Kamis, 17 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 18 Agustus 2017 (1 Korintus 16:10-11)


BELAJAR MENERIMA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Sederhana dalam mengasihi, ikhlas menerima kekurangan hamba-Nya, dan setia dalam persekutuan.

Nampak dalam bacaan kita, Rasul Paulus mempercayakan Timotius kepada jemaat Korintus, dalam beberapa hal tertentu. Seperti, meminta mereka untuk mengusahakan supaya Timotius berada di tengah-tengah mereka tanpa takut (ay. 10). Timotius diutus oleh rasul Paulus untuk membenahi pelanggaran-pelanggaran yang sudah menyebar di antara mereka.

Rasul Paulus juga memperingatkan mereka supaya tidak merendahkan Timotius (ay. 11). Ia hanyalah seorang pemuda, dan sendirian, seperti yang diamati oleh Ekumenius. Ia tidak memiliki siapa-siapa untuk menopangnya, dan wajah serta umurnya yang masih muda tidak begitu membuat orang menaruh hormat.

Ada kemungkinan Timotius yang muda akan diperlakukan dengan kasar. Maka dari itu, Rasul Paulus memperingatkan mereka supaya tidak memperlakukan Timotius dengan buruk. Bukan berarti bahwa Timotius tidak siap menghadapi yang terburuk. Akan tetapi, betapapun teguh dan berhati-hatinya dia, sudah menjadi kewajiban merekalah untuk berlaku baik kepada dia, dan tidak membuat dia berkecil hati dan patah arang dalam pekerjaan Tuhan.

Hari-hari ini, kita baru saja melewati tahapan-tahapan pemilihan hamba Tuhan. Mungkin ada diantara mereka yang masih muda. Mungkin juga ada yang baru pertama kali menjadi hamba Tuhan. Terimalah mereka. Jangan tolak dan jangan bawa mereka dalam pencobaan. Hormatlah pada mereka. Jangan menganggap sepele mereka. Topang mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menopang mereka?

Tuhan mempercayakan hamba-hamba-Nya kepada kita, terimalah. Usahakan, mereka berada di tengah-tengah kita tanpa rasa takut.

ORANG BAIK MENCINTAI ORANG BAIK. HANYA ORANG JAHAT YANG MEMBENCI ORANG BAIK

#Salam_WOW 

Pemesana buku: 0819 3255 1765 (WA/SMS)

 

Rabu, 16 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Kamis, 17 Agustus 2017 (1Korintus 16:1-4)


BELAJAR BERBAGI
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Persembahan adalah milik Tuhan, jangan bersikap salah terhadap milik Tuhan itu!

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus, memberikan petunjuk tentang pengumpulan derma yang akan dilakukan dalam jemaat Korintus ini untuk dibagikan kepada jemaat-jemaat yang menderita dan miskin di Yudea. Mengawali petunjuknya, Rasul Paulus mengatakan, bukan pelayanan khusus yang dituntutnya dari mereka. Ia sudah memberikan petunjuk-petunjuk serupa kepada Jemaat-jemaat di Galatia (ay. 1). Ia hanya ingin supaya mereka mengikuti aturan-aturan yang sama yang sudah diberikannya kepada jemaat-jemaat lain dalam kesempatan serupa.

Cara pengumpulan uang itu harus dilakukan: Hendaklah masing-masing menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah (ay. 2). Simpanlah harta, atau uang, untuk keperluan ini. Maksudnya, ia harus menyisihkan apa yang bisa ditabungnya dari waktu ke waktu, dan dengan cara itu jumlah yang terkumpul bisa diberikan untuk tujuan amal ini. Rasul Paulus menawarkan diri untuk pergi dengan utusan-utusan mereka, jika mereka menganggapnya pantas (ay. 4). Yang menjadi pekerjaannya, sebagai seorang rasul, bukanlah melayani meja, tetapi memberi diri untuk mengajar firman dan berdoa.

Jangan salahgunakan persembahan umat.

