Jumat, 18 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Sabtu, 19 Agustus 2017 (1 Kor. 16:16-18)


HORMAT MENGHORMATI HARGA MENGHARGAI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Karena kita saling membutuhkan, maka saling menghargailah kita.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus memberikan beberapa petunjuk khusus bagaimana jemaat Korintus harus bersikap terhadap sebagian orang yang secara menonjol sudah melayani kepentingan Kristus di antara mereka. Ia menyebutkan Stefanus, Fortunatus, dan Akhaikus, sebagai orang yang datang kepadanya dari jemaat Korintus. Yang digambarkannya tentang mereka adalah bahwa mereka melengkapi kekurangan jemaat bagi dia, dan dengan demikian menyegarkan rohnya dan roh mereka (ay. 17-18). Mereka memberinya gambaran yang lebih sempurna tentang keadaan jemaat dengan perkataan mulut mereka daripada yang bisa diperolehnya melalui surat mereka, dan dengan demikian itu sangat menenangkan pikirannya, dan sekembalinya mereka dari dia, akan menenangkan pikiran jemaat di Korintus juga.

Kita berhutang hormat.

Ia menasihati supaya mereka menaati orang-orang yang demikian dan setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah (ay. 16). Ini jangan dipahami sebagai tunduk kepada atasan seperti dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebagai pengakuan secara sukarela akan berharganya orang-orang itu. Mereka secara khusus berutang hormat pada orang-orang ini, dan orang-orang itu harus mereka segani. Perhatikanlah, sungguh mulia sifat mereka yang melayani orang-orang kudus dan bekerja keras untuk membantu keberhasilan Injil, yang mendukung dan mendorong hamba-hamba Kristus yang setia, dan berusaha membuat mereka semakin berguna. Orang-orang seperti itu harus dihargai dan dihormati.
Paulus menyadari bahwa dirinya bukan rasul super. Ia tidak serba bisa, juga tidak akan hidup selamanya. Itu sebabnya ia perlu melatih dan memberi kesempatan bagi Timotius dan digembirakan oleh kedatangan Stefanus. Jika kita bertanya-tanya apa rahasia kebesaran Paulus, jawabnya ialah: ia menyadari kekecilan dirinya dan karena itu membuka diri untuk bekerja sama dengan banyak rekan pelayanan dan memberi diri untuk pelayanan bagi generasi muda.

Yang tua menghargai yang muda.

Pernahkah Anda merasakan bahwa apa yang dilayankan Gereja kurang memberikan kemampuan iman bagi warganya dalam menghadapi kenyataan hidup sehari-hari? Apabila pelayanan Gereja hanya bergantung pada bentuk verbal (khotbah) saja sekitar 30 menit pada hari Minggu, maka wajar bila jangkauan pelayanan Gereja menjadi sangat terbatas. Selain berkhotbah, Paulus juga mengunjungi jemaat-jemaat, hidup bersama mereka, mengenal mereka secara akrab. Tidak heran bila surat-suratnya terasa sangat kontekstual dan mengena.

Begitupun kita, dituntut juga rasa saling menghormati dalam pelayanan. Sesama pelayan hendaknya saling menghargai. Yang tua menghargai yang muda. Yang senior menghormati yang yunior.

Di balik setiap keberhasilan pelayanan selalu ada orang-orang yang lebih muda yang mendoakan, merintis, menindaklanjuti kerja-kerja pelayanan bersama.

SEBAGAI YANG LEBIH TUA, BERILAH KESEMPATAN SELUAS-LUASNYA KEPADA YANG LEBIH MUDA, DALAM PELAYANAN. ITULAH KESEJATIAN SALING MENGHARGAI DAN MENGHORMATI.

#Salam_WOW  
 

Pemesanan buku ini, hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)





Sabda Bina Diri - Minggu, 20 Agustus 2017 (Amos 1:1-8)



SIAPAPUN TAK MAMPU MENGHALANGI KUASA-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Soekarno berkata: “Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsanya hidup dalam damai dan persaudaraan”.

