Rabu, 06 September 2017

Sabda Bina Diri – Jumat, 8 September (Hakim-Hakim 15:14-20)

INISIATOR
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pelayan yang baik adalah Inisiator yang baik penyelesai masalah, bukan pembuat masalah.

Inisiatif Simson.

Bacaan kita menjelaskan, setelah Simson sampai ke Lehi dan orang-orang Filistin mendatangi dia dengan bersorak-sorak (ay. 14), para utusan Yehuda tersebut membawa tawanan mereka ke sana, dan orang-orang Filistin bersukacita melihat penyerang mereka dibawa dalam keadaan terikat. Pada saat musuh-musuh Simson itu bersukaria atas kemenangan mereka, berkuasalah Roh Tuhan atas Simson sehingga dia dapat memutus tali yang mengikat dirinya. Bagi Simson tali-tali tersebut bagaikan tali rami yang sudah hangus sehingga sangat rapuh. Kemudian Simson menemui sebuah tulang rahang keledai, dipungutnya dan dipukulnya mati seribu orang dengan tulang itu (ay. 15). Setelahnya, Simson melemparkan tulang rahang itu dari tangannya dan menamai tempat itu Ramat Lehi. Inilah inisiatif Simson.

Selanjutnya, setelah lelah membunuh seribu orang Filistin, Simson menjadi haus (ay. 18) dan Simson merasa bahwa keadaannya yang melemah akan membuat dirinya mudah menjadi bulan-bulanan orang Filistin yang pasti berusaha untuk membalas dendam kematian rekan-rekan sebangsanya. Di dalam keadaan putus asa Simson berseru kepada Tuhan. Kemudian Allah membelah liang batu dan keluarlah air dari situ (ay. 19). Di tempat tersebut Allah membuat air mengalir keluar sebagai sarana untuk memuaskan dahaga Simson. Lalu Simson menamai mata air itu Mata Air Penyeru. Inilah inisiatf Simson.

Mantap hati tak takut mengambil prakarsa.

Dikekinian pelayanan kita, hendaknyalah kita menjadi inisiator pemecah masalah. Jangan jadi Inisiator pembuat masalah. Bacaan kita menerangkan bahwa Simson disamping kuat, berani dan perkasa,dia juga penuh dengan inisiatif. Simson mengambil inisiatif menamai tempat dimana dia membunuh seribu orang Flistin dengan nama RAMAT LEHI dan mata air tempat ia minum dengan nama MATA AIR PENYERU.

Seperti Simson, seorang pelayan hendaknya berani mengambil inisiatif. Seorang pelayan yang berani mengambil inisiatif mantap hatinya, tidak takut mengambil prakarsa. Dalam mengambil sebuah keputusan memiliki rasa percaya diri dan tidak tanggung-tanggung. pelayan harus tidak gentar dalam mengajukan usulan sekaligus mengambil peran secara aktif. Gagah dan tidak takut dalam mendahului mengambil prakarsa atas sebuah penyelesaian masalah.

MASALAH YANG KITA ALAMI DALAM PELAYANAN ADALAH KESEMPATAN BAGI TUHAN MENEMUKAN INISIATOR PENYELESAI MASALAH, DAN TUHAN MENEMUKAN SAUDARA. JADILAH INISIATOR PENYELESAI MASALAH, JANGAN INISIATOR PEMBUAT MASALAH.

#Salam_WOW
 
NOTE:
Saya mengadakan kelas BAIS I & II (BELAJAR ALKITAB 1 SEMESTER), tanpa biaya.
Ada kelas tatap muka (Cibubur-Jatibening-Tanjung Priok) dan ada kelas online (by: email).
Kelas dimulai pada 25 September 2017.
Sila daftarkan diri saudara ke 081932551765 (WA/SMS)
 
 

Sabda Bina Diri – Kamis, 7 September (Hakim-Hakim 14:1-7)

TEGAR TEGAS
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Pemimpin yang baik adalah pelayan yang baik.

Cinta itu kuat.