Gereja lahir karena kasih Allah dalam Kristus. Kasih ilahi itu harus terpancar sebagai ciri utama Gereja Tuhan. Bila kasih antar kekasih, sahabat, atau keluarga dirasa kuat untuk diungkapkan, lebih lagi kasih ilahi. Kasih itu sedemikian kuat dan konkrit sehingga jemaat purba rela berbagi harta yang mereka terima dari Tuhan. Mereka berbuat demikian karena sadar, sudah selayaknyalah sesama milik Kristus saling meringankan beban.

Perlu pengaturan yang baik. Apa kecenderungan sikap dan tindakan kita dalam memberikan persembahan? Apakah kita sering asal-asalan? Kadang kita dengar berbagai penyalahgunaan persembahan. Untuk membina jemaat memberikan persembahan yang baik, Berikan sebagian harta yang telah dikaruniakan Tuhan sebagai persembahan secara teratur setiap Minggu. Peruntukkan persembahan itu bagi kepentingan kehidupan jemaat Tuhan. Jangan untuk dan disalahgunakan bagi keperluan lain yang jahat.

TUHAN, AJARKU MEMBERI PERSEMBAHAN DENGAN BENAR DAN SUNGGUH HATI.

#Salam_WOW 

Note:
Buku saya ini tidak dijual bebas. 
Hanya pesan kepada saya dan dikirim via Pos Giro.

Pemesanan hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)



 

Selasa, 15 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Selasa, 15 Agustus 2017 (I Korintus 13:1-8)

PENGETAHUAN AKAN LENYAP KASIH TINGGAL TETAP
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap tapi Kasih tak berkesudahan.

Kasihlah yang terutama.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus menunjukkan jalan lebih utama yang ia maksudkan atau yang ada dalam pandangannya, sebagaimana telah ia katakan di bagian penutup pasal sebelumnya. Jalan yang dimaksud adalah kasih. Bukan kasih yang biasa kita gunakan dan yang dipahami oleh sebagian besar orang sebagai pemberian amal sedekah, melainkan kasih dalam arti sepenuhnya dan yang paling luas, kasih yang sejati terhadap Tuhan dan sesama manusia, kebaikan hati terhadap sesama saudara Kristen, yang tumbuh dari ibadah yang tulus dan sungguh kepada Tuhan.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (ay. 1).
Kita dihidupkan oleh kasih Kristus.

Di balik setiap tindakan yang manusia lakukan, pasti ada motivasi. Tentu saja masing-masing orang bertindak dengan motivasi yang berbeda-beda. Namun, dalam kehidupan kekristenan, setiap tindakan orang harus didasari oleh motivasi yang sama, yaitu kasih.

Mengapa? Paulus menjelaskan bahwa dalam kehidupan orang Kristen kasih bukan sekadar identitas atau ciri kekristenan tetapi jiwa dan jati diri Kristen dan kekristenan. Dengan demikian, kasih adalah sesuatu yang mutlak ada dalam kehidupan orang Kristen. Penjelasan Paulus tidak berhenti sampai di situ.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa semua karunia yang orang Kristen miliki, tidak berarti apa-apa jika tidak didasari oleh kasih. Paulus memberikan suatu pengajaran yang sangat keras kepada orang Kristen karena menyangkut keberadaan mereka sebagai milik Kristus, dan hidup di dalam Kristus.

Karena itu, walau kepandaian berbicara, mengajar, hikmat dan pengetahuan kita miliki dalam pelayanan kita, jika tidak disertai kasih hanya akan menciptakan kegaduhan, dan membuat kita tidak berharga.

Nas ini hendak memberikan pelajaran penting untuk kita, orang-orang Kristen masa kini, yaitu bahwa kita adalah orang yang dihidupkan oleh Kristus dan bagi Kristus. Karena itu kitalah orang-orang yang akan memiliki dan menyatakan kasih Kristus itu dalam segala aspek kehidupan kita. Lakukan dan landasilah segala aktivitas hidup kekristenan kita dengan kasih yang dari Kristus asalnya.