Amos menggambarkan kata mengaum (ay. 2) sebagai auman singa waktu melompati mangsanya. Ini menunjukkan akan segera berlangsungnya penghakiman; karena waktu sang gembala mendengar auman itu, ia tahu bahwa serangan telah terjadi, dan sudah terlambat untuk menyelamatkan domba. Kata itu merefleksikan latar belakang Amos, yang sebagai gembala telah terbiasa dengan kengerian lompatan singa, dan memakainya secara simbol untuk kedatangan penghakiman Tuhan Dari Sion dan dari Yerusalem. Bagi pemuja-pemuja sejati Tuhan, istilah-istilah ini menunjukkan pusat teokrasi serta pusat kehidupan bangsa. Keringlah padang-padang gembalaan. Ini kembali merefleksikan kehidupan Amos sebagai gembala. Layulah puncak gunung Karmel. Karmel berarti tanah kebun, yaitu tanah yang paling subur di negeri itu. Layunya Karmel menunjukkan betapa hebat musim kering yang akan datang itu.

Tuhan melawan penggunaan kekerasan.

Teks Amos hari ini mengungkapkan bahwa ada kuasa dan pemerintahan yang lebih tinggi, yang kekuatan dan kekuasaannya tidak dapat dilampaui oleh pemerintahan negara super power sekalipun. Bahkan bangsa-bangsa di seluruh dunia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan mereka, dan tunduk pada kuasa dan pemerintahan Allah. Hal itu telah Allah tetapkan (ay. 3, 6). Bila kedapatan ada bangsa yang melakukan perbuatan jahat, Allah tidak kompromi. Siapa pun tidak akan mampu menghalangi kehendak- Nya. Ungkapan "tiga bahkan empat perbuatan jahat" menunjuk bahwa Allah tidak bertindak semena-mena tetapi adil karena alasan yang benar. Kejahatan yang dibongkar Amos ini kebanyakan adalah kejahatan politik seperti dehumanisasi (menghilangkan harkat manusia), membantai dan meniadakan keberadaan bangsa, suku, atau penganut kepercayaan lain dengan kekerasan dan lain-lain (ay. 4-5, 7-8). Tuhan melawan penggunaan kekerasan seperti itu.

Firman Tuhan menjunjung tinggi sikap kasih persaudaraan. Juga rekonsiliasi. Kita perlu menyadari bahwa bangsa-bangsa di Timur Tengah hancur, karena tindakan dehumanisasi berkepanjangan. Beberapa hal penting dapat kita wujudkan apabila kita tidak ingin seperti mereka.. Kembalikan semangat kasih persaudaraan. Hapuslah segala bentuk dan sikap mengotak-kotakkan bangsa hanya karena doktrin atau SARA. Seluruh komponen bangsa harus secara bersama memperjuangkan dan menghargai kehidupan.

Menghukum nir kekerasan.

Dalam skala yang lebih kecil, kita sebagai orang percaya dan atau sebagai gereja, perlu juga memahami, kekerasan sering terjadi disekeliling kita. Sebagai Pendeta, Gembala, Pastor kita kadang melakukan kekerasan rohani kadang jasmani, terhadap majelis, pengerja atau Presbiter. Sebaliknya, kita yang majelis, pengerja, presbiter kadang melakukan hal itu kepada pengurus Pelkat. Bahkan pengurus Pelkat kepada anggotapun melakukan hal yang sama.

Ini cerita tentang seorang anak muda yang dihukum dengan tidak melalui cara kekerasan: ” Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan agenda yang lama tertunda, menserviskan mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita pulang." Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, "Kenapa kau terlambat?" Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne, sehingga saya menjawab, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu." Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.

Lalu ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik."

Lalu, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan yang bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu, saya tidak pernah akan berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai menghukum tanpa kekerasan?

Saya kira tidak. Jika Ayah menghukum saya secara fisik, mungkin setelah itu saya akan merasa kesakitan tetapi akan melakukan hal yang sama lagi di lain waktu.

Namun, dengan satu hukuman tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, saya selalu mengingatnya, seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan hukuman tanpa kekerasan”.