Bacaan kita dimulai dengan: “Simson pergi ke Timna (ay. 1). Timna terletak sekitar tiga mil di sebelah barat daya Bet-Semes, di perbatasan wilayah Yehuda. Pada saat itu rupanya wilayah tersebut diduduki oleh orang Filistin, sebab Simson berketetapan untuk menikahi seorang gadis Filistin yang dijumpainya di Timna Ay. 2). Manoah, ayag Simson, terusik dengan keinginan putranya untuk menikahi seorang gadis Filistin, namun Simson tegas bersikukuh bahwa dirinya ingin menikahi gadis itu. Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai (ay. 3), Simson berkata tegar tegas.

Kemudian daripada itu, bacaan kita menjelaskan bahwa: Hal itu daripada Tuhan asalnya. Manoah, tidak bisa melihat sebelumnya bahwa keinginan putra mereka untuk menikahi seorang perempuan dari Filistin yang tidak bersunat justru akan menghasilkan hancurnya banyak musuh Israel. Kata-kata, memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin (ay. 4), bisa mengacu kepada Allah atau Simson. Mengingat sifat teologis dari pernyataan sebelumnya, tampaknya paling tepat kalau ini dipahami sebagai pernyataan bahwa Allah, melalui keinginan Simson untuk menikah, sedang berusaha untuk mengalahkan orang Filistin.

Pemimpin tegas.

Simson jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita yang membuatnya jatuh cinta itu adalah seorang Filistin. Bahwa "hal itu daripada Tuhan asalnya, sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin". Peristiwa ini menjelaskan ciri khas Simson yang lebih digerakkan oleh KETEGASAN selaku seorang pemimpin.

Seperti Simson yang tegas, kitapun selaku pemimpin di rumah tangga, jemaat, tempat kerja, bahkan di pemerintahan maupun masyarakat haruslah TEGAS. Seorang Pemimpin Harus Jelas Dan Tegas. Memiliki penilaian yang baik atas berbagai persoalan dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang terbaik pada waktu yang tepat. Seorang pemimpin harus terang, nyata dan gamblang dalam memimpin. Tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Tegar tegas.

Seorang pemimpin yang jelas dan tegas tidak bimbang memilih sebuah keputusan yang harus diambil. Dalam pada itu, seorang pemimpin tidak boleh samar-samar tapi harus terang benderang dan pasti dalam bertindak dan memimpin.

Pemimpin tidak boleh kaku dan ngotot dengan segala sesuatu yang membuatnya tidak berfungsi. Tapi, mampu memimpin dengan tegas untuk memahami realitas yang muncul, lalu dengan segala sifat baik yang penuh empati, mau bersikap terbuka untuk melihat kepentingan yang lebih besar.

PEMIMPIN SEJATI AKAN BERLAKU JUJUR. HATI, TANGAN, DAN MULUTNYA BICARA DENGAN BAHASA YANG SAMA.

#Salam_WOW

Selasa, 05 September 2017

Sabda Bina Diri - Senin, 4 September (Hakim-Hakim 11:34-40)


BERNAZAR: JANGAN TERGESA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Banyak orang berpikir bahwa Nazar adalah cara yang terbaik untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Tetapi dalam banyak kejadian Nazar seringkali berbalik menjadi “kutuk” bagi orang yang bernazar.

 “Tak mengenal” pria.

Pada bacaan kita, khususnya ayat 34, tertulis: “Tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia”. Mungkin Yefta mengharapkan seorang budak yang keluar pertama kali. Ingatan akan nazarnya dan kenyataan bahwa putrinya sendiri yang keluar mengubah sukacita atas kemenangan menjadi dukacita seorang ayah yang akan kehilangan anak tunggalnya. Bagi Yefta nazar itu harus dipenuhi, dan hal itu memang dilakukan olehnya (ay. 35). Di Israel mempersembahkan manusia dilarang keras, tetapi Yefta selama ini tinggal di wilayah pinggiran di mana ide-ide kafir berlaku.

Dalam pada itu, Putri Yefta bersedia memenuhi nazar ayahnya tanpa takut. Dia hanya meminta waktu dua· bulan (ay. 37) untuk menangisi kegadisan(nya) bersama teman-temannya. Dia memandang kematiannya sesaat lagi sebagai tragedi ganda: bukan hanya bahwa dirinya akan menjadi kurban bakaran yang dipersembahkan, tetapi juga bahwa dia harus mati sebagai seorang perawan karena belum menikah. Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu (ay. 39). Sesudah dua bulan berlalu, Yefta menepati nazarnya. Sekalipun sejumlah penafsir berpendapat bahwa keperawanan kekalnya itulah yang merupakan penggenapan dari nazar tersebut, nas tampaknya secara tidak meragukan menegaskan bahwa putri Yefta mati di tangan ayahnya.