KASIH BUKAN UNTUK DISIMPAN DAN DIRASAKAN SENDIRI, TAPI UNTUK DIBAGI KE SEMUA ORANG.
 
#Salam_WOW

Pemesanan buku, hubungi: 0819 3255 1765

 

Sabda Bina Diri - Rabu, 16 Agustus 2017 (1Korintus 13:13)

KASIH TAK PERNAH MENYERAH TAK PERNAH GAGAL
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Jika kita mengasihi sampai luka, maka tak akan ada lagi luka, hanya kasih.

Kasih adalah kebahagiaan jiwa.

Dalam Nas kita ini, Paulus meringkaskan keunggulan kasih. Tidak hanya lebih menginginkannya melebihi karunia-karunia itu, tetapi juga melebihi anugerah-anugerah lain, yaitu iman dan pengharapan Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang besar di antaranya ialah kasih. Anugerah yang sejati jauh lebih unggul dari pada karunia-karunia rohani apa pun. Iman, pengharapan, dan kasih merupakan tiga karunia yang utama, dan kasih adalah yang paling utama. Kasih merupakan tujuan, dan dua anugerah yang lain itu hanyalah sarananya. Kasih merupakan kodrat ilahi, kebahagiaan dari jiwa, atau perhentian jiwa di dalam Allah yang penuh damai, dan kesukaan kudus dari semua orang kudus-Nya.

Dan kasih itu akan berlangsung terus selamanya, ketika iman dan pengharapan sudah tidak diperlukan lagi. Iman terpusat pada pewahyuan ilahi dan mengaminkannya, sedangkan pengharapan berpegangan pada kebahagiaan di masa yang akan datang dan menanti-nantikannya. Kemudian di dalam sorga iman akan melebur di dalam penglihatan, sedangkan pengharapan di dalam kenyataan. Ketika kita sudah melihat dan menikmati segala sesuatu itu, kita tidak perlu percaya dan berharap lagi. Tetapi kasih akan tetap ada di dalam kesempurnaan Allah sendiri, sementara gambar Allah ada pada ciptaan-Nya dan hubungan timbal balik antara Allah dan ciptaan-Nya itu.

Sombong yang salah kaprah.

Salah kaprah tentang pengertian karunia dalam hidup orang-orang percaya hari ini, masih seringkali terjadi. Ada yang beranggapan bahwa karunia itu sifatnya kekal. Anggapan ini cenderung membuat orang yang diberikan karunia khusus menjadi sombong.

Padahal, karunia adalah pemberian Roh Kudus yang berfungsi untuk memperlengkapi dan menunjang pelayanan, supaya anak-anak Tuhan dapat melayani lebih efektif dan efisien. Itu sebabnya karunia diberikan kepada orang tertentu untuk tugas tertentu. Bila tugas tertentu sudah selesai, maka karunia pun ditarik kembali. Tidak demikian dengan kasih. Kasih adalah karakter yang ditanamkan, dan harus ditumbuhkan, karena itu kasih harus menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup anak-anak Tuhan.

Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua. Archibald melihatnya sendiri pada dua temannya yang sudah lanjut usia.
Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Satu ketika Archibald melihat Barbara membungkuk ke ranjang Claude, menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." Claude menjawab, "Engkau cantik."

Archibald merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan ia sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman Archibald di tahun-tahun terakhir mereka.

Archibald telah menyaksikan Claude dan Barbara selama bertahun-tahun, dan Archibald tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada Archibald bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita.

KASIH ADALAH HAKIKAT KEKAL ALLAH. KARENANYA, KASIH KRISTUS HARUS MENJADI CIRI HIDUP KITA, DAN KASIH KRISTUS INILAH YANG HARUS SELALU DIUTAMAKAN DALAM SELURUH EKSISTENSI HIDUP DAN PELAYANAN KITA. 
 
#Salam_WOW
 
Pemesanan buku, hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)
 
 

Minggu, 13 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Senin, 14 Agustus 2017 (I Korintus 11:17-24)

IBADAH YANG BENAR TAK MEMALUKAN
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Mereka yang rajin beribadah akan selalu mendapatkan hatinya hidup dalam kedamaian. Ibadah adalah segala hal yang membawa pada kebaikan.

