serahkan diri utuh

Saat ini kita melihat, dipakai-Nya Koresy sebagai alat pembebas bangsa Israel dari tekanan bangsa-bangsa lain, menimbulkan pertanyaan. Siapakah manusia yang dengan sombong meragukan keberadaan Allah sehingga berani mempertanyakan kebenaran dan kedaulatan-Nya? Tak seorang pun dapat mengenal Allah dengan usahanya sendiri. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, jelaslah bahwa keberadaan manusia jauh di bawah kebesaran dan kemuliaan Allah Sang Pencipta. Untuk itulah Allah menyatakan bahwa yang diperbuat-Nya adalah mutlak kedaulatan-Nya.

Tidak mudah bagi manusia, dengan telanjang mata memahami rencana Allah. Namun ketika Allah menyatakan bahwa semua yang dilakukan-Nya itu untuk kebaikan umat-Nya, seharusnya dengan mata iman umat mengerti bahwa itu adalah pernyataan kedaulatan-Nya. Yang diminta dari umat Kristen masa kini adalah percaya bahwa semua rancangan Allah yang agung dan mulia adalah untuk kebaikan dan keselamatan umat-Nya. Karena itu percaya dan serahkanlah diri utuh kepada Sang Khalik!

HIDUP TAK SELALU INDAH.
TAPI BIARKANLAH YANG INDAH ITU SELALU TETAP HIDUP.
SERAHKAN SEGALA KUATIRMU PADA-NYA.
NISCAYA TETAP INDAH HIDUPMU.



#Salam_WOW


NOTE:
Renungan ini bersumber dari buku saya dibawah ini.
Tidak di jual bebas. Sila pesan via WA/SMS: 0818 0888 2611