Jangan tergesa.

Yefta bertindak konsekuen. Yefta bersikap konsekuen terhadap Allah. Dalam keadaan yang sangat mengharukan dan memilukan, ia tega bersikap ksatria. Ia membayar nazarnya. Jelas ada hal yang sulit kita pahami dalam peristiwa ini dalam konteks kita sekarang. Terutama dalam terang bahwa Allah menolak pengorbanan manusia dari manusia. Mungkinkah nazar Yefta itu harus kita anggap gegabah? Paling tidak sikap Yefta yang konsekuen yang patut kita kagumi.

Roh Tuhan menjadikan perkasa. Inilah yang diperlukan setiap pahlawan iman. Roh itu menyebabkan orang gagah berani, berserah kepada Tuhan, bahkan berani bernazar kepada-Nya. Keperkasaan rohani menyebabkan orang jadi perkasa jasmani. Di medan perang, dalam usaha, dalam pelayanan, dalam perjuangan rohani, terutama dalam peperangan rohani masa kini kita perlu kuasa dari Roh Tuhan. Bukankah kita ingin berkemenangan?

Jangan tergesa mengucap janji atau nazar. Allah menginginkan hati yang terbuka pada kehendak-Nya bukan yang meluap-luap oleh semangat diri sendiri. Mereka yang telah dirubah Tuhan, memiliki kepribadian yang berpendirian dan sifat istimewa. Menjadi ciptaan baru!

YANG LEBIH BAIK DARI PADA NAZAR ADALAH BERTOBAT. MENJADI ORANG YANG DIBENARKAN.

#Salam_WOW

Sabda Bina Diri - Selasa, 5 September (Hakim-Hakim 12:8-15)


SUKSESI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Berebut untuk menjadi pelayan-Nya. Meski tak mampu melayani. Tak ada ilmu melayani. Yang penting tenar menjadi pelayan-Nya. Tapi IA telah memanggil dan mengutusmu. Jangan lari dari tanggungjawab presbiterialmu.

Suksesi Israel.

Ini bacaan tentang Suksesi. “Sesudah Yefta, maka Ebzan dari Betlehem memerintah sebagai hakim atas orang Israel (ay. 8). Hanya tiga hal yang dikatakan tentang Ebzan ini, yaitu: tempat kelahirannya, tempat dia dikubur dan besar keluarganya. Mungkin yang dimaksudkan adalah Betlehem di Yehuda. Sesudah Ebzan, maka Elon orang Zebulon memerintah sebagai hakim atas orang Israel (ay. 11). Yang dapat diketahui dari hakim ini hanyalah nama, tempat kelahiran, tempat penguburan dan masa tugasnya sebagai hakim.

Selanjutnya, pada ayat 13, tertulis: “Sesudah dia, maka Abdon bin Hilel”. Abdon disebut sebagai orang Piraton, penduduk Piraton yang terletak di wilayah Efraim, mungkin sama dengan Fer'ata, sekitar enam mil di sebelah barat daya Sikhem. Abdon dikenal mempunyai empat puluh orang putra dan tiga puluh orang cucu laki-laki yang mengendarai tujuh puluh ekor keledai.

Suksesi kekinian.

Tidak disebutkan dalam bacaan apakah ada persoalan yang dihadapi oleh Yefta sehubungan dengan suksesi atau pergantian penguasa. Tidak ada ribut-ribut! Apakah kelebihan Yefta dibandingkan dengan para penerusnya? Mungkinkah Yefta menunjukkan kepemimpinan rohani lebih dari lainnya? Pada waktu kepemimpinan hakim-hakim Ebzan, Elan, Abdon  tidak ada catatan mengenai kekacauan, pemberontakan atau kerusuhan. Mungkinkah para pengganti ini diberkati oleh kehidupan rohani Yefta, hamba Allah itu? Semoga.