Korintus tak mendapat pujian.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus menegur jemaat Korintus dengan keras. Ia memulai kecamannya: “Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu (ay. 17). Pertemuan-pertemuan mereka tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Paulus berkata kepada mereka bahwa, apabila sedang berkumpul bersama-sama, mereka jatuh ke dalam perpecahan. Bukannya sehati sepikiran merayakan upacara ibadah itu, mereka justru bertengkar satu dengan yang lain.

Paulus mengecam mereka bukan hanya atas perselisihan dan perpecahan, melainkan juga atas kekacauan yang memalukan: Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk (ay. 21). Yang mereka perbuat itu sama saja dengan menghina rumah Allah, atau Jemaat (ay. 22). Kalau mereka berniat ingin berpesta, mereka bisa saja melakukannya di rumah sendiri. Tetapi datang ke meja Tuhan, kemudian membentuk kelompok sendiri dan bertengkar, dan menjauhkan orang miskin sehingga tidak kebagian makanan.

Memalukan…

Dua hal dapat dipetik disini: Pertama, kita tidak bersekutu ketika berkumpul, sebab ada perpecahan di antara kita. Kedua, kita memperlakukan Perjamuan Tuhan dengan tidak hormat. Seperti orang rakus dan galojo, kita makan seperti orang kelaparan dan minum sampai mabuk. Memalukan! Tentu saja Paulus tidak memuji hal tersebut. Orang yang berbuat demikian menghina Allah dan tidak peka akan orang yang berkekurangan.

Aturan dalam perjamuan, makan dan minum adalah kebutuhan manusia yang wajar. Manusia harus makan dan minum supaya bisa hidup dengan baik. Tetapi dalam pertemuan ibadah di mana juga dirayakan perjamuan Tuhan, adalah salah besar apabila orang makan dan minum dengan sepuas-puasnya. Perjamuan harus diterima dengan sikap hormat, memeriksa diri, sambil mengingat pokok-pokok iman yang dilambangkannya. Dan diatas semuanya itu, janganlah bertengkar.

Bila kita tidak menghormati Tuhan dalam hidup ibadah kita, Tuhan akan bertindak atas kita supaya kemuliaan-Nya tetap dijunjung tinggi.

TUHAN, TOLONG KAMI UNTUK DAPAT BERIBADAH DENGAN BENAR.
 
#Salam_WOW

Pemesanan Buku, Hubungi 0819 3255 1765 (WA/SMS)

 

Jumat, 11 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Minggu, 13 Agustus 2017 (I Korintus 11:2-12)


SINAR MULIA YANG SETARA
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.

Laki-laki menyinarkan kemuliaan Tuhan, perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.

Dalam bacaan kita, Paulus mengecam perempuan yang berdoa atau bernubuat tanpa tudung kepala, atau laki-laki yang melakukan keduanya dengan tudung kepala (ay. 4-5). Paulus tegas berkata, Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki (ay. 8). Laki-laki diciptakan pertama-tama, dan dijadikan sebagai kepala atas makhluk ciptaan di dunia . Bahwa laki-laki menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Ia wakil dari kekuasaan dan kepemimpinan Allah yang mulia atas seluruh dunia. Laki-lakilah yang ditetapkan sebagai kepala makhluk ciptaan di dunia bawah ini, dan dalam hal itu ia serupa dengan Allah. Sebaliknya, perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki (ay. 7).

Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Mereka diciptakan untuk satu sama lain. Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, dan karena itu diciptakanlah perempuan, dan diciptakan untuk laki-laki. Laki-laki dimaksudkan sebagai penghibur, penolong, dan pembela perempuan, meskipun ia tidak secara langsung diciptakan untuk perempuan demi keperluan-keperluan itu. Mereka diciptakan untuk saling menghibur dan memberkati, bukan yang satu menjadi budak dan yang lain menjadi tuan lalim. Keduanya menjadi satu daging, ini supaya bangsa manusia beranak cucu. Mereka adalah alat bagi satu sama lain untuk memberi keturunan bagi satu sama lain. Ketika perempuan pertama-tama dibentuk dari laki-laki, maka sejak itu pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan (ay. 12), dan semuanya oleh hikmat dan kuasa dari Sang Penyebab Utama yang menetapkannya demikian.