Renungkan ini, seperti Tuhan menuntut tanggung jawab kehidupan persaudaraan diantara bangsa-bangsa dengan melakukan rekonsiliasi, begitu jugalah Tuhan menuntut kepada kita dalam apapun jabatan gerejawi yang kita emban, untuk saling mempraktekkan kasih persaudaraan diantara kita dan anggota jemaat dimana kita melayani dan dilayani.  

TUHAN, AJARKU MENGHUKUM TANPA KEKERASAN, DAN DENGAN KASIH PERSAUDARAAN.

#Salam_WOW 


Note:
Pemesanan buku ini, 

dapat menghubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)



Kamis, 17 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 18 Agustus 2017 (1 Korintus 16:10-11)


BELAJAR MENERIMA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Sederhana dalam mengasihi, ikhlas menerima kekurangan hamba-Nya, dan setia dalam persekutuan.

Nampak dalam bacaan kita, Rasul Paulus mempercayakan Timotius kepada jemaat Korintus, dalam beberapa hal tertentu. Seperti, meminta mereka untuk mengusahakan supaya Timotius berada di tengah-tengah mereka tanpa takut (ay. 10). Timotius diutus oleh rasul Paulus untuk membenahi pelanggaran-pelanggaran yang sudah menyebar di antara mereka.

Rasul Paulus juga memperingatkan mereka supaya tidak merendahkan Timotius (ay. 11). Ia hanyalah seorang pemuda, dan sendirian, seperti yang diamati oleh Ekumenius. Ia tidak memiliki siapa-siapa untuk menopangnya, dan wajah serta umurnya yang masih muda tidak begitu membuat orang menaruh hormat.

Ada kemungkinan Timotius yang muda akan diperlakukan dengan kasar. Maka dari itu, Rasul Paulus memperingatkan mereka supaya tidak memperlakukan Timotius dengan buruk. Bukan berarti bahwa Timotius tidak siap menghadapi yang terburuk. Akan tetapi, betapapun teguh dan berhati-hatinya dia, sudah menjadi kewajiban merekalah untuk berlaku baik kepada dia, dan tidak membuat dia berkecil hati dan patah arang dalam pekerjaan Tuhan.

Hari-hari ini, kita baru saja melewati tahapan-tahapan pemilihan hamba Tuhan. Mungkin ada diantara mereka yang masih muda. Mungkin juga ada yang baru pertama kali menjadi hamba Tuhan. Terimalah mereka. Jangan tolak dan jangan bawa mereka dalam pencobaan. Hormatlah pada mereka. Jangan menganggap sepele mereka. Topang mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menopang mereka?

Tuhan mempercayakan hamba-hamba-Nya kepada kita, terimalah. Usahakan, mereka berada di tengah-tengah kita tanpa rasa takut.

ORANG BAIK MENCINTAI ORANG BAIK. HANYA ORANG JAHAT YANG MEMBENCI ORANG BAIK

#Salam_WOW 

Pemesana buku: 0819 3255 1765 (WA/SMS)

 

Rabu, 16 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Kamis, 17 Agustus 2017 (1Korintus 16:1-4)


BELAJAR BERBAGI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Persembahan adalah milik Tuhan, jangan bersikap salah terhadap milik Tuhan itu!

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus, memberikan petunjuk tentang pengumpulan derma yang akan dilakukan dalam jemaat Korintus ini untuk dibagikan kepada jemaat-jemaat yang menderita dan miskin di Yudea. Mengawali petunjuknya, Rasul Paulus mengatakan, bukan pelayanan khusus yang dituntutnya dari mereka. Ia sudah memberikan petunjuk-petunjuk serupa kepada Jemaat-jemaat di Galatia (ay. 1). Ia hanya ingin supaya mereka mengikuti aturan-aturan yang sama yang sudah diberikannya kepada jemaat-jemaat lain dalam kesempatan serupa.

Cara pengumpulan uang itu harus dilakukan: Hendaklah masing-masing menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah (ay. 2). Simpanlah harta, atau uang, untuk keperluan ini. Maksudnya, ia harus menyisihkan apa yang bisa ditabungnya dari waktu ke waktu, dan dengan cara itu jumlah yang terkumpul bisa diberikan untuk tujuan amal ini. Rasul Paulus menawarkan diri untuk pergi dengan utusan-utusan mereka, jika mereka menganggapnya pantas (ay. 4). Yang menjadi pekerjaannya, sebagai seorang rasul, bukanlah melayani meja, tetapi memberi diri untuk mengajar firman dan berdoa.