Kita hari-hari belakangan ini baru saja menyelesaikan perhelatan suksesi majelis jemaat periode 2012-2017. Telah terpilih dan telah dibina, bahkan, Majelis Jemaat periode 2017-2022. Kalau suksesi Israel adalah peralihan kekuasaan dari satu Hakim kepada Hakim lain, maka suksesi kekinian adalah peralihan pelayanan dari satu periode kemajelisan ke periode berikut dengan susunan personalia yang berbeda. Bacaan kita mengajarkan untuk tidak selalu ribut dan bertengkar apabila bersuksesi. Sukacita dan penuh damai sejahteralah suksesi yang kita jalani. Jangan ada dusta diantara kita.

SATU KEBIJAKAN KEPEMIMPINAN TERTENTU TAK SELALU AKAN COCOK BAGI SEGALA KEADAAN.

#Salam_WOW

SAAT TEDUH - Rabu, 6 September (Hakim-Hakim 13:8-24)

DIKENAN DIPAKAI-NYA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jangan sesali sesuatu yg telah berakhir, meskipun itu baik. Tanpa akhir tak akan pernah ada awal baru yg mungkin lebih baik. Awal yang baik adalah ketika engkau dipakai oleh Tuhan untuk melayani.

Nama malaikat tak terucapkan.

Sesudah pendahuluan umum yang melukiskan kehidupan sepanjang masa para Hakim, kepada kita disajikan serangkaian episode khusus. Setiap episode mengisahkan kemurtadan Israel dengan penghajaran oleh Allah sebagai akibatnya. Bacaan kita salah satunya.

Ketika Manoah diberi tahu mengenai kunjungan malaikat tersebut oleh istrinya (ay. 8), dia menginginkan pengarahan selanjutnya mengenai cara mempersiapkan kelahiran anak yang dijanjikan tersebut. Selanjutnya ayat 15 tertulis: “Perkenankanlah kami menahan Engkau di sini, supaya kami mengolah anak kambing bagi-Mu. Malaikat itu muncul kembali kepada istri Manoah yang kini mencari suaminya sehingga pasangan itu bersama-sama mendengarkan pengarahan yang pada dasarnya sama mengenai cara memelihara sang anak. Manoah berusaha menahan si orang asing itu untuk menunjukkan kepadanya keramahan yang sepatutnya.

Sementara pada ayat 16, Malaikat itu mengatakan kepada Manoah bahwa diri-Nya tidak akan memakan hidangan yang disediakan dan bahwa kurban bakaran harus dipersembahkan kepada Tuhan. Disamping itu, Malaikat itu mengatakan bahwa namanya tidak terucapkan (ay. 18), di luar kemampuan manusia untuk mendengar dan memahaminya. Sesudah itu Manoah mengambil seekor anak kambing dan kurban sajian, lalu dipersembahkannya kepada Tuhan di atas batu (ay. 19). Lalu diperbuat-Nya keajaiban. Sebuah kurban bakaran dan kurban sajian dipersembahkan kepada Tuhan. Manoah dan istrinya menyaksikan Malaikat itu melakukan keajaiban. Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah malaikat Tuhan dalam nyala api mezbah itu (ay. 20). Ketika asap pembakaran kurban naik ke langit, Malaikat itu rupanya naik bersama dengan asap tersebut hingga Manoah dan istrinya tidak bisa melihat-Nya lagi.

Dikhususkan agar layak dipakai-Nya.

Andaikata Tuhan tidak peduli, lengah atau pasif seperti berhala yang mati, habislah riwayat Israel. Empat puluh tahun lamanya mereka ditindas bangsa Filistin. Tetapi Tuhan Allah hidup dan mengendalikan sejarah. Ia sendiri yang menghajar mereka lewat orang Filistin. Ia setia kepada perjanjian-Nya. Lebih ajaib lagi, Ia memberkati istri Manoah yang mandul hingga mengandung bayi yang kelak akan menjadi hakim yang akan dipakai-Nya untuk melepaskan Israel dari orang Filistin.