Kesetaraan…

Tidak ada perbedaan dan tidak ada kesamaan kedudukan dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada perbedaan kedudukan ketika kita berada pada posisi sebagai hamba-Nya dan tidak ada kesamaan kedudukan ketika berkaitan dengan ketaatan kita sebagai hamba terhadap Tuhan. Ini berlaku untuk kita semua, baik laki-laki maupun perempuan.

Perempuan adalah pantulan sinar kemuliaan laki-laki, dan laki-laki merefleksikan sinar kemuliaan Tuhan. Artinya, Perempuan adalah refleksi sinar kemuliaan Tuhan melalui laki-laki. Jagalah kehormatan itu. Perempuan maupun laki-laki. Kita adalah sinar kemuliaan Tuhan.

Pada novel karangan G.K. Chesterton yang berjudul The Man Who Was Thursday, seorang polisi agen rahasia menyelundup ke dalam kelompok pemberontak yang ingin mengacaukan dunia. Ia diselimuti ketakutan yang luar biasa, sampai akhirnya ia menemukan seorang sekutu di dalam kelompok itu.

Chesterton menuliskan perasaan sang polisi ketika menemukan seorang teman: “Dalam semua pencobaan ini, akar ketakutannya adalah kesendirian. Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan betapa besarnya perbedaan antara sendirian dan memiliki seorang teman. Para ahli matematika mengatakan bahwa empat orang adalah dua orang ditambah dua orang. Namun bila kita mendapatkan seorang teman, kita bukan sekadar dua orang yang bersatu, melainkan bagaikan kesatuan dua ribu orang.” Itulah kesatuan Laki-laki dengan perempuan.

Ketika Daud dikejar-kejar oleh Raja Saul yang cemburu dan kehilangan akal sehat, ia memiliki seorang teman yang mau mengambil risiko besar untuk mendampinginya. Yonatan, putra tunggal Saul, menyatakan kesetiaannya kepada Daud dan memberitahukan niat sang ayah untuk membunuhnya. Lalu, saat Saul mengejar Daud ke padang gurun, “bersiaplah Yonatan ... lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah”.

Betapa indahnya hadiah yang kita berikan saat kita dengan setia mendampingi seorang teman yang membutuhkan dukungan! Ada semangat dan kekuatan yang luar biasa saat dua orang (laki-laki dan perempuan) bersatu di dalam hidup ini. Tangan siapa yang dapat kita kuatkan hari ini dengan menjadi teman baginya?

PASANGAN HIDUP SEJATI MENOLONG KITA UNTUK TETAP MAJU SAAT KITA HENDAK MENYERAH.

#Salam_WOW 

Pemesanan Buku Hubungi: 0819 3255 1765 (WA/SMS)




Sabda Bina Diri - Sabtu, 12 Agustus 2017 (Hosea 10:9-15)


MENABUR PERBUATAN BAIK
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Berbuat baiklah. Karena kebaikan adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta, maka hati akan selalu tentram teduh bila kita selalu berbuat baik

Israel menabur kejahatan.

Hosea memaparkan, Israel disamakan dengan anak lembu yang amat terlatih yang suka mengirik gandum atau biji-bijian lain. Tidak ada kuk berat yang diletakkan pada tengkuknya yang elok (ay. 11). Hosea tetap mengulurkan harapan bagi bangsanya: Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan (ay. 12). Sekitainya saja mereka mau berpaling kepada Allah, mereka akan mendapati Allah berbelas kasihan. Jika mereka ingin menuai panen, Israel harus membuka tanah baru. Ia tidak dapat menabur di antara duri-duri dan mengharapkan tuaian yang baik. Hosea mengingatkan Israel bahwa masih ada waktu untuk mencari TUHAN.