Jangan salahgunakan persembahan umat.

Gereja lahir karena kasih Allah dalam Kristus. Kasih ilahi itu harus terpancar sebagai ciri utama Gereja Tuhan. Bila kasih antar kekasih, sahabat, atau keluarga dirasa kuat untuk diungkapkan, lebih lagi kasih ilahi. Kasih itu sedemikian kuat dan konkrit sehingga jemaat purba rela berbagi harta yang mereka terima dari Tuhan. Mereka berbuat demikian karena sadar, sudah selayaknyalah sesama milik Kristus saling meringankan beban.

Perlu pengaturan yang baik. Apa kecenderungan sikap dan tindakan kita dalam memberikan persembahan? Apakah kita sering asal-asalan? Kadang kita dengar berbagai penyalahgunaan persembahan. Untuk membina jemaat memberikan persembahan yang baik, Berikan sebagian harta yang telah dikaruniakan Tuhan sebagai persembahan secara teratur setiap Minggu. Peruntukkan persembahan itu bagi kepentingan kehidupan jemaat Tuhan. Jangan untuk dan disalahgunakan bagi keperluan lain yang jahat.

TUHAN, AJARKU MEMBERI PERSEMBAHAN DENGAN BENAR DAN SUNGGUH HATI.

#Salam_WOW 

Note:
Buku saya ini tidak dijual bebas. 
Hanya pesan kepada saya dan dikirim via Pos Giro.

Pemesanan hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)



 

Selasa, 15 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Selasa, 15 Agustus 2017 (I Korintus 13:1-8)

PENGETAHUAN AKAN LENYAP KASIH TINGGAL TETAP
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap tapi Kasih tak berkesudahan.

Kasihlah yang terutama.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus menunjukkan jalan lebih utama yang ia maksudkan atau yang ada dalam pandangannya, sebagaimana telah ia katakan di bagian penutup pasal sebelumnya. Jalan yang dimaksud adalah kasih. Bukan kasih yang biasa kita gunakan dan yang dipahami oleh sebagian besar orang sebagai pemberian amal sedekah, melainkan kasih dalam arti sepenuhnya dan yang paling luas, kasih yang sejati terhadap Tuhan dan sesama manusia, kebaikan hati terhadap sesama saudara Kristen, yang tumbuh dari ibadah yang tulus dan sungguh kepada Tuhan.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (ay. 1).
Kita dihidupkan oleh kasih Kristus.

Di balik setiap tindakan yang manusia lakukan, pasti ada motivasi. Tentu saja masing-masing orang bertindak dengan motivasi yang berbeda-beda. Namun, dalam kehidupan kekristenan, setiap tindakan orang harus didasari oleh motivasi yang sama, yaitu kasih.

Mengapa? Paulus menjelaskan bahwa dalam kehidupan orang Kristen kasih bukan sekadar identitas atau ciri kekristenan tetapi jiwa dan jati diri Kristen dan kekristenan. Dengan demikian, kasih adalah sesuatu yang mutlak ada dalam kehidupan orang Kristen. Penjelasan Paulus tidak berhenti sampai di situ.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa semua karunia yang orang Kristen miliki, tidak berarti apa-apa jika tidak didasari oleh kasih. Paulus memberikan suatu pengajaran yang sangat keras kepada orang Kristen karena menyangkut keberadaan mereka sebagai milik Kristus, dan hidup di dalam Kristus.

Karena itu, walau kepandaian berbicara, mengajar, hikmat dan pengetahuan kita miliki dalam pelayanan kita, jika tidak disertai kasih hanya akan menciptakan kegaduhan, dan membuat kita tidak berharga.