Bertanya kepada Tuhan. Hati, pikiran, perasaan manusia tak sanggup memahami rencana Allah. Wajar bila mulanya Manoah kurang percaya akan kabar dari istrinya. Tepat pula bila Manoah memohon untuk berjumpa Tuhan dan meminta petunjuk tentang cara mendidik putranya itu kelak. Ketika Malaikat Tuhan itu menolak untuk makan dan tidak memberitahukan Nama-Nya yang kudus, jelas bahwa yang berbicara itu bukan makhluk tetapi Tuhan sendiri. Manoah dan istrinya harus menerima dengan iman yang taat semua petunjuk dan rencana-Nya.

Karenanya, akui ketidaktahuan kita dan bertanyalah kepada Tuhan. Bukankah Ia sumber hikmat? Berdoa dan memohonlah pada-Nya: Tuhan Tolong aku agar dikhususkan diriku agar aku layak Kau pakai untuk tujuan muliaMu.

KETIKA KITA TELAH MENCOBA SEGALANYA, KITA TELAH LAKUKAN SEMAMPU KITA, TAPI TAK JUGA BISA, SERAHKANLAH PADA TUHAN. BERDOALAH!

#Salam_WOW

Sabtu, 02 September 2017

Sabda Bina Diri - Minggu, 3 September (Hakim-Hakim 11:1-11)

FROM ZERO TO HERO
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Di tengah dunia yang berubah ini, kita punya Tuhan yang tak berubah. Andalkan kuasa-Nya.

Pahlawan gagah perkasa.

Nas yang kita baca sangat jelas menggambarkan kata-kata: “Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa” (ay. 1), yang melukiskan Yefta sebagai seorang pejuang besar. Sekalipun demikian, Yefta adalah anak seorang perempuan sundal, sehingga Yefta memperoleh kedudukan yang rendah di dalam keluarganya. Mereka mengusir Yefta. Putra-putra Gilead yang sah menyebut Yefta anak dari perempuan lain, dan mereka berusaha mencabut hak warisnya (ay. 2). Maka larilah Yefta dan diam di tanah Tob (ay. 3).

Dalam pada itu, pada ayat 8, tertulis, “Engkau akan menjadi kepala atas kami, atas seluruh penduduk Gilead”. Para utusan tersebut tidak menanggapi keluhan Yefta, tetapi mereka bersedia memberikan kuasa mutlak atas seluruh Gilead kepadanya apabila dia mau menolong mereka mengatasi kesulitan itu. Mereka telah salah menempatkan Yefta sebagai pesakitan. Ternyata kemudian, Yefta dipulihkan menjadi pimpinan atas mereka. ‘From Zero To Hero’. Dari pesakitan menjadi pahlawan.

Tuhan mengubah Yefta dari pesakitan, perampok, petualang, menjadi pahlawan gagah perkasa. Tuhan mengubah dia, yang semula disepelekan, dilucuti hak-hak nya menjadi tumpuan pengharapan yang bergengsi dan disegani. Pribadi itu bahkan menjadi ahli strategi perang, perunding terampil yang berwawasan luas dan penuh pertimbangan. Lagipula ia membawa seluruh perkaranya, ini yang hebat, ke hadapan Tuhan (ay. 10-11). Tuhan yang sama dapat mengubah kita, saya, dan saudara dari yang bukan siapa-siapa, menjadi hebat dalam hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksian kita.

Kejahatan dalam pelayanan.

Mengapa ketika malaikat melintasi Yerusalem, pusat kegiatan keagamaan di Israel, Ia tidak pergi ke Herodium, vila Herodes yang ada di dekat Betlehem? Ia justru menampakkan diri kepada para gembala yang sedang menjaga kawanan ternak mereka?

Padahal, para gembala waktu itu terkenal sebagai orang-orang yang tidak religius. Oleh para rabi mereka disejajarkan dengan pelacur dan "kaum pendosa" lainnya. Mereka adalah sampah masyarakat yang dikucilkan oleh rohaniwan dan masyarakat yang terhormat. Namun, ternyata, Tuhan berbicara kepada mereka. Sebenarnya para gembala, orang-orang dari struktur masyarakat terendah ini, diam-diam merindukan Allah. Meskipun, tampaknya, mereka seperti kebanyakan orang yang tak peduli terhadap hal-hal rohani. From Zero To Hero.