Bacaan kita, mengajarkan prinsip ini kepada umat Israel. Waktu itu mereka tidak mau berserah kepada Allah. Umat Israel justru menabur kejahatan dan mengandalkan diri sendiri. Kini mereka memakan buah kebohongan, terutama kebohongan bahwa keselamatan dan keberhasilan berasal dari kekuatan militer mereka sendiri. Hosea mendesak bangsa Israel untuk mengikuti jalan Allah, menggemburkan hati mereka yang keras karena dosa dan "mencari Tuhan". Jika mereka menabur benih kebenaran, maka mereka akan memetik belas kasih Allah dan Dia akan mencurahkan hujan berkat ke atas mereka.

Jangan andalkan kekuatan sendiri.

Apakah Kita tidak mau membuka hati bagi Allah serta firman-Nya? Apakah Kita lebih mengandalkan diri sendiri daripada Allah? Jika demikian, kini saat yang tepat bagi Kita untuk mencari Tuhan dengan pertobatan yang jujur, menabur perbuatan dan sikap yang baik, serta setia mengikuti jalan-Nya. Yang terutama, bersandarlah pada kuasa-Nya dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Hidup Kita akan berbuah lebat.

Tanah yang belum dipupuk tidak baik untuk menumbuhkan tanaman. Namun, ketika kita menanam benih yang baik pada tanah yang dipupuk dengan baik, matahari dan hujan akan memelihara pertumbuhan sampai saat panen tiba.

Tanah yang disiapkan dengan baik, benih yang baik, dan berkat Allah sangatlah penting untuk memperoleh panen melimpah. Itu tidak hanya berlaku dalam berkebun, tetapi juga dalam hidup kekristenan kita.

BUNGA ATAU ILALANG YANG TUMBUH ESOK ADALAH BENIH YANG KITA TABUR HARI INI.

#Salam_WOW





Pemesanan Buku, Hubungi 0819 3255 1765 (WA/SMS)

Kamis, 10 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Jumat, 11 Agustus 2017 (Hosea 9:10-17)

BELAS KASIHAN-NYA MELAMPAUI SEGALA AKAL
Oleh: Reinhard Samah Kansil


Senyum adalah tanda kasih. Berkat akan mengalir ketempat yang banyak senyumnya. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin itulah orang orang yang beruntung. Mereka adalah orang-orang yang banyak tersenyum. Karenanya, mengasihilah, maka engkau akan tersenyum.

Israel, kau bukan yang dulu lagi.

Dalam bacaan ini dengan lugas Hosea mengingatkan kembali sejarah awal Israel. Allah mendapati umat-Nya seperti buah-buah anggur di padang gurun (ay. 10). Meskipun pernah menghasilkan banyak buah, kemuliaan Efraim akan segera terbang seperti burung. Akibat hilangnya “kemuliaan” ini, disebutkan: Tiada yang melahirkan, yang hamil dan yang mengandung (ay. 11). Seandainya ada anak-anak yang dibesarkan, Aku akan membuat mereka bulus (ay. 12). Telah ditentukan, Israel akan menyerahkan anak-anaknya kepada si pembunuh (ay. 13). Tuhan menghukum Israel (ay. 14-16) dengan ditentukannya mereka untuk mengembara (ay. 17).

Israel telah berubah, tidak seperti yang dulu lagi. Ketika itu Israel masih suci dan bersih, menjadi kesayangan dan kesukaan Allah. Mengapa Israel bisa berubah? Karena mereka telah berkhianat dengan menyembah Baal-peor. Mereka telah berkali-kali menajiskan diri dengan ilah lain, dan diulangi kembali di nas ini. Hal ini menyebabkan Allah kembali harus menghukum Israel. Dan ini menyedihkan hati Allah ketika Ia menimpakan hukuman-Nya kepada umat-Nya. Kedudukan Israel tidak lagi mulia dan anak-anak mereka tidak lagi diberkati. Kejahatan mereka sendirilah yang membuat Allah tidak mungkin mengampuni mereka lagi. Israel bukan hanya dihajar dan diserahkan ke tangan musuh, melainkan Allah sendiri akan membuang mereka. Beratnya hukuman Allah ini menyiratkan Allah sudah patah arang dengan mereka. Semua ini menyatakan betapa sakit hati-Nya Allah dikhianati oleh kekasih-kekasih-Nya sendiri.