Nas ini hendak memberikan pelajaran penting untuk kita, orang-orang Kristen masa kini, yaitu bahwa kita adalah orang yang dihidupkan oleh Kristus dan bagi Kristus. Karena itu kitalah orang-orang yang akan memiliki dan menyatakan kasih Kristus itu dalam segala aspek kehidupan kita. Lakukan dan landasilah segala aktivitas hidup kekristenan kita dengan kasih yang dari Kristus asalnya.

KASIH BUKAN UNTUK DISIMPAN DAN DIRASAKAN SENDIRI, TAPI UNTUK DIBAGI KE SEMUA ORANG.
 
#Salam_WOW

Pemesanan buku, hubungi: 0819 3255 1765

 

Sabda Bina Diri - Rabu, 16 Agustus 2017 (1Korintus 13:13)

KASIH TAK PERNAH MENYERAH TAK PERNAH GAGAL
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jika kita mengasihi sampai luka, maka tak akan ada lagi luka, hanya kasih.

Kasih adalah kebahagiaan jiwa.

Dalam Nas kita ini, Paulus meringkaskan keunggulan kasih. Tidak hanya lebih menginginkannya melebihi karunia-karunia itu, tetapi juga melebihi anugerah-anugerah lain, yaitu iman dan pengharapan Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang besar di antaranya ialah kasih. Anugerah yang sejati jauh lebih unggul dari pada karunia-karunia rohani apa pun. Iman, pengharapan, dan kasih merupakan tiga karunia yang utama, dan kasih adalah yang paling utama. Kasih merupakan tujuan, dan dua anugerah yang lain itu hanyalah sarananya. Kasih merupakan kodrat ilahi, kebahagiaan dari jiwa, atau perhentian jiwa di dalam Allah yang penuh damai, dan kesukaan kudus dari semua orang kudus-Nya.

Dan kasih itu akan berlangsung terus selamanya, ketika iman dan pengharapan sudah tidak diperlukan lagi. Iman terpusat pada pewahyuan ilahi dan mengaminkannya, sedangkan pengharapan berpegangan pada kebahagiaan di masa yang akan datang dan menanti-nantikannya. Kemudian di dalam sorga iman akan melebur di dalam penglihatan, sedangkan pengharapan di dalam kenyataan. Ketika kita sudah melihat dan menikmati segala sesuatu itu, kita tidak perlu percaya dan berharap lagi. Tetapi kasih akan tetap ada di dalam kesempurnaan Allah sendiri, sementara gambar Allah ada pada ciptaan-Nya dan hubungan timbal balik antara Allah dan ciptaan-Nya itu.

Sombong yang salah kaprah.

Salah kaprah tentang pengertian karunia dalam hidup orang-orang percaya hari ini, masih seringkali terjadi. Ada yang beranggapan bahwa karunia itu sifatnya kekal. Anggapan ini cenderung membuat orang yang diberikan karunia khusus menjadi sombong.

Padahal, karunia adalah pemberian Roh Kudus yang berfungsi untuk memperlengkapi dan menunjang pelayanan, supaya anak-anak Tuhan dapat melayani lebih efektif dan efisien. Itu sebabnya karunia diberikan kepada orang tertentu untuk tugas tertentu. Bila tugas tertentu sudah selesai, maka karunia pun ditarik kembali. Tidak demikian dengan kasih. Kasih adalah karakter yang ditanamkan, dan harus ditumbuhkan, karena itu kasih harus menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup anak-anak Tuhan.

Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua. Archibald melihatnya sendiri pada dua temannya yang sudah lanjut usia.
Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Satu ketika Archibald melihat Barbara membungkuk ke ranjang Claude, menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." Claude menjawab, "Engkau cantik."

Archibald merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan ia sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman Archibald di tahun-tahun terakhir mereka.

Archibald telah menyaksikan Claude dan Barbara selama bertahun-tahun, dan Archibald tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada Archibald bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita.

KASIH ADALAH HAKIKAT KEKAL ALLAH. KARENANYA, KASIH KRISTUS HARUS MENJADI CIRI HIDUP KITA, DAN KASIH KRISTUS INILAH YANG HARUS SELALU DIUTAMAKAN DALAM SELURUH EKSISTENSI HIDUP DAN PELAYANAN KITA. 
 
#Salam_WOW
 
Pemesanan buku, hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)