Dikekinian pelayanan kita, kadang kita melakukan kejahatan yang sama sebangun dengan saudara-saudara Yefta dan penduduk Gilead. Menyingkirkan orang-orang yang hebat karena kita tidak suka dia hebat. Orang-orang yang baik dalam pelayanan kita singkirkan karena mengancam pelayanan kita. Atas nama peraturan organisasi, kadang kita menyepelekan dan menempatkan seseorang sebagai pesakitan dalam pelayanan. Pada gilirannya, orang baik tersebut kita buang.

Renungkanlah ini: “Jangan lakukan kejahatan dalam pelayanan. Ketahuilah, Tuhan akan membuat orang yang kita sepelekan dan kita buang itu sebagai pelayan yang hebat yang patuh dan dengar-dengaran pada-Nya. Tuhan dapat melakukan apa saja. IA dapat menjadikan seorang pelayan yang disepelekan menjadi pelayan yang terberkati. From Zero To Hero”.

DENGAN KEDAULATAN-NYA,TUHAN MAMPU MENGUBAH PERSEKUTUAN, PELAYANAN, DAN KESAKSIAN GEREJA MENJADI HEBAT. IJINKAN IA MENGUBAH KITA.

#Salam_WOW
 
 

Jumat, 01 September 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 1 September (Yosua 9:16-27)

JANGAN ALPA BERTANYA PADA TUHAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Ketika kita diuji kesulitan, banyak yang lulus. Namun ketika diuji dengan kemudahan, kita cenderung jadi alpa sehingga sedikit sekali yang lulus.

Israel alpa.

Nas kita menjelaskan, tiga hari kemudian, ketika orang Israel secara tidak sengaja mendengar bahwa orang-orang yang telah mengikat perjanjian dengan mereka itu sebenarnya tinggal di dekat situ, merekapun bergerak maju untuk berhadapan dengan para penipu tersebut. Di samping kota Gibeon, kota-kota mereka ialah Kefira, Beerot dan Kiryat-Yearim. Beerot hanya terletak 3 mil di sebelah barat Ai sehingga bisa dilihat oleh orang Israel pada saat mereka melewati Betel. Karena perjanjian tersebut diresmikan di dalam nama Allah yang kudus maka sifatnya adalah kudus; oleh karena itu para pemimpin Israel tidak berani melanggar sumpah perjanjian mereka yang akan mendatangkan murka Allah atas diri mereka. Allah pernah menghukum Israel pada zaman Daud arena Saul mengabaikan sumpah ini.

Alasan pengambilan keputusan oleh para pemimpin untuk musuh tetap hidup (ay. 21), Karena Yosua memanggil mereka. Israel tetap membiarkan Bangsa Gibeon hidup walau tidak menepati janjinya (ay. 16). Tetapi mereka akan dikutuk menjadi hamba seumur hidupnya (ay. 23).

Kita sulit memilah.

Penduduk Gibeon yang takut ditumpas habis oleh Israel menggunakan akal mereka untuk menyelamatkan diri. Dengan cerdik dan licik menampilkan diri begitu lusuh seolah dari perjalanan jauh, mereka datang pada Yosua dan bangsa Israel. Mereka menawarkan hal yang seolah amat baik: janji persahabatan dan sumpah tidak akan menumpas seorang pun dari bangsa Gibeon. Yosua dan para pemimpin Israel terkecoh. Tanpa waspada dan bertanya kepada Tuhan, mereka mengikat janji persahabatan dengan bangsa Gibeon.

Begitupun kita hari ini, sebagian besar kita tidak sulit menolak sesuatu yang jelas-jelas jahat. Kesulitan memilah mana yang berkenan atau tidak bagi Tuhan justru muncul di antara pilihan yang tampak baik semuanya. Akibatnya, banyak dari kita berprinsip, apa pun yang baik boleh diterima atau dikerjakan. Bahkan sering kita melakukannya tanpa merasa perlu bertanya kepada Tuhan dengan dalih menggunakan akal budi yang Tuhan berikan. Akibatnya kita sering terjebak tidak lagi melayani Tuhan. Kita terjerat aneka kebaikan semu yang disuguhkan si jahat dan tidak mengerjakan apa yang justru terbaik yang dikehendaki Tuhan.

JANGAN PERNAH ALPA BERTANYA KEPADA TUHAN DALAM SETIAP KEPUTUSAN HIDUP PERSEKUTUAN, PELAYANAN DAN KESAKSIAN KITA, SEREMEH APA PUN TAMPAKNYA!
 