AKU tak kan mengasihi mereka.

Kasih Allah tidak terbatas, dan tidak pernah berubah walaupun anak-anak-Nya sering mengecewakan-Nya. Kita meyakini hal tersebut sebagai kebenaran karena firman Tuhan menyatakannya. Ini dibuktikan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, demi keselamatan kita. Akan tetapi, kalau sampai Allah berkata dalam kepedihan hati, “Aku tidak akan mengasihi mereka lagi!”, itu berarti kedurhakaan umat-Nya sungguh-sungguh keterlaluan.

Tapi…

Kasih dan pengampunan Tuhan lebih besar dari sakit hati-Nya akibat pengkhianatan kita. Nyatakan syukur kita tidak saja melalui bibir tetapi terutama melalui perilaku.

Buah anggur tidak pernah tumbuh di padang gurun. Artinya, menemukan anggur di tempat yang gersang itu sungguh suatu berkat yang luar biasa. Syukur kepada Tuhan, belas kasihan dan kasih-Nya jauh melampaui rasa sakit hati-Nya terhadap umat-Nya. Penghukuman Allah yang begitu dahsyat tidak pernah dimaksudkan untuk memusnahkan umat-Nya. Karenanya, bersyukurlah. Bersyukur saat bersukacita dan tetap bersyukur saat kesedihan menghampiri. Dengan bersyukur apapun yang kita jalani dalam pelayanan kita, akan bermakna.

HIDUP YANG MENCERMINKAN KASIH KRISTUS AKAN MEMBUAT KITA RENDAH HATI DAN MENGASIHI ORANG LAIN SEBAB KASIH TUMBUH DAN BERBUAH DI MANA DIA DITANAM.
 
#Salam_WOW

Pemesanan Buku 
Hub: 0819 3255 1765 (WA/SMS)



Senin, 07 Agustus 2017

Sabda Bina Diri - Rabu, 9 Agustus 2017 (Hosea 8:7-14)

MEZBAH PELAYANAN NAN DEGIL
Oleh: Reinhard Samah Kansil

Panggilan dan pengutusan Tuhan bukan selalu menjadi Pendeta, Penatua, Diaken, Misionaris atau pekerja gereja fulltime.Tapi untuk membantu dan MELAYANI sesama. Setiap kita sedang MELAYANI, berarti kita sedang memenuhi panggilanNYA.

Mezbah pelayanan didirikan justru untuk berbuat dosa.

Nubuat Hosea ini (Ay. 8-10) diucapkan sesudah pembuangan yang menyusul perang Israel-Siria dengan kerajaan Yahuda. Ayat 9, menyinggung upeti yang dibayar kepada raja Asyur, dan barangkali juga hadiah-hadiah yang dikirim ke raja Mesir. Meskipun Israel telah berusaha untuk membeli pertolongan dari bangsa-bangsa kafir, Tuhan akan mengumpulkan mereka -yakni bangsa Israel- dan mengirimkan mereka ke pembuangan (ay. 10). Tuhan akan berhenti mengurapi. Mereka akan menjadi amat miskin karena beban yang dipikulkan kepada mereka.

Israel hanya melaksanakan upacara-upacara agama. Mereka telah memperbanyak mezbah (ay. 11), tetapi pelipatgandaan kurban-kurbannya adalah kekejian bagi Tuhan. Hosea mengatakan bahwa mezbah-mezbah itu menjadikan mereka berdosa. Artinya Mezbah pelayanan justru untuk berbuat dosa. Mezbah-mezbah itu didirikan untuk melawan Tuhan dan menjadi sarana untuk berbuat dosa lebih jauh.