#Salam_WOW (Pkh. 12:10)

Sabda Bina Diri - Sabtu, 2 September (Yosua 10:1-43)


JANGAN BERPANGKU TANGAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jangan biarkan hidup kita terpuruk dalam kesusahan, karena berpangku tangan. Berusahalah, walau hanya sedikit. Karena bila, dilakukan dengan sabar dan tekun, maka kesusahan akan menjadi kebahagiaan.

Dimusnahkan tidak diduduki.

Bacaan kita gamblang menggambarkan cara Yosua berperang. Tampaknya berupa serangkaian serangan kilat kepada kota-kota penting di Kanaan, dengan tujuan melumpuhkan kemampuan bertempur dari penduduknya, tidak selalu berarti kota tersebut diduduki. Ketika raja dari Gezer dan pasukannya dikalahkan (ay. 33) Yosua tidak menduduki kota tersebut. Pada akhir dari setiap pertempuran, Yosua kembali dengan seluruh pasukannya ke markas besar di Gilgal (ay. 43) tanpa meninggalkan pasukan. Artinya, serangan-serangan Yosua bisa disebut, sebagai "perang yang menghancurkan dan memusnahkan, bukan pendudukan dengan ditempati langsung".

Karena Yosua tidak meluangkan waktu yang cukup untuk mengembangkan sebuah taktik pengepungan di setiap kota (ay. 31-35), tampaknya Yosua mungkin tidak berusaha untuk menggempur tembok-tembok kota dan pasti juga tidak benteng-benteng di dalam kota itu. Oleh karena itu Yosua pastilah lebih mengarahkan perhatian pada kota-kota merdeka di sekitarnya (ay. 37-39) dan daerah pemukiman dari setiap kota utama yang ada di dalam atau di luar perbentengan. Untuk memperoleh kesempatan membunuh raja dan pasukannya, Yosua pastilah mengandalkan serangan mendadak seperti di Ai; atau dia mungkin berharap bahwa kekalahan perang dan hilangnya semangat juang mereka sebelumnya membuat perlawanan mereka tidak berarti.

Merayakan penyertaan-Nya.

Tak terbantahkan, bahwa setiap kemenangan atas peperangan yang dirayakan Israel dan Yosua terjadi karena penyertaan Tuhan yang ajaib dan dahsyat. Tuhan berperang bersama dan bagi mereka. Tindakan Tuhan menahan matahari dan bulan memiliki akibat ganda (ay. 13-14). Bagi para musuh, mental mereka menjadi lemah, tawar hati, bahkan hancur. Sebaliknya Yosua dan prajurit Israel makin bersemangat menuntaskan peperangan itu hingga semua musuh musnah.

Nas kita menunjukkan sikap responsif Yosua dan Israel. Mereka tidak berpangku tangan menyaksikan kedahsyatan Tuhan menghancurkan musuh melainkan mengambil bagian dalam karya Tuhan itu, dengan tidak kenal lelah. Bacaan kita ini mencatat, Yosua dan pasukan Israel maju terus mengejar dan memusnahkan musuh. Mereka menaklukkan satu demi satu wilayah selatan Kanaan sampai seluruhnya menjadi milik Israel (ay. 40-43).

Tidak ada yang mustahil jika Tuhan di pihak kita. Ancaman musuh, penganiayaan dari orang yang membenci kita, bahkan upaya pemusnahan gereja tidak perlu menghambat pelayanan Tuhan melalui gereja-Nya. Tidak ada kesulitan yang terlalu besar, yang dapat menghalangi kemenangan iman. Karena Dia berperang bersama dan bagi kita. Namun, kita tidak boleh bersikap pasif seakan-akan itu bukan peperangan kita. Justru dengan komando Tuhan kita bukan bertahan, melainkan maju dan menuntaskan Misio Dei, menyaksikan Kristus kepada dunia ini.

JANGAN JADIKAN JANJI PEMELIHARAAN TUHAN SEBAGAI ALASAN UNTUK BERPANGKU TANGAN, KARENA MASIH BANYAK LADANG PELAYANAN YANG PERLU DIGARAP DAN DITUAI!

#Salam_WOW