Hosea menegaskan bahwa kurban-kurban itu hanyalah ritual agama semata (ay. 13). Mezbah pelayanan mereka tidak ada kebaikan rohaninya. Karena kemunduran rohani bangsa Israel itulah, Hosea menubuatkan, `Mereka harus kembali ke Mesir,' yaitu ke tempat pembuangan. Hosea mengatakan bahwa Israel akan menderita perbudakan pada masa mendatang sama seperti yang pernah mereka alami di Mesir (ay. 14). Hosea menuduh Israel melupakan Tuhan, justru karena mezbah pelayanannya. Israel telah mengalami pembusukan rohani. Mezbah pelayanan mereka Kotor. Degil.

Bagaimana kekinian pelayanan kita?

Dalam pelayanan, ‘menghasikan’ adalah kata kunci dari kerja keras. ‘Melipatgandakan’ adalah kata kunci dari kerja cerdas. ‘Memenangkan’ adalah kata kunci dari kerja tulus. Seperti ada tertulis: Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya. Lihatlah, apabila pelayanan kita tidak dengan kerja keras, cerdas dan tulus maka patut dipertanyakan, apakah pelayanan kita hanya ritual saja atau sedang mengalami pembusukan rohani? Atau justru menambah dosa?

Perhatikanlah, apakah pelayanan kita dirikan justru untuk melawan Tuhan. Bagaimana tidak berdosa, apabila pelayanan kita penuh dengan konflik, kemarahan dan iri dengki? Periksa juga, apakah mezbah pelayanan yang kita bangun mendatangkan damai sejahtera bagi orang lain, atau bahkan bagi diri kita sendiri? Apabila tidak, maka mezbah pelayanan kita adalah sarana untuk kita berbuat dosa, justru.

Ini cerita tentang seorang wartawan perang: Pada tahun 2003, Michael Weiskopf, wartawan majalah TIME, berangkat ke Irak. Bersama tentara Amerika Serikat, ia meliput suasana perang dari dalam tank baja. Tak dinyana, sebuah granat dilemparkan ke dalam tank itu dan meledak! Weiskopf pun kehilangan tangan kanannya. Ketika kembali pada keluarganya, ia merenung: "Mengapa aku mau diutus ke medan perang hingga cacat begini?" Akhirnya, ia menemukan jawabnya: ambisi. Weiskopf ingin menaikkan pamornya supaya dikenal sebagai jurnalis terhebat. Kini ia menyesal.

Ambisi adalah keinginan membara untuk sukses atau mencapai sesuatu yang lebih. Tak salah bila manusia berambisi. Bahkan, untuk memajukan pelayanan di gereja dibutuhkan pemimpin yang berambisi. Masalahnya, ke mana ambisi itu diarahkan?

Dalam pelayanan, tidak salah kita memiliki ambisi, tetapi mesti hati-hati, sebab ambisi itu bagaikan api. Bisa menghangatkan, tetapi bisa juga menghanguskan. Ambisi egois menghasilkan pertengkaran, sebaliknya ambisi yang kudus mempersatukan. Sudah benarkah arah ambisi Kita? Adakah Kita mencari hal-hal yang besar bagi Tuhan, atau bagi diri sendiri?

Arahkan ambisi pelayananmu.

MARI MELAYANI, MEMBERI, MEMBANTU DAN BERBUAT BAIK PADA SEMUA ORANG, TANPA SYARAT DAN TANPA KENAL WAKTU. ITULAH MEZBAH PELAYANANMU YANG SEJATI.

#Salam_WOW

NOTE:
Tak terasa, sudah hampir dua bulan saya menulis renungan tanpa henti. Saya menulis semua renungan ini, bersumber dari buku-buku penjelasan 66 Kitab PL/PB karangan saya, yang saya tulis menjadi #25 seri/buku. Baru saja terbit seri #17 s/d seri #25. Sebaiknya saudara memilikinya.
Hubungi: WA/SMS 0819 3255 1765

BUKU ADALAH GUDANG ILMU, JENDELA DUNIA.MEMBACA ADALAH KUNCINYA.